lpmkentingan.comLighting panggung Solo Blues Festival (SBF) 2015 menyulap kawasan Benteng Vastenburg menjadi gegap gempita pada Sabtu (23/5). Ratusan penonton yang terdiri dari berbagai kalangan memenuhi lapangan rumput di halaman benteng tinggalan imperialis itu. Solo Blues Festival kali ini mengusung tema Bengawan So Blues.

Tingginya antusiasme dari berbagai pihak membuat pemerintah kota beserta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) setempat bergeliat untuk terus menggelar Solo Blues Festival. Pertama kali digelar pada 2013 lalu di Balaikota, kini Solo Blues Festival menjadi salah satu agenda tahunan Kota Solo. SBF 2015 yang berlangsung sejak pukul 15.00 WIB ini menampilkan grup-grup musik beraliran blues dari berbagai daerah di Indonesia. Di antaranya, Jack N’ Wains, Soloensis, Fam, Blues Brother Solo, Little Blues Brother, Scootled, Rocxter, Dream Line, Solo Blues Rock. The Crossing Blues University Bali, Madiun Blues Community, Klaten Blues Community, dan beberapa grup musik lainnya.

Mengambil tema Bengawan So Blues sebagai wujud upaya memperdekat masyarakat dengan salah satu aset terpenting daerah, SBF 2015 menghadirkan seorang guitar circus, DD Crow yang merupakan putra asli Solo. Gemerlap lighting panggung berpadu dengan aksi totalitas berbagai grup musik menanggalkan kesan seram kawasan bersejarah yang letaknya berseberangan dengan Bank Indonesia. Ditambah pembawa acara yang terdiri dari Doel (Pecas Ndahe) dan Adis (Jungkat-jungkit) yang semakin menguatkan kesan meriah SBF 2015 ini.

“Acara semacam ini menurut saya sudah baik. Saya mendukung kegiatan yang diadakan pemkot, karena ini adalah tempat yang dibutuhkan oleh band-band kecil. Kayak, kalau penulis punya rubrik di koran-koran, festival-festival semacam ini adalah wadah bagi mereka (band-band kecil, red),” tutur salah seorang penonton bernama Wendi, dengan tetap mengangguk-anggukan kepalanya mengikuti irama grup musik beraliran blues-rock yang sedang tampil, Soloensis.

“Sebelumnya kan juga sudah ada pre-event di Balai Soedjatmiko. Sampean tahu to? Nonton juga? Kan itu menunjukkan pemerintah menyediakan ruang. Acara-acara semacam ini juga memenuhi kriteria baik menjadi hiburan masyarakat. Maksud saya selain pentas-pentas mingguan di Taman Hiburan Rakyat (THR) lho ya,” sambung Wendi yang mengaku penikmat musik dan kerapkali nonton festival-festival musik di Kota Solo.

“Saya suka nonton festival, soalnya biar nggak kuper,” imbuhnya diiringi gelak tawa. (Ifa)