Rintik hujan masih berjatuhan dengan lembutnya. Mendarat di permukaan semua benda yang beratapkan langit angkasa. Dan angin yang menghembuskan kelembaban ke dalam tubuh menembus daging menohok  tulang. Sang mentari pun kini sedang bersembunyi memurungkan diri, sembunyikan cahaya dengan rapi di balik awan kelabu  sore ini. Dalam kesunyian ku tetap langkahkan kakiku tuk berjalan ke tempat tujuan. “Bentar lagi sampai!”, seru batinku menyemangati diri sendiri. Dan setelah beberapa menit akhirnya aku pun sampai di tempat yang aku harapkan. Gedung Indah Ceria (GIC), inilah tempat yang aku tuju. Tempat dimana akhir-akhir ini sering ku hasbiskan waktu di sana untuk berdiskusi, belajar bahkan bermain. Gedung ini merupakan basecampdaripada anak-anak imigran. Layaknya mahasiswa pada umumnya, mahasiswa-mahasiswa imigran ini pun membentuk suatu kelompok yang mereka namakan dengan Himpunan Mahasiswa Imigran (HMI).

###

Ada siang ada malam, ada gelap ada terang, ada kuat ada lemah, beginilah kehidupan. Semua diciptakan secara simetris dan saling bertolak belakang. Ketika ada suatu gerakan HMI yang dianggap menyimpang oleh Kesatuan Anti Mahasiswa Imigran (KAMI), maka pergerakan tersebut akan terus dimonitoring secara perlahan tapi pasti. Dan akan melakukan tindakan yang menurutnya juga paling benar. Sebagai mahasiswa  asli Indonesia, aku lebih memilih bergabung dengan KAMI, karena orang-orang imigran memiliki tingkah laku yang kurang sesuai dengan sikap yang seharusnya menurut orang Indonesia. Padahal mereka tinggal di sini, jadi seharusnya mereka menghormati sedikit mengenai tradisi-tradisi yang telah ada.

####

Suatu pagi ada teman sekelasku yang juga terlambat, karena perkuliahan dimulai seperempat jam lebih awal dari jadwal biasanya. Sesuai kontrak awal perkuliahan dari dosen tersebut, setelah 10 menit perkuliahan dimulai, mahasiswa yang terlambat dilarang masuk ruangan. Jadilah aku patung selamat datang di luar ruangan tersebut. Sepertinya ada juga yang telat selain aku.  Alhasil dugaanku pun tepat. Terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa. “Deth! Kamu telat?” tanyaku pada Detha. “Bah iya, An. Kamu juga kan?” tanya Detha dengan muka girang, seperti menemukan rekan dalam kejahatan. “Kamu kenapa telat?” aku kembali bertanya padanya. “Aku bangun kesiangan. Kalo kamu kenapa telat? Kan biasanya berangkat paling awal?” Sambil tersenyum kecut, aku menjawab, “aku nggak baca jarkom yang di kirim Ipeh, ternyata kuliah dimajuin seperempat jam.” “Haha…” terdengar tawa Detha yang sangat jelas, padat dan singkat. Dalam batin ku bersyukur karena ada teman yang telat juga, tapi kecewa karena tidak bisa mengikuti kuliah pagi ini padahal 3 sks. Kuputuskan untuk pulang saja, karena kuliah hari ini hanya pagi ini. “Deth, aku mau pulang aja lah. Buat apa disini, lagian nanti juga sudah nggak ada kuliah.” Ucapku dengan nada mengajak dan meyakinkan. “Iya betul betul betul,” jawabnya mengimitasi salah satu kartun negeri tetangga. Aku ditawari Dheeta untuk diantar, aku terima ajakan itu. Tetapi mampir ke kontrakannya, katanya mau mengambil sesuatu yang ketinggalan untuk dibawa ke tempat lain.  Ternyata Detha mampir ke GIC, inilah kali pertamaku ke sini. Gedungnya sudah cukup tua dan terlihat sepi dari luar. Tetapi setelah masuk ke dalamnya, sungguh indah, tertata rapi, bersih dan penghuninya pun ceria. Aku dikenalkan dengan teman-temannya yang ada di situ. “Teman-teman, ini Ana, teman sekelasku.” Kata Detha pada teman-temannya. Mereka sedang duduk melingkar, berdiskusi mengenai topik yang kuanggap cukup menarik pula. Mengungkapkan gagasan yang cukup dianggap liberal. Dan ketika itu pula aku baru sadar ternyata Detha seorang imigran, lebih parahnya lagi dia ikut HMI. Lalu tanpa sadar ku berikan senyum paling tidak ikhlas sedunia.

###

Aku pun mulai berfikir, bahwa tidak semua imigran itu buruk. Contohnya sangat nyata, Detha! Dia baik, rajin dan tidak sombong. Hanya saja pemikirannya memang sangat bebas, ideologinya kuat, dipersiapkan menjadi pendebat handal. Dan semua ini menurutku cukup menarik. Semua ilmu-ilmu yang telah aku peroleh di KAMI berbeda dengan yang diajarkan di HMI. Mungkin semua bisa dimaklumi atas dasar landasan dibentuknya kelompok masing-masing. Akhirnya lama-kelamaan aku sering ke GIC bersama Detha dan teman-temannya yang lain. Tidak seperti yang aku bayangkan selama ini ketika ku melihat dari kacamata KAMI, HMI tidak melakukan hal-hal yang menyimpang. Meskipun ada beberapa orang yang bertindak demikian. Aku menikmati kedekatanku denga Detha maupun HMI. Namun rupanya kedekatanku ini mulai tercium dan menarik perhatian orang-orang KAMI. Aku sudah mencoba menjelaskan kepada petinggi-petinggi KAMI tetapi percuma saja. “Mbak, HMI itu biasa mbak, nggak menyimpang, mereka melakukan diskusi-diskusi seperti pada umumnya. Melakukan kegiatan dengan jelas.” Jelasku pada mbak Hanifah. “Iya dek, mbak tahu. Tapi ada hal-hal lain yang kamu belum tahu secara pasti dek. Jadi jangan buru-buru ambil kesimpulan untuk menilai orang lain.” Terang mbak Hanifah. Ku terdiam sejenak. Jiwaku masih melayang di alam bawah sadar. Hembusan angin sepoi-sepoi di bawah pohon hijau nan rindang. Tiba-tiba aku ditanya satu hal yang paling membuatku tersudutkan. “Dik Ana…” suara yang memanggilku kembali ke alam nyata. “Iya mbak?” ku jawab spontan, sambil penasaran. “Dik Ana tahu kan, perbuatan apa yang paling dibenci oleh setiap orang bahkan Tuhan sekalipun?” sambil menatapku tajam. “ Disekutukan. Diduakan.” Kujawab singkat. “Ya tepat sekali,” sambil tersenyum licik, “siapa yang suka bila diduakan? Tuhan pun tak mau disekutukan, dosa besar! Amat besar dik!” Nada suaranya meninggi. Aku membeku. “Begitu pula dengan kelompok ini dik, kelompok kita, KAMI. Apakah KAMI mau kau duakan? Jawabannya tanyakan pada hatimu, jika kau masih punya hati.” Tatapan matanya mampu menembus otak yang kutamengi dengan tulang tengkorak. Tenggorokanku tercekat, ku tak bisa bernafas, sepertinya alunan suara tadi telah menjadi tali abstrak yang mencekik leherku. Sekali lagi, ku hanya bisa terdiam tanpa perlawanan. Menyeretku kembali ke padang lamunan. Dering HP kudengar, tampaknya telepon untuk mbak Hanifah. Segera setelah menutup telepon itu, dia pun pergi. Menjauh dari pohon dimana aku berada dengannya tadi.

###

Kukerahkan semua tenagaku agar kedua kelompok ini bisa bersatu atau paling tidak berjalan berdampingan, tapi tetap saja, semuanya sia-sia. Bukan damai yang kudapat, bukan senyum yang ku lihat, malah aku diberi gelar pengkhianat. Di KAMI dibuang, di HMI tak dibutuhkan. Apalah dayaku, ku hanya seorang mahasiswi universitas swasta di Surakarta. Hanya bisa berharap. Mungkin suatu saat nanti kan ada seseorang yang mebuat KAMI ataupun HMI akan bergerak dengan jalan yang berbeda tetapi sejajar layaknya asimtot yang tak kan pernah memotong sumbu x dalam bidang Cartesius. Entahlah… Aku pun bertanya dalam hati. (Suryani)