INI BERMULA dari pertanyaan Setyaningsih (penulis buku Bermula Buku, Berakhir Telepon, 2016) dalam acara bedah buku Berkini Tiara Hati karya mahasiswa Indonesia-Thailand Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), di Balai Soedjatmoko, Solo (3/2) lalu. Yang tak urung memancingku untuk menimbang keyakinan atas beberapa hal yang akan kujelaskan nantinya.

 

 

Kala itu ia bertanya, “apa beda puisi dengan esai?” Aji Ramadhan, penyair sekaligus pembicara dalam acara tersebut  lalu menjawab, “tidak ada bedanya. Menulis itu tergantung niatnya”. Namun, Erma Royani (salah satu penulis buku Berkini Tiara Hati) saat itu bilang bahwa antara puisi dan esai terdapat suatu beda. Meski begitu, jujur saja aku sepakat dengan Aji Ramadhan. Ya, mungkin secara kasar memang  jelas bedanya. Jelas sekali malah. Karena struktur puisi dan esai memang berbeda. Oleh karenanya, sudah jelas pula bentuknya berbeda. Lalu mengapa ada dua jawaban bahwa puisi dan esai itu sama, sekaligus puisi dan esai itu berbeda? Bagiku, itu hanya karena soal cara pandang.

 

 

Sudah lama aku meyakinkan diri, bahwa sastra adalah “cara”. Sastra ialah salah satu cara di antara sekian ribu cara manusia dalam mengapresiasi suatu hal. Misalnya saja, pengarang boleh mengapresiasi kemarahannya dengan menulis puisi. Masyarakat maya boleh mengapresiasi kemarahannya dengan klik emotikon ekspresi marah atau mungkin mengetikkan status berisi marah-marah. Intinya sama-sama marah, tetapi caranya yang berbeda.

 

 

Itulah cara pandangku dalam memandang sastra. Otomatis, di mataku, puisi, cerpen, atau novel lebih kupandang sebagai cara penulis mengapresiasi suatu hal. Sama saja antara menulis atau bertani. Sama-sama sebagai bentuk cara mengapresiasi kehidupan. Apakah benar-benar sama? Sama. Yang beda adalah esensinya—atau niatnya, kalau kata Aji Ramadhan.

 

 

 

Ihwal Kitsh

Cara pandang dalam mengukur isi/makna biasanya disesuaikan dengan prinsip dan ukuran keakuan diri. Ukuran isi adalah sesuatu yang abstrak. Ukuran moralitas. Ukuran kebaikan dan keburukan. Padahal, baik dan buruk di mata manusia, akhirnya berada pada relativitas. Rendah tingginya suatu karya seni juga relatif.  Bicara tentang cara pandang, aku masih ingat perbedaan pendapatku dengan kakakku tentang kitsch. Kitsch berdasarkan uraian Yasraf Amir Piliang (Semiotika dan Hipersemiotika, 2012) berakar dari bahasa Jerman. Verkitschen (membuat murah) dan kitschen, yang berarti secara harfiah “memungut sampah dari jalan”. Oleh karenanya, kata Yasraf, kitsch sering ditafsirkan sebagai sampah artistik, atau selera rendah (bad taste). Dalam pengertian yang picik, kitsch diasumsikan sebagai seni rendahan. Soal kata “rendahan” inilah mula perbedaan pendapatku dengan kakakku.

 

 

Masalah kitsch ini bermula dari perbedaan seleraku dan kakakku tentang musik. Aku mendengarkan lagu-lagu dangdut koplo. Jenis lagu ini menurut kakakku masuk dalam kriteria kitsch. Rendahan. Terang saja, aku tidak sepakat.

 

 

Caraku memandang lagu akhirnya sama dengan caraku memandang sastra. Sastra hanya soal cara. Cara mengapresiasi suatu hal. Dan, lagu, dalam bentuk apapun itu, apakah genre dangdut koplo, campursari, rock, country, folk, pop, dan lainnya, juga hanya soal ragam bentuk cara apresiasi. Tidak bisa serta merta mengatakan dangdut koplo itu rendahan, sedangkan jazz itu agung nan tinggi. Jazz maupun dangdut hanya soal kemasan. Rendah atau tidak itu tergantung isi. Kitsch atau tidak juga tergantung isi. Soal isi inilah yang merupakan persoalan yang agak egois.

 

Mari simak lirik Kesandung Masa Lalu, NDX a.k.a Familia, berikut ini.

Wis lilakna aku kangmas wis cukup lalikna

Tresna iki ora bakal bisa tak baleni kanthi siji

Aku kesandung masa lalu, nalikane aku lan sliramu

Ning karanganyar iki kowe mblenjani janji

Apa ora eling biyen kowe karo aku

Ngukir tresna sak gedene gunung Lawu

Separo raga iki mung kanggo awakmu

Cerita iki bakal tak kenang ning masa lalu

 

 

Ukuranku dalam memandang lagu ini ialah pada kejujurannya. Selama bagiku lagu itu jujur, maka semua baik-baik saja. Tak ada bedanya ia dengan lagu Bob Dylan, Barbara Allen, yang pernah dimainkan ulang oleh Oscar Lolang di Sunyata Session . Bagaimanapun bentuknya, pesan cinta butuh kejujuran. Kesandung Masa Lalu di mataku jujur bercerita, dan begitu juga Barbara Allen, sama jujurnya. Ini cara pandang.

 

 

Sastra juga demikian. Kalau boleh bertanya, mengapa cerita Pramoedya itu bagus? Karena ceritanya jujur. Kejujuran dunia karang-mengarang, bagiku terletak pada pengalaman impresif. Selama pengarang benar-benar mengalami keimpresifan peristiwa secara nyata, maka itulah yang menjadikan ceritanya jujur.

 

 

Aku lebih lega dengan kesukaanku pada grup seperti NDX a.k.a Familia, ketika menyimak wawancara mereka di Warningmagz. Wawancara yang menghasilkan kesan di otakku tentang grup tersebut adalah: apa adanya. Selama keapa-adanyaan atau kejujuran ini berhasil dirawat oleh setiap seniman, maka ia bukanlah kitsch dalam asumsi sebagai seni rendahan.

 

 

Namun pada dasarnya, makna kitsch memang tak sepicik sebagai seni rendahan. Kata Yasraf Amir Piliang (2012) “Produksi kitsch lebih didasarkan oleh semangat memassakan seni tinggi, membawa seni tinggi dari menara gading elit ke hadapan massa melalui produksi massal; melalui proses demitoisasi nilai-nilai seni tinggi”. Yang kutangkap, kitsch disebut sebagai seni rendahan, karena sifatnya yang ‘menjual’ citra seni.

 

Aku sejujurnya juga merasa kerdil dengan peristiwa sastra yang kadang ditebari kutipan-kutipan puisi atau ucapan beberapa tokoh sastra terkenal. Misalnya mengutip puisi Rendra yang terkenal. Tapi, sayangnya si pengutip belum benar-benar membaca puisi-puisi Rendra. Aku menyebutnya, generasi sastra yang mewarisi bungkus. Bungkus ini memang bagus dan perlu. Tapi, tanpa isi. Maka tinggallah bungkus. Kosong melompong!

 

Menurutku tak salah kalau Aji Ramadhan mengatakan esai dan puisi tak ada bedanya. Itu karena cara pandang Aji Ramadhan yang berbeda. Cara pandang yang kusebut sebagai logika sastra. Logika lisensia puitika. Karena posisinya sebagai penyair, memungkinkannya lebih cenderung pada logika lisensia puitika. Lisensia puitika, kebebasan logika dalam sastra. Kebebasan logika yang memang dianggap wajar dan dibolehkan dalam sastra. Seorang pemakai logika lisensia puitika, ketika memandang seekor semut, barangkali akan melihat semut sebagai sesuatu yang puitis. Sedangkan seorang pemakai logika nalar—logika yang logis—di luar lisensia puitika, barangkali akan melihatnya dengan berbeda. Semut, ya semut. Puisi, ya puisi. Esai, ya esai.

 

 

Lalu mana yang lebih tepat? Terserah. Tergantung kepentingan, prioritas, dan tujuan. Atau kalau kata Aji “tergantung niatnya”. Tidak masalah untuk mengutip kata-kata cantik saja, alih-alih mempelajari bukunya. Tidak apa-apa, jika untuk sementara cukup puas dengan memajang potret buku dan bunga di Instagram, alih-alih daripada tekun membacanya saja. Lagi-lagi, toh kita semua masih berada dalam pengelanaan.

 

 

Setiap kita berada dalam anak-anak tangga yang macam-macam tingkatnya. Entah di anak tangga ke berapa. Meniti anak-anak tangga perjalanan, untuk meraih sesuatu yang diyakini lebih esensial. Karena ternyata dunia fana memang dihiasi keabal-abalan. Aku jadi teringat buku bagus, yang ditulis Jujun S. Suriasumantri (Filsafat Imu, Sebuah Pengantar Populer, 1999).

 

Da steh’ich nun, ich armer Tor!

Und bin so klug als wie zuvor.

(Nah, di sinilah aku, si goblok yang malang!

Tak lebih bijak dari sebelumnya.)

 

 


Bunga Hening Maulidina

Mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia UNS 2013.