Oleh: Citra Agusta Putri

Wahai Ibu Kartiniku …
Pesonamu, geloramu, menghaturkan aroma loyalitas sang dara
Kridamu, menumbangkan kemakaran kolonialis tempo dulu
Emansipasimu, membangkitkan repih reputnya sukma kaum hawa

Namun, perjuangan seakan bertepuk sebelah tangan
Impresi agungmu terjelma dalam seremonial belaka
Para hawa beradu kirana, mengenakan kebaya dengan eloknya
Itukah, intensi nyatamu, wahai Kartini masa kini?

Dimana antusiasmu, ketika sang Kartini berjuang menegakkan edukasi hingga titik darah penghabisan?
Dimana ambisimu, tatkala sang Kartini menakhlukkan emansipasi teruntuk engkau, wahai Kartini masa kini?
Dimana lagi? Dimana sekarang, takrif ‘habis gelap terbitlah terang’?
Yang tertinggal, hanyalah moral bangsa dalam aforisme ‘habis terang terbitlah gelap’

Hei, para Kartini masa kini!
Bertabiatlah bagai tutur kata sang Ibu Emansipasi
Mendamel kados satria, ngasta kekah prinsip ugi punaginipun
Giat menggali ilmu, demi progresifitas kaliber bangsa …

Hei, Kartini-Kartini globalisasi!
Ampun ngabrit njejegaken kekasinggihanan pedoman nagari
Mboten gampil goyah lebet panyalira
Ndamelaken bumi gemah ripah loh jinawi
Pantang menyerah menegakkan moral bangsa
Membangun kemakmuran dan kemuliaan Negara …