Oleh: Satya Adhi

ARIF (23) asli Solo. Walau demikian, bangku kuliah Ia tempuh di jurusan Teknik Metalurgi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya. Rabu (13/4), ia pulang kampung ke kota Bengawan. Tapi kepulangannya bukan dikhususkan untuk menemui sanak famili. Arif berniat mencari pekerjaan baru yang sesuai dengan bidangnya.

Mengapa mencari pekerjaan baru? Padahal usai lulus kuliah Arif sempat mengikuti proyek dosennya di Madiun selama satu tahun. Satu tahun berikutnya ia habiskan untuk merintis bisnis kuliner dan biro perjalanan. Saat ini ia bahkan sudah memiliki pegawai sendiri. “Orang tua penginnya saya kerja [jadi karyawan],” kata Arif, “padahal maksud saya berbisnis itu biar bisa ngajakin teman-teman yang belum dapat pekerjaan.”

Meski terancam gagal berbisnis, Arif tak lekas pesimis. “Ya bukannya saya menyerah. Tapi ini ngikutin penginnya orang tua dulu. Pegawai juga masih saya perhatikan,” tambahnya. Ditemani Hasan (24), mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), UNS, Arif bergerilya memasukkan lamaran pekerjaan dalam UNS Solo Job Fair XIII 2016 yang digelar 13 s.d. 14 April 2016. Keduanya mengaku sudah memasukkan lamaran ke hampir semua perusahaan. Seperti para pengunjung lainnya, perjuangan mereka tidak mudah. Arif dan Hasan sudah mengantre di depan gedung auditorium sejak pukul 09.00 WIB. Mereka baru masuk ke arena pencarian kerja tiga jam kemudian.

Fuad (22) sedikit lebih apes. Lulusan jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), UNS ini mengantre sejak pukul 09.30 WIB. Baru masuk sekira pukul 13.15 WIB alias tiga jam 45 menit kemudian. Ia asli Jogja dan “hanya” memasukkan lamaran ke dua perusahaan: minimarket dan perbankan. “Ya, ini buat cari pengalaman aja. Kalau jadi guru bosen. Kemarin kan juga udah ngerasain jadi guru waktu PPL [Program Pengalaman Lapangan],” katanya.

Fasilitasi Pencari Kerja

“Ada dua tipe mahasiswa. Pertama job seeker [pencari kerja], kedua job creator [pencipta lapangan kerja],” kata Kepala Career Development Center (CDC) UNS, Kusnandar. Golongan pencari kerjalah yang difasilitasi oleh CDC lewat UNS Job Fair. “Karena kalau yang job creator ini sudah ada yang memfasilitasi. Dari KWU [Kewirausahaan],” tambahnya.

Dari 33 perusahaan yang ikut serta, perusahaan finansial dan kontruksi menjadi primadona. Perusahaan finansial seperti Kementerian Keuangan dan industri perbankan tak diragukan lagi peminatnya. “Kalau ada lowongan finance, pasti banyak yang suka. Walaupun dari Fakultas Pertanian, misalnya,” kata Kusnandar.

Sementara perusahaan konstruksi, semacam PT Wika dan PT Hutama Karya, ia rasa mendapat imbas positif dari arah pembangunan pemerintah. “Tahun-tahun sebelumnya pun [perusahaan] konstruksi tidak sebanyak sekarang. Ini ada korelasinya dengan kebijakan pemerintah. Pasar saat ini membutuhkan tenaga kerja yang banyak,” imbuhnya.

Namun, persaingan antar para pencari kerja terbilang ketat. Sebanyak 7000 sarjana diperkirakan memadati UNS Job Fair kali ini. Angka ini melebihi jumlah lulusan sarjana UNS tiap tahunnya. Pada Maret 2016 lalu, 1196 sarjana diwisuda. Bila dalam satu tahun ada empat kali wisuda, maka angka sarjana UNS tiap tahunnya berkisar 4000 hingga 5000 orang. Persaingan semakin ketat dengan kehadiran sarjana angkatan sebelumnya yang belum bekerja dan lulusan perguruan tinggi lain.[]

Foto: Satya Adhi