Buku adalah sumber ilmu pengetahuan. Maka dari itu, seorang intelektual, seorang yang mendasarkan segala sesuatu berdasarkan ilmu pengetahuan tidak dapat dilepaskan dari keberadaan buku-buku. Buku pun sering kali menjadi satu-satunya bukti sejarah perkembangan intelektual di dunia.

Sekitar tiga minggu yang lalu (13/6), Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta meluluskan 1440 mahasiswanya dalam Upacara Wisuda Periode IV di auditorium UNS. Di luar gedung itu, banyak didirikan lapak-lapak yang membuka jasa foto wisuda. Berpuluh-puluh lapak itu sama-sama memamerkan rak-rak berisi penuh buku-buku sebagai latar foto para wisudawan. Pemandangan seperti itu selalu muncul setiap gelaran wisuda. Dari tahun ke tahun selalu sama dan peminatnya semakin bertambah.

Bahkan hal itu tidak hanya berlaku di tingkat perguruan tinggi. Sekarang, tradisi berfoto wisuda dengan latar seperti itu telah merambah ke semua tingkat pendidikan, termasuk Taman Kanak-kanak (TK). Dan biasanya foto bernuansa kebahagiaan itu akan dipasang di ruang tamu. Tentunya agar dapat dilihat oleh para tamu di rumah sekaligus menginformasikan bahwa sang anak tuan rumah telah berhasil lulus dari sebuah jenjang pendidikan.

Buku, pendidikan, dan intelektualitas menjadi satu kesatuan yang sulit untuk dipisah-pisahkan. Sebagaimana nasihat seorang guru pada muridnya, “Tugas utama seorang pelajar adalah membaca.” Dengan membaca buku-buku diharapkan dapat menunjang tingkat intelektualitas seseorang, khususnya civitas akademika. Maka tidak heran jika latar rak berisi penuh buku-buku menjadi simbol yang penting bagi seseorang yang telah lulus dari sebuah jenjang pendidikan.

Tak lebih dari 500 meter dari lokasi wisuda tersebut, tepatnya di Student Center UNS digelar bazar buku murah bertajuk Solo Membaca 2015. Di sana dijual ribuan judul buku seharga Rp3.000-Rp150.000. Asli! Namun sayang, pengunjung dalam bazar buku hari itu tidak seramai lapak-lapak foto wisuda. Para sarjana lebih suka antre dan berdesak-desakan agar dapat berfoto dengan “gambar buku” dari pada mendatangi bazar buku dan berebut buku yang sesungguhnya. Para wisudawan sudah puas ketika dapat berfoto dengan “gambar buku”.

Gambar buku menjadi simbol kekayaan literasi seorang sarjana. Padahal sesungguhnya kalau mau ditelisik lebih dalam, kekayaan literasi para sarjana itu sangat minim sekali. Sebagai buktinya, dalam sebuah seminar yang digelar jurusan Sastra Indonesia UNS untuk memperingati bulan Sastra Indonesia, Mei lalu, muncul celetukan dari pembica, Afifah Afra. “Siapa di dalam ruangan ini yang memiliki lebih dari 100 judul buku non-buku perkuliahan?” tanya Afifah. Dari sekitar 150 mahasiswa semua angkatan Sastra Indonesia UNS yang hadir, hanya ada satu orang yang mengacungkan jari. Memprihatinkan menurut saya. Namun hal itu tidak berlaku ketika foto wisuda nanti. Semua mahasiswa itu, baik yang memiliki buku atau tidak, baik yang hobi membaca atau tidak, akan berfoto dengan latar buku yang sama.

Kabar tentang minimnya minat baca para mahasiswa ataupun sarjana, rupanya telah diketahui oleh masyarakat umum. Mahasiswa-mahasiswa yang hobi membeli buku pun tidak luput dari citra buruk tersebut. Pada awal Februari 2015 lalu, saya pergi ke toko buku loak di daerah Gladak, Surakarta. Tak banyak memang masyarakat Solo yang tahu lokasi toko buku loak ini. Sehingga bukan hal yang janggal kalau setiap kali berkunjung ke sana, jumlah pengunjungnya dapat dihitung dengan jari tangan. Nasib toko buku ini mirip dengan nasib perpustakaan-perpustakaan di Indonesia. Sepi.

Dari sekitar lima belasan kios yang ada di sana, saya telusuri satu persatu. Hingga di kios paling sudut belakang, saya menemukan Dokter Zhivago karya Boris Pasternak. Novel fenomenal yang telah menyabet gelar pemenang Nobel dan diterjemahkan Trisno Sumardjo pada 1960 itu ditawarkan seharga Rp30.000 oleh Mbak-mbak penjualnya. Saya tawar Rp20.000, tapi tidak lekas dilepas. Ia bilang ini buku langka. Sambil membuka-buka halaman demi halaman serta melihat kondisi buku yang sedikit rusak di bagian sampul dan robeknya halaman 5-6, menjadi alasan kuat bagi saya untuk menawar harga. Dan memang, akhirnya buku itu dilepas dengan harga Rp25.000. Tapi ada suatu kenangan yang mendalam ketika buku itu diserahkan pada saya. “Halaman yang robek itu masih bisa disolasi kok Mas. Atau dibiarkan saja begitu. Paling-paling buku itu juga tidak kamu baca kan? Cuma ditumpuk saja di rumah,” sindir Mbak-mbak penjualnya. Seketika tubuh saya seperti tersambar petir. Saya merasa aib terbesar sebagai seorang calon sarjana telah “ditelanjangi”, bahwa sarjana sekarang itu tanpa membaca pun dapat lulus kuliah.

Saya jadi teringat cerpen Utuy Tatang Sontani yang berjudul Badut. Cerpen ini berkisah tentang seorang sep yang hobi membawa buku ke mana-mana. Namun sejatinya, buku itu tidak pernah ia baca. Ia hanya membawanya agar terlihat sebagai seorang yang cerdas, intelek, dan berpendidikan. Kata-kata yang dikeluarkannya selalu menggunakan “isme-isme” Barat. Namun tidak ada isinya.

Demikianlah, selain membawa banyak pengetahuan, rupanya buku juga membawa citra intelektual bagi para pemilik maupun pembacanya. Terserah kita mau menjadikan buku sebagai simbol atau buku sebagai pengayaan intelektual agar tidak dikatakan intelektual palsu. Wahai para calon sarjana, masih minatkah dengan foto wisuda berlatar gambar buku?

Hanputro Widyono

Sastra Indonesia, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta