Ilustrasi: Latifah Laila/LPM Kentingan

 

Bagaimana bisa ia menyebut dirinya sebuah pohon kehidupan, mampu menyejukkan banyak orang dan begitu yakin akan berdiri kokoh selamanya. Namun semua itu hanya tipuan mata penutup hati, seperti halnya batang itu yang ia bisa lakukan hanya mampu berdiri tapi tak mampu menopang. Lalu daun-daun juga bunga yang selalu ia perindah dengan warna-warna sebagai penghias namun tak ada gunanya hanya sebagai penyilau mata. Kemudian bagaimana dengan akar  Siapa kira ia adalah si pencengkram mulut-mulut sang pembenar yang ia sembunyikan di bawah tanah.

 

Tetapi tidakkah kalian melihat ada 1 bagian yang tak mampu kalian lihat secara jelas. Ya, itu lah kami yang tak mampu berkutik di bawah cengkraman pohon. Ia seakan mampu berdiri dengan kokohnya tapi ia juga lupa pada satu hal bahwa kami masih ada dan akan terus tumbuh walaupun harus mencurahkan keringat darah atau bahkan memohon sebuah keadilan yang memang harus kami dapatkan.

 

Akan tetapi bagaimana dengan mereka yang mampu berjajar tersenyum di sampingnya mampu merasakan kesejukkannya namun membawa kapak dan suatu saat akan menebangkannya .

 

Lalu tanpa ia sadari pula kami telah menyebarkan benih-benih yang suatu saat benih itu akan satu persatu menumbangkannya.[]

 

Ilustrator: Latifah Laila