Ilustrasi: Abi Rizki Alviandri/LPM Kentingan

 

Bagaimana ya, wajah hari buruh 100 tahun yang akan datang?

 

Demonstrasi Buruh pada tanggal 1 Mei bisa dibilang hal yang biasa. Bentuknya pun beragam, dari jalan santai sampai lempar-melempar molotov. Akan tetapi, isu yang disampaikan secara garis besar tetap sama, yaitu keadilan dan kesejahteraan untuk buruh. Mengingat betapa krusialnya peran mereka dalam pembangunan suatu negara, masuk akal jika para buruh akan selalu menuntut untuk mendapatkan upah yang lebih tinggi dan kondisi kerja yang lebih baik.
Namun, apakah seruan-seruan ini akan tetap terdengar di masa yang akan datang?

 

Gelombang otomatisasi industri kerap mempertanyakan kedudukan manusia sebagai sumber tenaga kerja yang utama. Hal ini dikarenakan mesin dan robot perlahan mulai menggantikan manusia sebagai tenaga kerja yang dapat diandalkan. Salah satu riset International Labour Organization (ILO) menyebutkan bahwa robot menyebabkan penurunan angka pekerjaan global sebesar 1.3% antara 2005 dan 2014, dengan dampak yang lebih besar terlihat di negara-negara berkembang. Terlebih lagi dengan revolusi Industri 4.0, hanya masalah waktu sampai otomatisasi dan digitalisasi industri menjadi fokus utama dalam upaya memajukan perkembangan ekonomi dalam negeri.

 

Memang beberapa ahli ada yang berpendapat bahwa otomatisasi Industri dan digitalisasi akan melahirkan lebih banyak kesempatan kerja baru dalam jangka panjangnya. Seperti halnya penggunaan komputer yang membuka jutaan lapangan pekerjaan baru kepada orang-orang di dunia. Akan tetapi kita tidak dapat memungkiri bahwa robot dan mesin sudah mulai menggantikan manusia dalam pekerjaan tertentu seperti dalam bidang manufaktur barang dan perbankan. Kita tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa banyak buruh terpaksa kehilangan mata pencaharian mereka.

 

Terlepas dari semua perdebatan, hari buruh beberapa dekade yang akan datang akan menjadi tontonan yang menarik. Isu apakah yang akan diserukan orang-orang saat mereka berdemonstrasi di jalanan nanti? Akankah mereka menuntut pekerjaan mereka kembali? Atau ternyata mereka sudah berdamai dengan ide otomatisasi industri? Ketika robot dan mesin menjadi cukup cerdas untuk menyadari betapa berharga diri mereka, mungkinkah isu hak-hak robot menjadi wajah hari buruh selanjutnya?

 

Saat tiba saatnya robot-robot turun ke jalanan untuk menuntut keadilan, semoga saja mereka datang dengan damai.[]

 

Ilustrator: Abi Rizki Alviandri

Penulis: Abi Rizki Alviandri