Oleh: Muhammad Satya

Dhion Ghafara Herputra masih sibuk melayani permintaan foto. Rata-rata adalah perempuan. Wajahnya masih belum menunjukkan kelelahan, padahal waktu telah menunjukkan pukul 00.30 WIB.

Di atas panggung, grup musik ska, Rslide, masih membawakan lagu terakhir. Penonton asik bergoyang. Sementara di sebelah kiri panggung bagian bawah, belasan perempuan masih mengajak Dhion berswafoto. Beberapa juga mengucapkan selamat.

Malam itu, Dhion dinobatkan sebagai Mas UNS 2015. Beskap hitamnya terlihat semakin lengkap dengan blangkon emas di kepala–mahkota bagi Mas UNS. Selempang bertuliskan “Mas UNS 2015” tersilang dari bahu sampai pinggangnya.

Pada sesi pertanyaan, mahasiswa Fakultas Pertanian semester tujuh itu mendapat pertanyaan mengenai dampak media sosial pada kepribadian seseorang.

“Media sosial mempunyai hubungan dengan era globalisasi. Juga menunjukkan seperti apa seseorang. Bila kita mengetahui peribahasa ‘mulutmu harimaumu,’ sekarang menjadi ‘sosial mediamu, harimaumu’,” jawab Dhion diiringi tepuk tangan penonton.

Pengembangan potensi UNS menjadi hal berikutnya yang akan Dhion lakukan. “Mengembangkan potensi-potensi yang ada di UNS. Juga lebih mengenalkan UNS,” ujarnya.

Ketika ditanya potensi apa yang akan dikembangkan, ia menjawab. “UNS kan merupakan salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Kita kenalkan fasilitasnya, mahasiswanya,” terang lelaki asal Yogyakarta ini.

***

Asri Nurcahyaningrum duduk meladeni pertanyaan seorang wartawan. Pakaiannya masih sama seperti kala ia dinobatkan sebagai Mbak UNS 2015. Jilbab berhiaskan mahkota Mbak UNS dan kemeja lengan panjang merah, lengkap dengan jarik cokelat. Hanya sepatunya yang sudah diganti dengan sepatu coklat yang lebih pendek. Riasannya juga belum luntur.

Belum selesai si wartawan melakukan wawancara, lpmkentingan.com meminta izin kepada mahasiswi Fakultas Hukum semester lima itu untuk melakukan wawancara.

“Barengan aja (dengan wartawan sebelumnya, red) gimana, Mas?” katanya menawarkan.

“Ini masnya sebentar kok,” jawab Dhion yang sebelumnya telah lpmkentingan.com wawancarai.

Dara asal Sukoharjo itu mengaku tak menyangka akan terpilih sebagai Mbak UNS 2015. “Soalnya kan saya udah dapet dua (Mbak Favorit dan Mbak Intelejensia). Jadi kayaknya nggak bakal menang,” katanya masih mengenakan tiga selempang sekaligus.

Sesi pertanyaan menghadapkan Asri pada pertanyaan mengenai prestasi UNS. “Coba sebutkan prestasi-prestasi yang pernah diraih UNS,” tanya salah satu juri, Niken Parahita.

“Pada 2013, UNS dinobatkan sebagai green campus. Selain itu, UNS memiliki prestasi dalam bidang mobil irit (bahan bakar),” ucapnya, juga diiringi tepuk tangan meriah penonton.

Asri berharap bisa menjadi contoh bagi rekan-rekan mahasiswa lainnya. “Ya, (setelah ini) selayaknya duta kampus,” tuturnya dengan bahasa Indonesia yang medhok, “jadi contoh untuk mahasiswa-mahasiswa yang lain. Memantaskan diri untuk dipandang.”

***

“Mau wawancara dewan juri ya. Sama saya saja,” kata Niken Parahita. Putri Solo 2013 itu menjadi salah satu juri pada malam penganugerahan Mas Mbak UNS 2015 di GOR UNS, Jumat (13/11).

“Aku terkesan,” ujarnya saat ditanya mengenai penyelenggaraan Mas Mbak UNS tahun ini. “Tahun ini lebih bagus. Lebih menarik.”

Melalui acara ini, Niken menganggap UNS akan memiliki duta untuk mempromosikan kampus ‘terbaik’ di kota Solo ini. “Mereka (peserta, red) juga bisa belajar public speaking. Ini merupakan wadah baru untuk mengembangkan diri,” tambahnya. Selain itu, ia juga berharap pihak kampus untuk lebih memerhatikan kelanjutan duta kampus ini. “Aku berharap pihak kampus bisa memberdayakan mereka.”

Malam puncak Festival Seni Budaya –sekaligus penganugerahan Mas Mbak UNS 2015– telah usai. Lampion telah diterbangkan. Sound system sudah diringkasi. Kursi-kursi dilipat kembali. Sementara Dhion dan Asri juga berganti baju, melepas mahkota kemenangan mereka. Mungkin kedua mahkota itu hanya akan menganggur selama satu tahun.
Menunggu tahun depan untuk dikenakan lagi.