Manusia dan lingkungan alam adalah relasi yang tak akan pernah terselesaikan. Keduanya saling memengaruhi satu sama lain. Manusia menanam, alam melahirkan. Dari Sedulur Sikep sampai aksi Green Peace, menyorot relasi tersebut. Kemudian, ekofeminisme muncul sebagai reaksi, yang merupakan irisan dari gerakan feminisme dan environmentalisme. Guna mendalami apa itu ekofeminisme, diselenggarakanlah seminar Ekofeminisme: Narasi Iman, Mitos, Air dan Tanah oleh Himpunan Mahasiswa Sosiologi (Himasos) FISIP UNS. Acara tersebut diadakan pada Sabtu, 1 November 2014 di Aula FISIP UNS, pukul 09.00-12.00. Pembicara yang mengisi ialah Pemimpin Redaksi Jurnal Perempuan sekaligus Dosen UMS, Dr. Phil. Dewi Candraningrum. Pembicara lain yakni Ketua Pusat Pembelajaran Studi Gender UKSW, Dr. Ir. Arianti Ina Restiani Hunga, M.Si. Keduanya dimoderatori oleh Dosen UNS, Siti Zunariyah, S.Sos, M.Si.

 

Perempuan dan Lingkungan Alam

Pada kesempatan itu, Dewi mendedahkan bahwa pembangunan membentuk kebudayaan baru, yang orang sebut modernitas. Pada gilirannya, apa yang benar pun turut terbentuk, yang benar ialah yang rasional dan didasarkan pada segi ekonomis. Pengejaran terhadap rasio dan kepentingan ekonomi itulah yang disebut Dewi sebagai “kehendak akan kebenaran”. Sekali lagi, tentu kebenaran ala mereka. Sayangnya, hal tersebut kurang mengindahkan dampak lingkungan. Saat ini sedang marak-maraknya, dalam bahasa Foucault, “culture without nature”. Hampir semua negara, saat ini, mencoba membangun kebudayaan (modern) tanpa memerhatikan dampak lingkungan. Padahal sebelum bicara lingkungan, “pembangunan mereduksi, yang paling awal ialah kemanusiaan,” ujar Dewi. Lantas, bila kemanusiaan dan lingkungan dirampas oleh pembangunan, apa lagi yang dimiliki manusia? “Bumi itu cukup untuk manusia, tapi tak akan cukup untuk keserakahan,” tambahnya.

Sesi pertama ditutup, kemudian moderator mengucapkan sepatah kesimpulan, sebelum mempersilakan hadirin bertanya. “Boleh memperjuangkan kehendak akan kebenaran, asal didasarkan pada kehendak akan kehidupan,” kata Yuyun, panggilan akrab Siti Zunariyah. Hadirin cukup antusias mengikuti seminar tersebut, terlihat dari aktifnya mereka melempar tanya pada pembicara. Sebagian besar hadirin yang bertanya dari kalangan perempuan. Tak aneh kiranya, mengingat isu yang dibahas terkait relasi perempuan dan lingkungan alam, meski juga menyindir pembangunan, di sana-sini. Salah seorang panitia seminar, Ferera Yuli Astuti, berkata, “seminar ini penting, karena banyak yang belum tahu soal isu ini. Biar tercerahkan.” Seminar tersebut mengingatkan pada salah satu lagu Dialog Dini Hari, Bumiku Buruk Rupa. “Liang lahat raksasa hadir. Pribumi tak lagi jaga bumi. Bumiku, bumi buruk rupa. Bumiku, bumi buruk rupa.”

 

Rumah yang Remah

Pembicara kedua, Ketua Pusat Pembelajaran Studi Gender UKSW, Dr. Ir. Arianti Ina Restian Hunga, M.Si, membuka sesi dengan cukup unik. Ia berujar, “rumah tidak lagi bisa kita kuasai. Rumah kita dikuasai pihak lain.” Inilah yang coba ia paparkan dalam seminar, dikaitkan dengan industri batik. Saat ini, orang-orang sudah tidak lagi membeli batik sebagai makna, namun sebatas sebagai kain. Sebab, orang-orang tak lagi butuh bati sebagai seni. Asal harganya murah, mereka mau beli. Batik bermetamorfosis dari l’art pour l’art (seni untuk seni) menjadi l’art pour engage (seni untuk rakyat).

Arianti menjelaskan ihwal kecenderungan industri saat ini, yakni Putting-Out System (POS) dan Home Worker (HW). Maksud dari POS, sebagian besar pekerjaan dibawa keluar pabrik, entah mau dikerjakan di rumah atau di tempat yang menurut pegawai nyaman. Misalnya, pabrik menyediakan kain, kemudian kain itu dibawa pulang oleh pegawai untuk dikerjakan di rumahnya. HW merujuk pada pegawai yang tidak punya ikatan formal dengan pabrik. HW cuma mengambil bahan, kemudian menyetor hasil pekerjaan mereka pada pabrik, begitu seterusnya. Dari sini sudah bisa dipahami maksud dari Arianti. “Space di rumah sudah dirampas industri,” katanya. Industri batik sekarang jadi paradoks. Batik yang memberi sumbangan devisa bagi negara ternyata pembuatannya merampas ruang domestik pegawai. Bagaimana nasib anak bila ibunya seharian sibuk mengerjakan batik? Jumlah anak terlantar sudah terlalu banyak, tanpa perlu ditambah mereka yang ditelantarkan orangtuanya lantaran kerja. Rumah yang dulu ramah, kini jadi remah. Itulah yang dilakukan pembangunan. (Udji)