Ilustrasi: Marsha Al Hanan Sifa’i/LPM Kentingan

Manusia adalah satu kesatuan dengan lingkungannya, peradaban manusia tidak akan bisa mempertahankan eksistensinya apabila lingkungan itu tidak ada untuk mendukungnya. Manusia dan lingkungan saling memengaruhi satu sama lain. Lingkungan tempat manusia berpijak mampu mengantarkan manusia kepada kehidupan yang beradab dengan segenap pengorbanan. Lingkungan memberikan perhiasannya agar manusia hidup beradab lagi sejahtera, hingga lingkungan tak kuasa lagi mencurahkan kekayaannya kepada manusia yang kian serakah dibalik selimut “beradab”. Maka, tak lagi asing, apabila lingkungan hendak menagih kembali janji akan kehidupan harmonis di antara manusia dan lingkungan.

Samudera biru yang luas kini menampakkan batasnya, satwa lautan mengeluhkan kesulitannya untuk hidup di sana dengan plastik yang mengambang di setiap riak ombak. Mereka tersedak tak bisa makan, tak bisa minum, tetapi mereka selalu hadir untuk membuat manusia tetap cukup akan kebutuhan pangan. Daratan tempat manusia berpijak pun tak lagi terbatas, gedung-gedung besar memenuhi setiap petak lahan yang tersisa, kelak manusia akan berebut ruang. Pembangunan hendaknya berwawasan lingkungan dan memegang prinsip berkelanjutan. Ruang daratan yang ada tidak hanya dimanfaatkan guna mencari keuntungan, tetapi juga menjamin terjadinya keselarasan hubungan antara manusia dan lingkungan. Karena pada dasarnya lingkungan hidup tidak hanya dibutuhkan oleh manusia saja, binatang dan tumbuhan juga membutuhkannya.

Masalah kelestarian lingkungan adalah masalah yang besar dan mengancam eksistensi kehidupan manusia, namun masalah yang jauh lebih besar daripada lingkungan adalah ketidakpedulian manusia akan lingkungan itu sendiri.[]

 

Ilustrasi: Marsha Al Hanan Sifa’i

Penulis: Marsha Al Hanan Sifa’i