Perubahan iklim sudah menjadi diskursus global yang meminta perhatian semua negara. Di Indonesia, meski barangkali termasuk baru bersamaan dengan diskursus ekonomi lingkungan, isu perubahan iklim sudah diterima sebagai masalah bersama. Media massa terus memberitakannya, termasuk mengampanyekan gerakan green life. Namun, gerakan ini masih belum sampai pada tahap aras keluarga yang sebenarnya mempunyai kekuatan besar untuk keberhasilan penyadaran perihal perubahan lingkungan.

Keluarga, seperti kita tahu, secara sosiologis merupakan unit atau lembaga terkecil dalam masyarakat dan dengan itu menjadi pusat gerak masyarakat, termasuk dalam hal perubahan iklim. Keluarga dibentuk bukan saja karena adanya ikatan pernikahan, melainkan karena adanya konsensus antara dua individu–suami dan istri–untuk menjalankan peran, tugas, serta fungsi keluarga dalam suatu masyarakat. Kehidupan dalam masyarakat bisa terganggu dan pincang jika keluarga dalam masyarakat tidak dapat menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Maka, dibutuhkan keselarasan fungsi dalam keluarga agar kehidupan suatu masyarakat dapat berjalan dengan baik sesuai tujuan dari masyarakat itu sendiri.

Orang tua dalam hal ini bisa berperan aktif sebagai subjek yang menjalankan fungsi-fungsi dalam keluarga. Sedangkan anak akan memainkan peran sebagai objek dari fungsi-fungsi yang dijalankan oleh orang tuanya. Tak pelak, untuk menjalankan semua fungsi tersebut dibutuhkan hubungan yang baik antara anak dan orang tua.

Setidaknya ada lima fungsi pokok yang dimiliki oleh keluarga. Adalah fungsi reproduksi, afeksi, sosialisasi, ekonomi, serta edukasi. Kelimanya adalah fungsi yang sudah tak asing lagi bagi kita, walaupun beberapa dari fungsi itu tidak sepenuhnya dilakukan dengan baik pada setiap keluarga. Dari kelima fungsi tersebut misalnya, fungsi edukasilah yang dirasa kurang berperan aktif terlebih dalam ikut serta mencegah kerusakan alam dan perubahan iklim.

Dalam menjalankan fungsi edukasi, orang tua lebih cenderung memilih untuk memberikan pembelajaran secara formal saja kepada anak. Alasannya sederhana, kesuksesan untuk menggapai cita-cita dan pemenuhan materi menjadi hal yang paling esensial dalam melaksanakan fungsi ini. Si anak akan dipenuhi kebutuhan mengenai edukasinya secara intensif di sekolah. Sedangkan di sekolah, sejak sekolah dasar, anak akan diberikan pelajaran ilmu alam, salah satunya, yang sebenarnya hanya pada tahap pengenalan saja. Selebihnya anak harus aktif belajar sendiri. Saat-saat inilah, penting bagi orang tua untuk turut membantu dan memberikan edukasi mengenai lingkungan alam. Namun, hal tersebut seperti dilalaikan oleh orang tua yang menganggap pembelajaran mengenai alam sudah cukup diberikan di sekolah.

Akibatnya, anak akan memiliki kecenderungan untuk mengetahui alam hanya sekadar tahu akan keberadaan dan eksistensinya saja. Tanpa memiliki pemahaman akan esensi dari lingkungan alam bagi kelangsungan masa depan manusia. Anak bisa saja tahu dan hafal akan semua materi pelajaran yang diberikan di sekolah tanpa memikirkan apa yang seharusnya dilakukan dengan materi pelajaran untuk menjaga alam. Maka, tak salah jika anak akan melakukan hal-hal dan perilaku buruk terhadap alam karena tidak bisa memahami apa yang seharusnya diberikan dan dilakukan kepada alam.

Hal inilah yang bisa menjadi awal permasalahan besar kerusakan alam hingga perubahan iklim. Setelah beranjak dewasa, anak akan terus melakukan hal-hal buruk yang sudah menjadi kebiasaan terhadap alam. Bahkan, tak jarang kebiasaan-kebiasaan buruk itu akan berkembang dan menciptakan perilaku yang lebih buruk lagi yang pada akhirnya akan menyebabkan kerusakan-kerusakan alam. Atau, ia akan abai terhadap masalah perubahan iklim yang sebenarnya begitu dekat dengan dirinya.

Dari permasalahan tersebut, kita pantas merenungi sikap keluarga-keluarga di Indonesia yang selama ini sering kita lihat. Kita terlampau angkuh dalam menanggapi isu mengenai perubahan iklim, tanpa melihat rumah kita sendiri. Adanya arus modernisasi dan industralisasi sering kita jadikan satu-satunya alasan terjadinya kerusakan alam sekitar kita bahkan perubahan iklim global. Perusahaan-perusahaan besar yang menyumbang polusi udara, suara, air, dan tanah sering kita salahkan dan kita maki karena telah banyak menyumbang kerusakan alam di lingkungan kita. Tapi, sesungguhnya kita lupa. Kita lupa akan fungsi keluarga kita sendiri. Keluarga yang seharusnya memberikan edukasi mengenai lingkungan alam, ternyata tidak sepenuhnya melaksanakannnya dengan baik. Kita lupa bahwa keluarga kita tidak pernah memberikan edukasi untuk bersikap arif terhadap lingkungan alam.

Kerusakan alam hingga perubahan iklim sebenarnya merupakan masalah yang sudah sewajarnya ditanggulangi dan diselesaikan mulai dari lembaga keluarga. Keluarga memiliki andil besar dalam kerusakan alam dan perubahan iklim yang saat ini tengah menjadi masalah yang serius untuk diselesaikan. Keluarga pula sudah sepantasnya bertanggung jawab atas semua masalah mengenai perubahan iklim sejak dini. Maka, sudah sepantasnya kita mulai merubah cara pandang kita mengenai penyebab masalah-masalah alam yang saat ini sedang kita rasakan dengan mulai menjalankan fungsi environmental keluarga.

Muhammad Ilham

Mahasiswa Sosiologi UNS Surakarta