Oleh: Wahyu Wibowo

BULUTANGKIS telah memperkenalkan dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Pelbagai turnamen internasional semisal Olimpiade, kejuaraan dunia, Asian Games, atau ajang bergengsi lainnya, para altet Indonesia sering meraih prestasi terbaik. Medali emas, perak, dan perunggu dipersembahkan bagi bangsa. Lemari piala bangsa jadi memiliki cerita istimewa dan turut berbangga masuk dalam sejarah.

Sayangnya, kabar akhir-akhir ini justru mengabarkan kepiluan. Prestasi para pebulutangkis Indonesia mengalami pasang surut. Kejayaan bulutangkis yang mulai dikenal sejak era 1958-an perlahan-lahan luntur. Kategori andalan perlahan memudar padahal perkembangan generasi selanjutnya belum terlalu menjanjikan. Catatan demi catatan berisikan kecewaan dan kegagalan. Bahkan pelbagai negara mulai diperhitungkan dunia dan melampaui pencapaian yang raih Indonesia.

Pesta kemenangan sebagai ungkapan ekspresi kegembiraan dan kebanggaan pada mula kejayaan bulutangkis Indonesia (Bandung Mawardi, 2015), kini jarang didapati. Justru, kita sering mendapatkan pengharapan yang tak berbalas. Kita malah dibuat iri saat acara pengukuhan kemenangan. Bendera negara lain berkibar dan lagu kebangsaan dikumandangkan.

Sayap para garuda terlampau manja untuk menggerakkan bulu yang terjaring di bola bulutangkis. Program yang digagas pelatih dan pemerintah belum terlalu padu bagi mereka. Meski begitu, Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) selaku organisasi yang menaungi bulutangkis akan berupaya sekuat tenaga. Perbaikan diupayakan dengan kefokusan berlipat ganda. Harian Kompas (21 Oktober 2015) mengungkapkan hal itu. PBSI akan mengevaluasi secara besar-besar. Sajian pemikiran lama sudah tak pantas dipakai. Imajinasi tindakan baru diharap bisa berjalan sesuai harapan. Memberikan jawaban setimpal daripada membiarkan keadaan yang terus membikin kepiluan.

PBSI juga akan lebih memperhatikan para atletnya. Target mengirimkan pebulutangkis maksimal pada Olimpiade yang tinggal hitungan bulan harus tercapai. Karena itu, PBSI sadar diri bahwa target akan tercapai bila diimbangi kepedulian terhadap para atletnya. Yang paling menjadi persoalan adalah masalah pendanaan. Kita bercuriga PBSI tertampar setelah melihat ramainya media daring menyebarkan foto Tommy Sugiarto bersama Rashid Sidek, mantan pelatih tim nasional. Foto itu diambil saat Tommy Sugiarto mengikuti Yonex Denmark Open Superseries Premier 2015.

Pebulutangkis nonpelatnas itu bermitra dengan klub Sports Affairs Malaysia oleh karena keterbatasan dana. Ia butuh sponsor yang bersedia membiayai segala keperluan turnamen guna mendulang poin sebagai syarat menjadi peserta Olimpiade 2016. Sebelumnya, lagi-lagi karena keterbatasan dana, Tommy Sugiarto membatasi dirinya mengikuti turnamen dan memilih tidak mengajak pelatih ketika mengikuti turnamen di benua Eropa.

Kehormatan Bangsa

Olahraga bulutangkis pernah memosisikan Indonesia sebagai negara terkuat di dunia. Pesta kemenangan selalu mewarnai di tiap-tiap turnamen bergengsi. Mata selalu ingin menyaksikan kejayaan Indonesia. Popularitas bulutangkis Indonesia melonjak tajam. Indonesia disegani dan dihormati oleh tiap negara.

Indonesia terhormat melalui bulutangkis. Soekarno (1962) saat masih menjadi presiden pernah menegaskan hal tersebut. Ia berpesan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak menjadikan bulutangkis semata-mata sebagai olahraga. Ia pula tidak menghendaki pelbagai olahraga hanya untuk kepentingan pribadi. Bangsa berhak terlibat atas kesukaan itu. Bangsa Indonesia berhak mendapat pengakuan sebagai bangsa juara olahraga.

Namun, bergabungnya Tommy Sugiarto dengan klub bulutangkis negara tetangga seolah menciderai kehormatan bangsa. PBSI terlihat tidak becus mengurus dan melakukan pembinaan bulutangkis bangsa. Beberapa pebulutangkis Indonesia lebih memilih keluar dari pelatnas. Selain Tommy Sugiarto, terdapat deretan pemain yang pernah menjadi ujung tombak bangsa untuk berpesta kemenangan. Markis Kido, Sony Dwi Kuncoro, Simon Santoso, dan Vita Marisa merupakan sedikit dari deretan itu. Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi PBSI.

Kita sudah terlalu lama menyaksi kelunturan tanda kehormatan itu. Cina, Korea Selatan, dan Denmark menjadi barisan terdepan yang merebutnya. Bahkan Jepang, India, dan Thailand turut merampas kebanggaan itu. Bulutangkis termasuk tema besar sejarah bangsa. Pengembalian kepercayaan dan etos kebersamaan mesti disegerakan agar terlepas rasa trauma yang telah lama membelenggu, yang bila dibiarkan akan bertanda penyesalan bagi bangsa. []

(Sumer foto: olahraga.kompas.com)


Wahyu WibowoWahyu Wibowo. Pembaca koran, buku, dan majalah, serta belajar menulis di Bilik Literasi.