Indira Nurul Qomariah (22), mahasiswi Biologi FMIPA UNS sekaligus duta lingkungan hidup, baru saja dilantik oleh Duta Besar Amerika Serikat dalam program tahunan Young Southeast Asian Leader Innitiative (YSEALI). Berbekal kecintaannya terhadap animal science dan kesehatan lingkungan, Indira berkiprah nyata dalam rangka menyelamatkan satu-satunya planet tempat umat manusia bersama makhluk hidup lain mempertahankan kehidupan. Ketekunannya telah mengantarkannya pada training duta lingkungan di Kamboja selama seminggu.

YSEALI (Young Southeast Asian Leader Innitiative) merupakan program tahunan yang diadakan oleh Kedutaan Amerika Serikat untuk mencetak pemuda-pemuda hebat berjiwa pemimpin di Asia Tenggara. YSEALI di Kamboja tahun ini mengusung tema “Generation EARTH (Environment, Advocacy, Responsibility, Teamwork, and Hope)”. Workshop ini diselenggarakan di Phnom Penh, Kamboja dan bekerjasama dengan Cultural Vistas dan Pannasastra University of Cambodia.

Workshop yang berlangsung pada tanggal 22-25 April 2015 ini terdiri atas 72 peserta dari sepuluh negara ASEAN, 12 mentor dari ASEAN, dan 12 mentor dari Amerika Serikat yang berusia 18-25 tahun. Dalam ajang ini, terdapat delapan orang sebagai delegasi dari Indonesia, yakni Abyan Rai Fauzan Machmudin, Arifuddin Jamil, Dendy Primanandi, Indira Nurul Qomariah, Lismawati Lapasi, Margaretha Marpaung, Reza Bayu Firmansyah, dan Yose Fernandes. Semuanya berasal dari latar belakang pendidikan, budaya, bahasa, dan sosial yang berbeda.

Workshop YSEALI Generation EARTH berisi materi mengenai lingkungan serta field trip. Materi workshop membahas beberapa permasalahan lingkungan yang ada di ASEAN dan Amerika Serikat, serta upaya apa saja yang telah dibuat. Field trip dilaksankan di Kampong Tbeng, Angkor Centre for Conservation of Biodiversity (ACCB), dan Kampong Apung Plok, bertujuan untuk reforestasi hutan Tbeng dan mempelajari konservasi satwa di Kamboja yang meliputi proses penyelamatan hewan, rehabilitasi, dan pelepasliaran. Para peserta belajar mengenai manajemen air bersih, manajemen pengelolaan sumber daya alam, serta eco-tourism yang berkelanjutan. Kompleksitas manajemen pengelolaan alam ini dilatarbelakangi oleh pelbagai masalah lingkungan yang dihadapi dunia terutama di kawasan ASEAN. Masalah yang banyak ditemui di negara-negara berkembang di ASEAN, antara lain: eksploitasi sumber daya alam yang tidak memperhatikan etika lingkungan hidup, penebangan dan pembakaran hutan, serta perburuan satwa liar dan penangkapan hasil laut yang berlebihan sehingga menyebabkan ketidakstabilan ekosistem. Selain itu, bencana alam seperti badai, banjir, topan, gempa bumi, gunung meletus, kekeringan dan minimnya ketersediaan air bersih terjadi di mana-mana. Untuk itu, dibutuhkan manajemen pengelolaan lingkungan yang baik di mana manusia tetap bisa menggunakan hasil alam tetapi dalam batas wajar, sehingga tidak mengganggu kesejahteraan satwa dan keseimbangan ekosistem.

ASEAN memiliki beragam potensi alam, terutama Indonesia yang merupakan negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Tingginya biodiversitas ini menjadi suatu potensi yang luar biasa bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan kemakmuran bangsa. Namun, satu yang perlu dikhawatirkan adalah pengelolaan agar eksplorasi, eksploitasi tidak berlebihan dan beriringan dengan konservasi untuk dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Pengelolaan lingkungan tidak hanya tanggung jawab penduduk di daerah yang bersangkutan, tetapi juga seluruh warga dunia, karena alam di bumi ini saling berhubungan. Media sosial dan teknologi harus dioptimalkan untuk manajemen proyek. Lebih jauh lagi, seluruh pemegang kepentingan (stakeholders) seperti pemerintah, pengusaha, LSM, akademisi, dan masyarakat umum, harus digerakkan serempak dalam upaya penyelamatan lingkungan. (Anindita)