Oleh: Vera Safitri

Suasana hening menyelimuti ruangan lantai dua Student Center (SC)  Universitas Sebelas Maret  (UNS) Surakarta, Senin (14/12). Dua orang duduk saling berhadapan dengan sebuah papan catur berada di depan mereka. Sekilas tak ada yang aneh dalam pertandingan catur ini, dua orang juri duduk persis di samping mereka. Tak lama, juri memulai aba-aba membuka pertandingan. Tak ada tatapan  sinis seperti pada pertandingan catur yang biasanya. Tidak ada pula gerak-gerik mengintimidasi lawan. Pertandingan catur itu pun dimulai. Kedua peserta yang beradu mulai meraba bidak-bidak catur yang tertata di atas papan catur khusus tunanetra.

Seorang peserta yang merupakan siswa SMA 8 Surakarta, Wahyu, dengan penuh konsentrasi, mulai meraba dan memindahkan salah satu pion catur yang berjejer rapi. Lawannya bertanding, seorang mahasiswa Pendidikan Luar Biasa (PLB) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) angkatan 2014, Imam Budi, berpikir keras untuk memindahkan “menteri”-nya. Sesekali ia tersenyum sambil meraba bidak-bidak catur yang tersususun di atas papan catur khusus itu. Begitulah cara Imam dan Wahyu, juga para peserta lain mengamati permainan catur mereka. Dalam pertandingan ini sensitivitas telapak tangan dan jari-jemari peserta menjadi faktor utama dalam memainkan catur ini.

Pertandingan catur tunanetra ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) Pendidikan Luar Biasa (PLB) UNS dalam rangka  memperingati Hari Difabel Internasional. Para peserta telah berada di ruang lantai dua gedung Student Center UNS pada pukul 10.00 WIB hari itu. Mereka didampingi oleh orang tua atau guru mereka yang setia berada di samping mereka sebelum pertandingan dimulai. Pukul 11.00 WIB pertandingan dimulai, Sunoto, yang merupakan ayah dari Imam Budi, salah satu peserta pertandingan catur, terus memperhatikan putranya dari jarak tiga meter. Terlihat sesekali ia mengerutkan dahinya, lalu tersenyum, seolah ikut terlibat dalam permainan putranya itu. Begitu pula dengan orang tua maupun guru dari peserta lain. Mereka turut antusias melihat putra-putri maupun anak didiknya bertanding.

Pukul 15.30 WIB, pertandingan selesai dan mereka mulai meninggalkan area pertandingan catur. Hadiah untuk para pemenang dibagikan bersamaan dengan acara The Greatest Di-dy yang digelar oleh HMP PLB di Gelora Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS, Rabu (16/12).

Mereka semua terlihat gembira, yang menang tersenyum, yang kalah pun tersenyum. Bukan karena trophy, sertifikat, dan sejumlah uang yang menjadi hadiah pertandingan catur ini. Namun, mereka senang karena telah diberi ruang dalam minat dan bakatnya dalam bermain catur. Seperti yang diungkapkan oleh Ketua Panitia Amri, “mereka bukanlah disabilities (tidak berkemampuan) melainkan mereka adalah difabilities (berbeda kemampuan). Mereka hanya butuh ruang untuk  perbedaan mereka, bukan ruang untuk dibedakan,”ujar mahasiswa PLB angkatan 2014 ini.