Oleh: Fatih Abdulbari

 

SUATU siang yang cerah, di sebuah kantin SMA, duduk berhadapan seorang anak remaja 16 tahun yang lugu tanpa dosa dengan seorang karyawan sekolah yang dekat dengannya. Mereka membicarakan sebuah isu yang sedang viral.

 

Si anak kukuh mempertahankan argumennya bahwa seseorang yang sedang hangat diperbincangkan kala itu – yang berasal dari golongan yang sama dengan si anak – tidak bersalah. Orang tersebut dituduh mengkorupsi duit jatah makan ayam. Dengan berbagai argumentasi yang melibatkan pemahaman pribadi dan sesekali kutipan kitab suci, si anak membuat dirinya seolah-olah yang paling benar.

 

Suasana kantin jadi panas, para pelahap makanan yang berada di sekitarnya menjadi tertarik dan ikut membenarkan si anak. Mereka ikut-ikutan memberikan argumennya masing-masing yang semakin memperkuat pendapat si anak lugu ini. Oh, ada juga yang mendebat, tapi dengan sarkas. Para pendukung si anak alias pendukung koruptor makanan ayam ini segera membantahnya, lagipula mereka kelompok mayoritas di kantin itu. Sedangkan si karyawan tampak asik mendengarkan perdebatan yang terjadi sambil memakan nasi soto hangat ditambah es teh manis kesukaannya.

 

Sementara perdebatan terus terjadi, si karyawan malah asik menghabiskan sendok demi sendok terakhir dari sotonya, padahal karyawanlah yang awalnya memulai obrolan ini pada si anak. Sembari menenggak es teh manisnya, karyawan terus mendengarkan argumentasi si anak dan pendukungnya, sesekali ia mengangguk dengan serius kemudian mulai menenggak lagi es teh manisnya. Si anak berargumen, kemana uang makanan ayam itu bisa pergi dari kas negara dan bagaimana tipuan yang dihadapi si koruptor itu sehingga duit haram itu bisa berada di kantongnya ketika diperiksa oleh Komisi Pemberantas Rasuah. Eh, si karyawan malah membeli tambahan minum jeruk hangat.

 

Setelah diskusi mereda karena masing-masing anak telah menyampaikan argumennya, lagipula waktu istirahat siang itu akan segera usai, si karyawan menghabiskan tegukan terakhir jeruk hangatnya. Karena pada saat itu hanya dia yang belum memberi pendapat, apalagi dialah yang memulai diskusi ini. Seisi kantin memandangnya, berharap ia akan bicara untuk membenarkan atau menyalahkan salah satu pihak.

 

Maka, setelah yakin tetesan terakhir jeruk hangat itu sudah berada di perutnya, sang karyawan, dengan raut muka agak kesal, bersabda. “Kalian semua hanya fanatik. Kuberitahu ya, fanatiklah pada kebenaran, bukan golongan.” Setelah itu dia berdiri dan dengan santai meninggalkan kantin ditatap mata heran seisi kantin.

 

Si anak yang rupanya agak lebih cerdas dari teman-temannya yang lain, langsung tersadar bahwa dia salah. Tidak seperti teman-teman lainnya yang lantas mengejek si karyawan, si anak sadar bahwa bukan saatnya membela si koruptor sementara belum terbukti dia benar atau salah, apalagi segera menuduh aparat yang dikiranya mau menjatuhkan citra golongan. Si anak sekarang yakin kalau dia harus membela kebenaran, bukan golongan.

 

Serius!

 

Fanatisme adalah paham yang menunjukkan ketertarikan terhadap sesuatu secara berlebihan. Seorang yang fanatik memiliki standar ketat dalam pola pikirnya dan cenderung tidak mau mendengarkan opini maupun ide yang dianggapnya bertentangan. Dalam buku Crazy Talk, Stupid Talk (1976), Neil Postman berkata “some beliefs are fanatical not because they are ‘false’, but expressed in such a way that they can never be shown to be false.

 

Postman menjelaskan dengan lugas bahwa orang-orang bukan fanatik karena mereka paling benar (Postman menggunakan kata false yang ku artikan sebagai keraguannya dalam menyebut perkara ini), mereka fanatik karena mereka disajikan pemikiran yang sedemikian rupa sehingga mereka seolah-olah tidak akan pernah terbukti keliru. Pemahaman yang menyatakan bahwa seseorang, golongan, negara, ide, atau pemikiran  itu benar, ditambah menyebar di kalangan masyarakat yang dengan senang hati mempercayainya, dan juga pengetahuan yang terbatas akan golongan lainnya akan menimbulkan fanatisme.

 

Bentuk-bentuk fanatisme bisa dalam fanatisme etnik atau rasial, fanatisme dalam olahraga, kemudian ada fanatisme agama, fanatisme ideologi atau politik dan fanatisme golongan, patriotisme dan nasionalisme juga termasuk bentuk dari fanatisme. Oiya, ada tambahan baru mengenai jenis fanatisme yang tanpa sengaja tersebut oleh Ririn Setyowati, yaitu Kampusionalisme (Baca: Menara Gading yang Tak Juga Retak)

 

Jangankan di Indonesia, di kampus kita ini saja banyak sekali bentuk fanatisme. Menurutku fanatisme yang paling berbahaya di kampus adalah fanatisme agama. Bayangkan, ada empat tempat ibadah di kampus dengan organisasinya di tiap-tiap rumah ibadah. Tapi sedikit komunikasi saja tidak terjalin antara organisasi-organisasi ini, bisa-bisa terjadi kesalahpahaman.

 

Atau antara Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Kentingan – yang senang buat rusuh itu – dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) juga tidak terjalin hubungan apapun selain bertukar surat pinjam barang. Ditambah banyaknya partai, perusahaan, organisasi, dan golongan agama yang masuk ke kampus makin memperkeruh fanatisme golongan di kampus. Aduh, ruwet ya? Pokoknya komunikasi yang tidak bagus inilah yang ku takutkan nantinya membentuk fanatisme dan kekacauan yang ditimbulkannya lebih lanjut.

 

Aku tidak melarangmu untuk berfanatik ria. Setiap orang tentu saja tidak mungkin lepas dari fanatisme, tapi setiap orang bisa memilih bagaimana mereka berfanatik. Silakan saja kamu pilih golongan, negara, dan pemikiran yang kamu sukai, tapi sadarlah bahwa mereka bisa salah, dan ketika mereka salah jangan dibela, bilanglah mereka salah. Dan sebaliknya, golongan lain bisa saja lebih benar darimu, dan jika memang benar begitu, benarkan, jangan disalahkan. Jangan lupa baca banyak buku, perbanyak bergaul dengan orang lain dari berbagai macam golongan dan mulailah diskusi supaya pemikiranmu beragam.

 

Jadi? Fanatiklah pada kebenaran, bukan golongan.[]

 


fatih-abdulbariFatih Abdulbari. Mahasiswa yang bercita-cita untuk tidur selama dua tahun dan terbangun dengan gelar sarjana. Selain sedang menjalani tahun keduanya di neraka akademik dan menghadapi gunungan tugas, dia juga sedang berusaha memahami tumpukan buku yang dibelinya hingga berhutang sana-sini. Bisa dihubungi via surel [email protected]