Perubahan iklim tak bisa dipisahkan dari pengelolaan sampah. Tentu ada faktor lain yang turut menentukan perubahan iklim. Kendati demikian, sampah perlu disorot dalam porsi lebih dari faktor lain. Sebabnya, sederhana, manusia begitu mudah membuang sampah di manapun. Entah memang tempatnya, entah bukan. Masalah sampah juga masih dijumpai di kota seindah Bandung. Serius.

“Ada beberapa yang sudah sadar, buang sampah di tempatnya. Ada yang sembarangan. Masih labil warga Bandung mah,” ujar mahasiswa Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (DKV FSRD ITB), Fuad. Begitu pula dengan mahasiswa, Fuad menambahkan, “labil juga. Ada yang kadang habis merokok, puntungnya dikantongi. Ada yang masih sembarangan.”

Selain kebiasaan buang sampah sembarangan, masalah lain ada di pengelolaannya. Di Indonesia, masih banyak yang suka menamatkan riwayat sampah dengan cara paling mudah: membakarnya! Perilaku demikian biasa dijumpai di kampung-kampung, dan umumnya oleh orang-orang yang belum memiliki pemahaman dan kesadaran lingkungan. Kasusnya akan menarik bila yang melakukan “kejahatan lingkungan” adalah kalangan akademisi, misalnya mahasiswa.

Banalitas Demonstrasi

Sering dijumpai di jalan-jalan, demonstrasi mahasiswa ditunaikan dengan memblokir jalan dan membakar ban. Meski tak pernah seakbar tahun 1966 atau 1998, setiap aksi mereka selalu mengubah sementara interaksi sosial sehari-hari di lokasi demonstrasi. “Biasanya aksi demonstrasi mahasiswa itu di jalan Ir. H. Juanda,” ujar Karim, personil tim media Earth Hour Bandung. Misalnya aksi Aliansi Mahasiswa Bandung (AMB) akhir tahun 2014 lalu, mereka memblokir jalan Ir. H. Juanda, lantas membakar ban bekas di sana.

Pertanyaannya, mengapa para aktivis mahasiswa, yang memiliki akses tinggi pada ilmu pengetahuan, justru berkontribusi pada perusakan lingkungan yang menentukan perubahan iklim ke arah negatif? Pemblokiran jalan menyebabkan kemacetan, dan saat macet, konsumsi energi kendaraan bermotor melunjak. Belum lagi, polusi udara yang dihasilkan, lebih banyak daripada ketika kondisi jalan normal.

Pembakaran ban bekas lebih ngeri lagi. Ban bekas terbuat dari karet, yang mengandung zat kimia Isobutene Isoprene Rubber. Bila dibakar, ban bekas akan menghasilkan gas karbon monoksida (CO) dan gas karbon dioksida (CO2). Kedua zat itu bersifat merusak atmosfer, dan dampak langsungnya, merusak kesehatan siapapun yang menghirup asap pembakaran ban bekas itu.

Corak Baru Aktivisme Mahasiswa

Di dekat masjid Salman ITB, ada satu lapak buku pinggir jalan. Di lapak itu, dipajang buku-buku bercorak aktivisme, semisal karya Tan Malaka. Namun tatkala ditanya, apakah mahasiswa ITB sering berdemonstrasi? Penjual buku di sana justru menjawab, “jarang sekali, mungkin dulu pernah.” Sementara buku-buku seperti Aksi Massa, Naar de Republik, juga buku lain bercorak aktivisme diperdagangkan dengan bebas, mengapa mahasiswa ITB justru enggan berdemonstrasi?

Finiko, Mahasiswa ITB, sepakat tentang jarangnya mahasiswa ITB berdemonstrasi. “Kalau di universitas lain kan namanya BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), di sini Kabinet KM-ITB (Kabinet Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Bandung),” paparnya. “Perannya mirip OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) kalau di sekolah-sekolah begitu,” tambahnya. Namun, sebagai aktivis mahasiswa, tentu perannya tidak boleh sekadar internal kampus saja. Harus ada aksi keluar!

Alih-alih berdemonstrasi, aktivis mahasiswa ITB bergerak lebih subtil. Misalnya, saat merespon isu asap pembakaran hutan, aktivis mahasiswa ITB melakukan galang dana untuk korban-korban asap pembakaran hutan tersebut. Bukannya dengan berdemonstrasi membakar ban bekas, korban asap pembakarannya malah semakin banyak dong!

Udji Kayang Aditya Supriyanto

Mahasiswa Sosiologi UNS