Oleh: Udji Kayang Aditya Supriyanto

 

aku selalu suka

sehabis hujan di bulan Desember

(Efek Rumah Kaca – Desember)

 

MAHASISWA SELALU suka sehabis tugas dan ujian di bulan Desember. Senada dengan lagu Desember yang terkutip. Kita lega, berarti selera musik mahasiswa kita sudah baik. Kalau kenal Desember, minimal mereka kenal Efek Rumah Kaca, Pandai Besi, Sajama Cut, dan Christabel Annora. Keempatnya musisi ampuh yang pernah membawakan lagu Desember dengan corak masing-masing. Anggota LPM Kentingan, yang suka iseng menyanyi-nyanyi lebih baik tidak usah dihitung. Mereka penyanyi bersuara pas-pasan yang gemar pamer vokal ke sekretariat sebelah: PSM Voca Erudita. Sungguh tidak tahu malu.

 

 

Meski kita begitu keras dalam perkara agama, semisal umat Islam yang mengutuk ucapan seorang Kristen keturunan Tionghoa, nyatanya mahasiswa kita punya toleransi yang baik di bulan Desember. Mahasiswa kita, apa pun agama di KTP-nya, turut serta merasakan kebahagiaan Natal. Tanggal 25 Desember, atau satu-dua hari sebelumnya, sering dipatok jadi tenggat akhir kuliah semester ganjil. Natal berarti libur bagi semua. Mahasiswa bisa segera mudik ke kampung halaman masing-masing, melarikan diri dari hiruk-pikuk kampus yang menjejal sibuk. Di rumah, mereka dapat bersantai menikmati tayangan Home Alone atau Baby’s Day Out di televisi, kalau tidak disuruh orangtua mengurus pekerjaan rumah sih.

 

 

Selain liburan, Natal juga berarti kemunculan secara pelan-pelan sekian nilai tugas dan ujian. Di saat-saat begitu mahasiswa tidak bisa tiduran saja di atas gumpalan awan atau dada kekasihnya, ibarat Syair Pindah Rumah karya Agus R. Sarjono (mahasiswa yang antisastra jelas tak mengenal puisi ini). Mereka mesti nongkrong di hadapan teman lama: siakad.uns.ac.id. Apakah ada mahasiswa yang tidak menanti kepastian IPK-nya? Seharusnya sih tidak ada.

 

 

Mahasiswa universitas sebelah kebun binatang jangan percaya kalau ada aktivis, apalagi birokrat yang bilang “kuliah bukan untuk mencari IPK”. Bohong, benar-benar bohong. Kalau bukan IPK, apa sih yang bisa dicari di perkuliahan? Memangnya selama ini kita dapat pengetahuan yang memuaskan di kelas? Aih, dosen sosiologi banyak yang tak punya basis keilmuan kuat, dosen sastra malas baca sastra, dosen bahasa Indonesia malah jadi motivator, lalu apalagi yang kita harapkan? Ya sudah, IPK saja cukup toh, bisa buat melamar kerja atau pamer ke calon mertua.

 

 

“Andik Vermansyah menguasai bola… cantik sekali Andik Vermansyah… umpan pada Zulham Zamrun… Zulham Zamrun menendang bola… tidak jelas…” Bahasa yang digunakan komentator bola selama Timnas Indonesia bertanding di AFF lumayan cocok untuk menggambarkan nalar sebagian dosen dalam memberi nilai ke mahasiswa, yang kelak menentukan IPK-nya. Akui saja, pasti ada dosen yang memberikan nilai pasti A untuk mahasiswi yang “cantik sekali”, dan di sisi lain ada juga dosen menyebalkan yang memberi nilai “tidak jelas” bagi mahasiswa-mahasiswinya. Sebenarnya aku ada cerita sepengalamanku sebagai mahasiswa tentang penilaian dosen yang “cantik sekali” dan “tidak jelas”. Tapi, malas ah… []


 

 

Udji Kayang Aditya Supriyanto. Seorang yang memimpikan Slipknot bawakan lagu Desember sambil kibarkan bendera Slank di Wacken Open Air.