Oleh: Vera Safitri

 

PUKUL SEBELAS lewat lima malam, seorang teman mengirimiku sebuah pesan singkat, “Museum ki opo jal?” Hanya butuh waktu tiga detik untuk membaca pesan ini. Tapi aku memandangi pesan ini sekitar sepuluh detik dengan pembagian waktu seperti berikut: tiga detik untuk membaca, tiga detik untuk tertawa, dan empat detik untuk mengumpat dalam hati.

 

Ngopo ra mbukak KBBI wae!” Tentunya aku tidak menuliskan kalimat itu sebagai balasan pesan singkatnya. Lagipula jarang ada yang mengirimiku pesan singkat. Setidaknya, sebagai ucapan terimakasih telah mengisi kotak pesan di gawaiku, aku harus membalas pesan singkat itu dengan baik.

 

Aku lalu mengetik “ruang pamer”. Namun pesan urung dikirim, aku masih memikirkannya. Aku pun penasaran, mencoba mencari tahu, mencari tautan referensi. Dan akhirnya bertemu dengan seorang profesor sejarah berkebangsaan Inggris, John Hale dalam sebuah buku berjudul Museum dan Anak-anak, Risalah-Risalah tentang Pendidikan (1991).  Melalui tulisannya yang termuat di Majalah Museum terbitan UNESCO tahun 1968, ia menuliskan pandangannya tentang museum “…pekerjaan pokok museum ialah menyimpan benda-benda berharga dengan aman dan memajangnya secara menarik.” (1991:15). Itu saja, tidak lebih, dan sesuai dengan pandangan awalku.

 

Namun, itu adalah “Sebuah pandangan yang pahit,” ungkap Ulla Keding Oloffson, penyunting buku tersebut pada paragraf selanjutnya. Oloffson mungkin benar, pernyataan Hale merupakan sebuah cibiran yang menyakitkan.

 

Di hari sebelumnya aku mengunjungi acara Museum Goes to Campus yang diselenggarakan Universitas Sebelas Maret (UNS) dua minggu yang lalu. 24 Museum dan lembaga arsip didatangkan ke kampus. Dalam bayanganku, pasti banyak benda-benda bersejarah dan para petugas museum yang ramah tamah serta sabar dalam menjelaskan detil demi detil benda yang ditampilkan macam di film Midnight in Paris (2011).

 

Tapi itu hanya bayanganku saja. Rupanya beberapa dari museum-museum yang didatangkan hanya memamerkan dua hingga tiga benda koleksinya, ditambah tanpa ada ocehan dari sang petugas museum. Praktis, adegan perdebatan mengenai koleksi museum antara penjaga museum dengan Gil Pender, sang tokoh utama dalam film garapan Woody Allen itu pun tak terjadi. Pengunjung Museum Goes to Campus malah asyik berswafoto ria! Barang-barang koleksi yang sudah susah-payah diboyong ke UNS pun tampak jadi sekadar pajangan dan objek foto. Benar, museum ternyata hanyalah ruang pamer.

 

Seketika aku teringat pemikiran Hale yang konservatif. Pernyataan Hale harusnya tidak jadi terlalu menyakitkan seandainya Oloffson melihat acara Museum Goes to Campus ini. UNS sedang memamerkan ruang pamer, hanya itu, bukan makna museum dalam seluruh eksistensi ilmu pengetahuan di kampus. Benda-benda itu bukan hanya benda, ada ilmu yang (pernah) hidup bersamanya. Maka, seharusnya benda-benda menguak ilmu bagi generasi muda sekarang. Bukan menjadi objek swafoto. Ini sama dengan perilaku memuseumkan (koleksi) museum. Tapi hal ini hanya kuucapkan dalam hati saja kok. Percayalah!

 

Ruang refleksi

 

Museum dikodratkan untuk mengetahui apa yang sudah selesai dan apa yang perlu diperbaiki, dalam pikiranku. Dalam benda yang sudah pantas dimuseumkan, berarti ada ilmu yang sudah bergerak maju. Sebagai ilustrasi, dahulu kita mempunyai kotak pos atau wartel di UNS, tapi sekarang sudah tidak ada atau tidak berfungsi lagi, dan dua benda itu pantas dimuseumkan. Pemuseuman dua benda itu akibat perkembangan ilmu dalam kehidupan kita: teknologi komunikasi yang sudah sangat maju, seperti internet, telepon genggam, dan komputer. Orang sudah tidak mau begitu bersusah-payah mengetik di kertas atau pergi ke warnet. Repot dan kelamaan. Maka, museum bisa menjadi tolok ukur kemajuan (modernitas) masyarakat. Semacam menjadi patokan untuk berevolusi, secara keilmuan minimal, sesuatu yang pantas diteliti secara akademik.

 

Hasrat memuseumkan benda-benda adalah etos masyarakat yang mau maju dan terus maju, sehingga meninggalkan banyak benda-benda jadi klasik, seperti masyarakat Eropa modern. Ada hasrat menyudahi dan segera memulai sesuatu yang baru, memperbaiki masa depan. Toh, masa depan yang katanya tidak kelihatan itu sebenarnya tidak sepenuhnya tak terlihat. Masa depan juga dapat dilihat dari apa yang ada di belakang, yang termuseumkan. Dengan memuseumkan sesuatu, mestinya ada hasrat untuk terus memperbarui dan memperbaiki. Hanya, mestinya lho! Kenyataannya sering tidak demikian.

 

Aku ingat perbincanganku dengan salah seorang alumni jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UNS, sekira sebulan yang lalu. Di tengah obrolan kami, aku sempat menyinggung tentang mata kuliahku, dosen, dan materi yang aku terima di perkuliahan. Ternyata, materi yang kami dapatkan sama, dosen, dan buku pegangan dosennya pun masih sama. Duhai pembaca, asal kalian tahu saja, si alumni ini lulusan tahun 1998.  Alias 18 tahun yang lalu! Sudah empat kali ganti Presiden Indonesia! Tak ada kemajuan sejengkal pun! Keilmuan yang ada masih stagnan saja. Jangankan menanyakan kapan kita akan maju, Menanyakan kita mau bergerak ke arah mana saja belum tentu bisa terjawab. Menyedihkan…

 

Untuk memperbarui keilmuan, mestinya keilmuan yang ada harus segera dimuseumkan. Tentu saja agar mengetahui, “Kita sudah sampai mana? Apa yang perlu diperbaiki? Ilmu kita sekarang dan di masa mendatang akan mengarah ke mana?” Semua ini membutuhkan hasrat bermuseum dalam keilmuan.

 

Setelah memikirkan hal itu, akupun menghapus kalimat yang tadinya sudah kuketik. Lalu menggantinya dengan “Ruang refleksi keilmuan”. Tiga detik kemudian, layar gawaiku memunculkan sebuah kata. “Terkirim!”[]


 

Vera SafitriVera Safitri. Mahasiswi Sosiologi UNS. Bisa diajak curhat di [email protected]