Sebuah pertunjukan pantomim yang dimainkan oleh dua orang siswi sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB).)

Sebuah pertunjukan pantomim yang dimainkan oleh dua orang siswi sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB).)

Solo – (19/6) Satu lagi kegiatan yang mendukung Solo sebagai kota inklusi dan UNS sebagai universitas yang ramah inklusi kembali digelar. Adalah komunitas Gerakan Peduli Indonesia Inklusi (GAPAI) yang mempelopori kegiatan bertajuk Expo Difabel dengan tema “Menyongsong Indonesia Inklusi” di aula Fakultas Hukum UNS Kamis (19/6).

Kegiatan tersebut juga bekerja sama dengan semua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) yang ada di UNS. Dengan diselenggarakannya acara ini, panitia mengharapkan bahwa predikat UNS sebagai universitas yang ramah inklusi, tidak hanya sebatas pada status saja. “Melalu kegiatan ini, kita (panita) juga berharap dapat menyongsong Indonesia inklusi melalui UNS dan Solo.” ujar Wafa mahasiswa Pendidikan Luar Biasa UNS angkatan 2011 yang menjadi ketua panitia dari kegiatan expo difabel tersebut.

Dalam serangkaian acara tersebut terdapat pula seminar, performing art, stand karya, stand komunitas, dan deklarasi peduli difabel. Dengan melibatkan berbagai komunitas difabel dan pengisi acara yang juga merupakan difabel, diharapkan tujuan diselenggarakannya acara tersebut dapat dicapai.

Pada sesi kedua seminar dengan tema “Urgensi Pendidikan Inklusi di Perguruan Tinggi” dihadirkan dua pembicara yang juga merupakan seorang difabel. Mereka adalah Abdullah Fikri dan Mukhanif Yasin, yang masing-masing adalah seorang tuna netra dan tuna rungu yang memiliki prestasi. Menurut Mukhanif Yasin, “Pada hakekatnya Tuhan menciptakan manusia dalam bentuk yang sempurna, maka tidak ada manusia yang cacat. Difabel hanyalah manusia yang memiliki kemampuan berbeda.” ujarnya ditengah-tengah menyampaikan presentasinya. (Puput S)