Jika di Solo berpergian pada siang hari berarti kesediaan dikarungi hawa panas, di Ambon, terik tengah hari seperti menaruh semut di kulit. Mereka menjalari tubuh dan menggigit. Untung saja keberlimpahan angin bersedia merontokan rombongan semut dari tubuh. Dengan itu, Anda tidak perlu repot membawa kamper kemana-mana.

 

Ibu asrama kami bertampang dan berperawakan mirip menteri Susi Pudjiastuti. Dia juga gemar berteriak dan membikin orang yang tak taat aturan kocar-kacir. Misalnya, ia suka sekali melempar jemuran mahasiswa yang digantung di lantai empat. Seharusnya mereka menjemur di buritan asrama. Anda bisa membayangkan lusinan pakaian berjatuhan teramat perlahan dan mendayu-dayu seperti para penerjun payung.

 

Sebagai informasi tambahan: itu asrama putri.

 

Di asrama putra, bapak asrama tidak tinggal. Ia datang sesuka hati dan ketika kami tiba hatinya sedang suka. Ia meminta seluruh penghuni asrama berkumpul di halaman. Kami mengelilinnya. Ia mengucapkan selamat datang pada kami dan meminta kami berbaur dengan para “kambing”, sebutannya untuk  para penghuni asrama. Khusus mahasiswa dari Buru dan Papua, ia memanggilnya “Kambing PKI” dan “Kambing OPM”.

 

Ketika semua orang tertawa karena panggilan itu, saya sibuk mencari perbedaan fundamental antara wajah “Kambing PKI”, “Kambing OPM”, dan bapak asrama kami. Mungkin masalah yang sama juga didapat bang Aldi, tangan kanan bapak asrama. Ia kerepotan membedakan wajah kami dan memutuskan memanggil kami: kontol.

 

Mohon maaf kepada pembaca yang tak nyaman. Saya sebenarnya sempat ingin mengganti dengan “penis” agar terdengar lebih sopan. Tapi bentuk tengkorak bang Aldi yang mirip Brock Lesnar akan menjadi aneh dalam bayangan jika ia mengucap kata kedua dengan penekanan penuh seluruh.

 

Kak Tinus menjadi penghuni asrama paling akrab dengan kami. Ia berbagi kamar dengan Dicky, teman satu rombongan, dan kelihatan senang karenanya. Kak Tinus mahasiswa jurusan Sastra Jerman. Saya bertanya apakah kak Tinus membaca tulisan Franz Kafka tapi kak Tinus balik bertanya siapa Franz Kafka dan saya teringat teman Fatih Abdulbari (2016) dari Sastra Indonesia UNS yang tidak kenal siapa pun kecuali Tere Liye.

 

Saat kami datang, teman satu kamar kak Tinus sedang berkemas-kemas pergi. Ia meminjam koper Dicky untuk pindahan. Dari kak Tinus, Dicky mendapat informasi kalau mantan teman satu kamarnya itu homo. Dan dari penghuni asrama lain, Dicky mendapat informasi kalau kak Tinus itu homo.

 

Saya bilang itu tidak masalah. Tapi Dicky terlihat gelisah.

 

Sampai paragraf ini saya sadar kelewat naif dengan berkeinginan menceritakan semua nama yang saya ingat (dan sayangnya cuma secuplik saja!) untuk mematahkan “kata orang” di judul: tentang penghuni asrama yang sering memberi kami pisang goreng atau pisang saja (bayangkan, saya memakan pisang ambon di Ambon!), atau abang sopir oto—sebutan warga setempat untuk mobil angkutan kota—yang selalu memaki pengemudi tak becus dengan “Asu” atau “Jancuk” setelah mengetahui saya berasal dari Jawa, atau sopir oto lain yang menanyakan bagaimana rasanya naik kereta api, atau pengemudi speed—perahu mesin—yang malah muntah ketika perahu oleng di tengah teluk ambon dan seluruh penumpang menertawainya dan saya menatap bulan demi menghadirkan perasaan tenteram, atau teman kelas yang tak suka acara televisi apapun kecuali Waktu Indonesia Timur dan berharap bisa jadi komedian…

 

Sebelum berangkat, saya mendengar keluh kesah seorang mahasiswa Ambon yang ke Solo. Dia dulu berkeinginan jadi tentara tapi gagal saat seleksi lari-lari dan berakhir duduk-duduk di bangku calon guru SD. Karena banyak saudaranya yang menjadi tentara, ia berkeinginan untuk itu. Meski sebenarnya, katanya, lebih banyak lagi saudaranya yang mejadi preman. Mereka menjalari kawasan Jakarta dan Jawa Timur. Ia bilang: “Kemana-mana beta ketemunya preman saja!”

 

Tapi, meski sedang jalan sendirian pada siang atau malam, tengah kota atau terminal, saya tak menemukan orang yang memalak atau menggebuki saya di sini. Mungkin karena kalau mereka menjadi penodong di kampung sendiri tidak akan terlihat lebih gahar ketimbang abang-abang penjual minyak wangi atau om-om penjual timah putih. Meski tentu saja, tak semua berhati seharum minyak wangi dan sekemilau timah putih..

 

Saya, misalnya, sempat bertemu supir oto brengsek yang meminta 5000 rupiah untuk perjalanan jarak dekat (kira-kira 200 meter)—biasanya 2000 rupiah—karena mungkin mendengar saya dan teman bercakap-cakap dengan bahasa jawa. Tapi, di suatu malam, saya juga bertemu supir oto yang meneriaki penumpang untuk kembalian 1000 rupiah, padahal si penumpang sudah melengos tak peduli.

 

Arie Kriting, Abdur, dan Mamat Al-Katiri mulanya adalah satu-satunya hal bagus tentang orang timur yang saya miliki. Tapi sesungguhnya, membayangkan bagaimana preman dan pelawak bisa hidup berdampingan dalam suatu pulau kecil yang dikelilingi laut, itu berada di nomor empat dalam “tiga ratus tujuh puluh enam hal yang akan membuat ubun-ubun Anda kedutan”.

 

Yang agak benar dari stereotip tentang orang-orang Ambon adalah keahlian mereka bernyanyi dan menari. Kalau anak indie menyeruput kopi tiap senja, di sini, nyaris saban hari, beberapa orang merayakan sore dengan menari. Malamnya, beberapa orang gegonjrengan dengan suara serak-serak basah yang saling berpilin satu sama lain.

 

Lagu kegemaran mereka adalah Maluku Tanah Pusaka. Itu lagu bagus sekali dan membuat saya berkeinginan berlari-lari sambil bertelanjang dada sambil merentangkan tangan dan sambil menyanyikan lagu ini keras-keras di jalan raya pada siang hari. Tapi saya segera sadar, alih-alih heroik, terik matahari akan membikin saya segera tersungkur di aspal dalam tiga menit.

 

Setiap bertemu orang saya selalu dipanggil nyong atau bu (semacam “mas”) atau abang atau kakak atau om atau adik. Seperti di wilayah di Indonesia kebanyakan, hierarki sosial berdasar tua-muda juga kental di sini. Kami diterima sebagai keluarga. Katong samua basudara. Maka dari itu, ketika Dicky dan Sony, teman kami, karena suatu hal mesti pulang terlebih dulu, beberapa dari penghuni asrama menasihati mereka agar menjadi pribadi yang lebih baik dan mampir-mampirlah kalau ke Maluku lagi.

 

Semenjak kepulangan itu, nyaris setiap malam, di latar belakangi nyanyian dan gitar, saya melihat kak Tinus berdiri di halaman sendirian. Menatap bulan.[]

 

 

Irfan S. Fauzi
Takmir Liqo Akar Sungai, komunitas sastra Kampus IV UNS Surakarta. Surel: [email protected]