Rendy Saputra, salah satu pemateri dalam seminar "Metamorpho5a " yang diselenggarakan SKI FK UNS, tengah memberikan materi di auditorium UNS (25/5). (dok.Ain)

Rendy Saputra, salah satu pemateri dalam seminar “Metamorpho5a ” yang diselenggarakan SKI FK UNS, tengah memberikan materi di auditorium UNS (25/5). (dok.Ain)

Surakarta – Sentra Kegiatan Islam Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta (SKI FK UNS) menggelar Metamorpho5a, Minggu (25/5) kemarin. Bertempat di auditorium UNS, seminar nasional ini mengusung tema “The New Spirit of Muslim Youth: Bright Resolutions for Great Revolution”. Auditorium UNS dipadati oleh ratusan peserta yang berasal dari lingkungan dalam dan luar UNS.

“Seminar ini adalah salah satu modifikasi dakwah, agar lebih mudah diterima di seluruh lapisan. Kami ingin menginisiasi perubahan di kalangan generasi muda, mengingat kajian-kajian biasanya hanya diikuti oleh segelintir orang yang juga itu-itu saja. Oleh karena itu, seminar ini hadir untuk meng-cover orang-orang yg tidak ter-cover oleh kajian-kajian,” tutur Nanda Eka Sri Sejati selaku ketua panitia.

Kegiatan yang menjadi event tahunan SKI FK UNS ini menghadirkan tiga pembicara. Dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K) menjadi pembicara sesi pertama mengawali seminar yang berlangsung dari pagi hingga sore ini. Dokter spesialis anak yang juga merupakan pendiri Rumah Vaksinasi dan Rumah Echo. Melalui pemaparan yang ia berikan, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) ini memotivasi para peserta seminar dengan tiga hal: be the first, be the best, be different. Ia juga mengajak hadirin untuk tidak terpaku pada kegagalan.

“Banyak hal-hal positif dalam permasalahan. Itulah makna inna ma’al ‘usri yusron, bahwa sesungguhnya bersama kesulitan datang kemudahan,” tukasnya.

Beranjak pada pembicara kedua, antusiasme peserta tak juga surut meski hari telah menjalang siang. Di dalam sesi kedua Metamorpho5a,  Sholihin Abu ‘Izzudin hadir sebagai pemateri. Penulis buku “Zero to Hero” ini mengatakan bahwa generasi muslim saat ini harus berkaca kepada para pemuda di masa kejayaan Islam.

Sesi ketiga seminar ini diisi oleh Rendy Saputra yang merupakan CEO Keke Busana. Sesuai dengan bidangnya, bisnis, Rendy mengajak para pemuda untuk bangkit dan berani berani berkecimpung dalam entrepreneurship. Menurutnya, kemandirian ekonomi Indonesia bisa diperoleh bila masyarakat Indonesia bisa memproduksi barang-barang kebutuhan mereka sendiri, tanpa harus mengimpor dari negara lain.

“Kita mengggosok gigi menggunakan pasta gigi produksi luar. Kita membeli mobil yang diproduksi negara lain. Bagaimana kita bisa bangga pada produksi dalam negeri? Inilah peran kita sebagai generasi muda, kita harus bisa berinovasi demi Indonesia,” tutur trainer yang sudah pernah mengisi acara dalam berbagai training nasional dan internasional ini.

Sesuai dengan tema yang menitikberatkan pada pemuda, seminar ini diharapkan mampu membangkitkan semangat pemuda untuk berani berkarya. Lebih lanjut, Nanda mengatakan, melalui seminar ini menciptakan suatu efek domino untuk membangun generasi yang lebih baik.

“Semoga setelah mengikuti acara ini, ada banyak pemuda yang tergerak hatinya untuk mulai bermetamorfosis menjadi pemuda yang luar biasa, percaya diri, dan berahlak tinggi,” tambah Nanda.

Grup nasyid “Alkaline” pun turut memeriahkan event yang mayoritas pesertanya adalah mahasiswa ini. Di akhir acara, panitia Metamorpho5a juga mengumumkan pemenang “Islamic Essay and Poster Competition” (IEPC) yang diikuti oleh mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia. Seminar Nasional Metamorpho5a ini merupakan satu dari serangkaian Sebelas Maret Islamic Festival (SIFT) 2014 yang diselenggarakan oleh Jamaah Nurul Huda Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (JN UKMI) UNS bersama lembaga dakwah kampus tiap fakultas.

“Acara Metamorpho5a ini sangat bermanfaat. Fasilitas dan materinya pun menarik, saya rasa sudah sangat pas bagi mahasiswa dan para pemuda,” tutur Zakiyah Arrohmah, salah seorang peserta yang merupakan mahasiswi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). (Ain)