Judul Album : Beranda Taman Hati
Artis : Dialog Dini Hari
Label : The Blado Beatsmith
Rilis : 2008

“Jika dipersonifikasikan secara visual, album Beranda Taman Hati adalah sosok penggelisah hal-hal esensial namun tetap mengasyikkan.”

Mengawali eksistensinya, tahun 2008 Dialog Dini Hari merilis album perdana yang bertajuk “Beranda Taman Hati”. Lewat album perdananya, trio blues/folk asal Bali tersebut berusaha mengenalkan musik yang berbeda dari musik mainstream penghuni layar kaca. Lirik lirik naratif yang tendensius dengan aroma folk, blues hingga sedikit unsur rock dirangkul dalam alunan musik akustik. Band yang digawangi Dadang Pranoto, Ian Joshua Stevenson dan Mark Liepmann ini menyajikan 14 lagu dalam albumnya, setiap lagu mengandung kritik sosial dan teguran yang disajikan dengan lugas.
Sebagai pembuka, Dialog Dini Hari menawarkan Oksigen untuk kita menghela nafas segar sembari menikmati alunan musik akustik yang menenangkan hati. Seakan mereka ingin menjaga mood kita untuk mendengarkan album mereka hingga selesai. Berikutnya lagu Pagi benar-benar menjadi representasi suasana ceria dan kesejukan di pagi hari. Tak rela pagi berakhir merupakan pesan yang ingin mereka sampaikan, karena banyak orang yang meninggalkan pagi mereka dengan sia-sia tanpa makna. Beranda Taman Hati, lagu yang menceritakan tentang pencarian jawaban atas misteri hakikat hidup ini memang pantas untuk diangkat sebagai nama album, mengingat maknanya yang mendalam dan fundamental.
Bumiku Buruk Rupa menyajikan suasana yang berbeda. Melodi gitar yang khas serta suara harmonika memberi kesan kelam, seakan menggambarkan bumi yang menyedihkan. Lagu berikutnya pun masih membawa kesan kelam, Sahabatku Jadi Hantu. Mendengar judulnya saja sudah pupus harapan kita akan lagu ceria, namun sejatinya lagu tersebut mengandung teguran keras untul mereka yang bertindak semena-mena terhadap sesamanya. Selanjutnya, Tak Seperti yang Kau Bayangkan hadir membawa irama syahdu dari manusia yang berusaha membuktikan siapa dirinya, sebagai suatu ilustrasi untuk meluruskan persepsi.
Renovasi Otak dengan irama yang tenang merenovasi pikiran kita setelah sebelumnya dipendengarkan lagu kelam. Lewat lagu ini, Dialog Dini Hari mengajak kita untuk berbenah dan memperbaiki pemikiran yang salah. Selanjutnya Lagu Sedih yang syairnya mengutip lagu anak, “disini senang, disana senang, dimana-mana hatiku senang”. Dalam durasi kurang dari dua menit, pesan yang disampaikan pun sangat lugas, susah itu tak ada gunanya. Lagu berikutnya bagaikan bunga yang menjadi penghias Beranda Taman Hati, Satu Cinta menyajikan irama yang indah dan menenangkan. Pengulangan kata ‘satu’ menekankan tentang pentingnya persatuan demi meraih kebahagiaan.
Senandung Rindu, suara merdu Tjokorda Istri Sari Sudharsana semakin menambah keindahan lagu ini. Kerinduan yang mendalam begitu teras dalam lagu ini. Kemudian Rehat Sekejap yang merupakan lagu terpendek dalam album ini, memberi kita jeda waktu sejenak untuk menyegarkan pikiran. Lagu yang sederhana dan enak di telinga, sebagai hiburan ringan agar tak bosan. Ku Kan Pulang kembali menyuarakan tentang kerinduan, hasrat yang meluap untuk pulang dan berbagi cerita di rumah. Lagu Hati Hati sedikit berbau rock, dengan tetap mempertahankan ciri khas mereka. Namun yang mengejutkan adalah intronya yang mengingatkan kita pada lagu andalan Metallica, Enter Sandman. Terakhir, album ini ditutup oleh bonus track bejudul Stone Faces yang ditulis dan dinyanyikan oleh Ian Joshua Stevenson.
Secara keseluruhan, Beranda Taman Hati menyajikan suasana yang bervariasi. Awalnya kita diajak berjalan-jalan ceria, kemudian merenungi hakikat maupun kelamnya kehidupan, lalu menghembuskan kerinduan pada kita yang menimbulkan hasrat ingin pulang. Dialog Dini Hari memang pintar mengaduk-aduk perasaan kita dengan aransemen sederhana yang menggugah. Jika dipersonifikasikan secara visual, album Beranda Taman Hati adalah sosok penggelisah hal-hal esensial namun tetap mengasyikkan. Karena kegelisahan tidak selalu dituangkan dengan irama menyedihkan, bahkan dibalik alunan keceriaan pun terdapat kegelisahan. (Udji Kayang)