lpmkentingan.com – Sebanyak 22 komunitas daerah UNS, memukau ratusan penonton yang hadir dalam malam puncak Festival Seni Budaya (FESENBUD) 2015 di GOR UNS, Jumat (13/11). Melalui arahan sutradara Kusnanta Riwus dan koreografer Dewi Galuh Sintosari, mereka mengajak para pemuda untuk menjaga persatuan Nusantara.

Kolaborasi  tari yang ditampilkan diantaranya tari Tor-Tor (Batak), tari Tidayu (Kalimantan Barat), tari Kretek (Kudus), hingga tari Pangkur Sagu (Papua). Dalam kolaborasi tari tersebut, menceritakan seorang raksasa bernama Prabu Kalabari yang ingin menaklukan negeri bernama Nusantara. Dua utusan lantas dikirim untuk memata-matai negeri tersebut. Setibanya di sana, dua utusan Kalabari melihat beragam budaya yang ditampilkan penduduk Nusantara. Dua utusan Kalabari lantas mengadu domba satu suku dengan suku lainnya. Mereka pun juga membakar hutan sehingga terjadi bencana kabut asap. Meski demikian, usaha Prabu Kalabari menaklukkan Nusantara gagal karena masih adanya pemuda yang peduli terhadap budaya dan lingkungannya.

Menurut Ketua Panitia Fahrizal Rian, pemuda memliki peran yang penting dalam melestarikan budaya. “Kadang kita membanggakan Indonesia tapi kita tidak tahu apa sebenarnya Indonesia, apa yang diunggulkan makanya kita ingin menggali lagi terutama di kalangan mahasiswa. Kalau anak muda sudah mengenal budayanya kan keren,”terang Fahrizal usai acara.

Duta Kampus

Sementara itu, Dhion Ghafara Herputra dan Asri Nurcahyaningrum terpilih sebagai Mas Mbak UNS 2015 dalam puncak acara Festival Seni Budaya UNS 2015. Ditemui usai acara, Asri mengaku tidak menyangka akan terpilih sebagai Mbak UNS 2015. “Ya, (setelah ini) selayaknya duta kampus. Jadi contoh untuk mahasiswa-mahasiswa yang lain,” kata mahasiswi Fakultas Hukum asal Sukoharjo ini.

Dhion sendiri akan berusaha untuk mengoptimalkan potensi yang ada di UNS. “UNS kan salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia,”jelas mahasiswa Fakultas Pertanian ini.

Mas UNS 2014 Taufik Ahmad Fahrudin berharap Mas Mbak UNS 2015 bisa memberikan kontribusi yang layak bagi UNS. “Semoga nanti dari BEM dengan kerjasama Rektorat bisa merumuskan atau paling tidak memberi tugas yang jelas bagi duta kampus ini,”terang Taufik.

Harapan serupa disampaikan salah satu juri Mas Mbak UNS 2015, Alvian Novi Arvianto. “Konsep di Mawapres lebih ke akademik, pengetahuan umum dan organisasi, tapi kalau Mas Mbak UNS lebih ke duta wisata mungkin. Harapannya ini bukan selesai acara selesai tapi mereka benar-benar memberikan kontribusi bagi UNS sesuai kapasitas yang dibentuk sebagai Mas Mbak UNS,”tutur Alvian. (Syaumi, Yely, Ndari)