Oleh: Satya Adhi

Sebuah institusi keilmuan mengurung diri di tengah simbol modernitas urban.

TIDAK kurang dari sepuluh kali, kata ‘internasional’ dan ‘internasionalisasi’ keluar dari lisan Ravik Karsidi. ‘Internasionalisasi’ sebanyak empat kali, ‘internasional’ enam kali. Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) itu mengucapkannya dalam pidato laporan dies natalis pada sidang senat tahunan, Jumat, 11 Maret 2016. Tahun ini namanya berbeda; Lustrum. Nama ini digunakan setiap dies natalis lima tahunan.

Sidang senat Lustrum kedelapan ini istimewa. Presiden Joko Widodo yang kebetulan pulang ke Solo turut hadir. Selain Jokowi, ada juga Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Muhammad Natsir, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan politisi Akbar Tanjung.

Para profesor duduk di panggung depan, lengkap dengan pakaian toga kebesaran para ilmuwan. Di barisan paling depan, duduk sepuluh dekan, para wakil rektor, dan ketua senat. Profesor Universitas Leiden Willem Van Der Mollen turut duduk di barisan terdepan. Mollen mewakili Leiden yang telah menghibahkan 23.000 naskah kuno ke perpustakaan UNS.

Pidato selama 45 menit itu melahirkan satu kesimpulan. “Kami ingin UNS tidak hanya menjadi kebanggaan warga Indonesia, tapi juga warga dunia,” kata Ravik dengan nada datar dan tetap disambut riuh tepuk tangan hadirin.

Pameran di Mal

Sehari sebelumnya, Ravik membuka agenda “UNStopable, Exhibitions and Performances” di The Park Mall, Kabupaten Sukoharjo. ‘UNStopable’ bisa dibaca dengan dua cara, ‘unstopable’ (tidak terhentikan); atau ‘UNS Topable’ (UNS memang top). Ketua Dewan Penyantun UNS sekaligus mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh, turut hadir di mal terbesar di Kabupaten Sukoharjo itu. Sejumlah 31 stand dan beberapa penampilan disiapkan. Acara ini berlangsung sampai Minggu, 13 Maret 2016. Tema “Hilirisasi UNS Berbasis Budaya Nasional” selaras dengan tema Lustrum 2016, “Internasionalisasi UNS Berbasis Budaya Nasional.” Sepuluh fakultas, beberapa Unit Pelaksana Tugas, serta institusi luar semacam Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan PT Wika ambil bagian di acara tersebut.

Fakultas Teknik memamerkan sepeda listrik. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam menyajikan kultur anggrek, water filter, dan sistem monitoring banjir. Studio penyiaran dengan kamera penyiaran menjadi hal yang mencolok di stand Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Fakultas Kedokteran menunjukkan contoh janin, otak, dan jantung, serta cek kesehatan gratis.

Lalu ada Fakultas Pertanian dengan aneka kembang, jamu, dan tanamannya. Di stand Fakultas Ilmu Budaya, dipamerkan kaligrafi dan buku-buku satra. Fakultas Seni Rupa dan Desain unjuk gigi dengan karya batik dan fesyennya. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan menyediakan konsultasi pendidikan.

Sementara Fakultas Ekonomi dan Bisnis menyulap stand mereka menjadi ruang pameran foto dan titik swafoto. Fakultas Hukum, (hanya) memamerkan buku-buku hukum. Keseluruhan stand dikelilingi kedai dan toko modern seperti Starbucks, Share Tea, dan Roti John.

Mengapa diadakan di mal? Ketua Bidang Pameran Lustrum 2016, Ary Setyawan menjawab pertanyaan ini. “Banyak wartawan dan masyarakat yang bertanya, kenapa diadakan di mal?” ujarnya. “Ini karena kita mau lebih dekat kepada masyarakat. Agar masyarakat tidak usah repot-repot datang ke kampus, kita yang langsung mendatangi masyarakat.” Pernyataan ini senada dengan pernyataanya kepada wartawan pada hari sebelumnya.

Ravik punya alasan lain. “Ini sekaligus nganyari tempat ini [The Park]. Karena The Park kan sudah jadi kebanggaan masyarakat Sukoharjo,” ucapnya dalam sambutan ringkas.

Apapun alasannya, kenyataan berkata lain. Tidak ada masyarakat yang menonton kirab minimalis yang digelar sebelum pembukaan UNStopable.

“NAMANYA Manis,” kata Tugiman dari balik kemudi dokarnya. Manis, kuda itu, akan menarik dokar yang dinaiki Ravik, Nuh, dan Ary.

Kok, dokar? Pasalnya, sehari sebelum acara, beberapa harian lokal Surakarta memberitakan Ravik akan melaksanakan kirab menunggangi kereta kencana. Pikiran tentu melayang pada kereta khas raja-raja Jawa yang antik nan wah. Sementara yang terparkir di depan The Park adalah dua dokar sederhana tanpa hiasan apapun.

Tugiman sendiri asli Solo. Tepatnya dari kampung Tegalharjo, dekat kampus Universitas Slamet Riyadi. Pria 60 tahun ini sudah menarik dokar sejak 1973. Ia bersama putranya, Ari (35), dipesan khusus oleh panitia Lustrum untuk kegiatan ini.

“Datang ke sini dari jam berapa, Pak?” tanya saya sekadar basa-basi.

“Dari jam sebelas tadi,” jawabnya.

“Nanti rutenya lewat mana, ya?” Saya mencoba memastikan info yang saya dapat sebelumnya. Kirab dari hotel Best Western, lalu menuju The Park.

“Wah, nggak tahu itu, Mas. Saya cuma dipesan datang ke sini jam segini. Di kasih ancer-ancernya di sini.”

The Park hanya selangkah dari Best Western – namun sekitar 8,6 kilometer dari kampus pusat UNS di Kecamatan Jebres. The Park juga berhadapan langsung dengan Hartono Trade Center. Berdiri di lahan seluas 16 hektar, ia kini menjadi ikon modernitas di Solo Baru – nama yang disandang kawasan perbelanjaan di Kabupaten Sukoharjo.

Kabupaten ini memiliki letak geografis yang unik, karena dipisahkan oleh Surakarta di tengahnya. Bila terus ke barat melalui Jalan Slamet Riyadi, kita akan keluar dari wilayah Surakarta dan memasuki wilayah Kabupaten Sukoharjo. Kartasura namanya. Nah, jika kita ke selatan melalui Keraton Kasunanan, kita pun akan sampai di wilayah kabupaten yang sama, Solo Baru. Di sini, kita menyaksikan kawasan bernuansa elite dengan gedung-gedung tinggi. Karena letaknya berbatasan langsung dengan Surakarta, Solo Baru seakan menjadi bagian kota ini.

Dibangun oleh PT Tristar Land Development, pusat perbelanjaan empat lantai ini kini dikelola PT Narendra Amerta. Mal yang disertai bioskop XXI ini juga akan disertai convention centre dan hotel. Ini semakin mengukuhkan kawasan Solo Baru sebagai Metropolis-nya Sukoharjo. Nama The Park yang berarti ‘taman,’ dipilih sesuai dengan tagline mal ini; the green shopping atmosphere. Nama-nama yang mencerminkan ruang publik semacam ini memang sering dipilih untuk mal-mal megah. Sebut saja Solo Square (dari kata town square yang berarti alun-alun) dan Palur Plaza (plaza artinya alun-alun kota).

Di depan ruang publik elite semacam inilah, Tugiman memarkirkan tunggangannya. Sembari menunggu, ia bercerita pengalamannya menarik dokar selama 32 tahun.

“Dulu UNS kalau ada wisuda pasti mesen dokar. Dari gedung wisuda yang di depan itu, terus ke ruangan-ruangan di fakultas [masing-masing].”

“Itu tahun berapa, Pak?”

“Udah lama, Mas. Tahun 90-an.”

“Kalau sekarang udah nggak, ya?”

Nggih, sampun sepi, Mas.

Cerita itu ia ulang sekitar tiga kali dalam sekali obrolan kami yang singkat.

Tak selang berapa lama, tamu undangan keluar dari mal untuk melakukan kirab. Panjang iring-iringan kirab hanya satu kali panjang lapangan sepak bola. Start tidak dilaksanakan di Best Western, tapi di depan The Park. Ravik, Nuh, dan Ary menaiki dokar yang ditarik si Manis. Istri Ravik Karsidi, Handayani, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Hunik Sri, serta Dekan Fakuktas Ilmu Sosial dan Politik Ismi Dwi Astuti menaiki dokar yang dikendarai Ari.

Barisan paling depan dipimpin Marching Band, lalu para penari tradisional, rombongan Reog, gunungan yang alih-alih berisi jajanan pasar berisi jajanan kemasan, dua kereta ‘dokar’ kencana, dan terakhir panji-panji fakultas beserta para dekan yang berjalan kaki.

Jadi kirab dimulai dari depan The Park lalu memutari lapangan parkir depan, dan kembali lagi ke depan The Park. Sangat minimalis.

UNS sebenarnya pernah mengadakan agenda dies natalis yang jauh lebih meriah dan merakyat daripada tahun ini. “Kampus Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta ‘’diserbu’’ para warok,” tulis suaramerdeka.com pada 11 Maret 2013. Sebanyak 42 kelompok dan 250 personel reog memeriahkan dies natalis UNS ke 37 itu. Mereka berasal dari Wonogiri, Ponorogo, Pacitan, dan Sukoharjo. Ketua Institut Javanologi, yang juga koordinator kegiatan Sahid Tehugwidodo mengatakan, “pihaknya memilih reog untuk memeriahkan Dies Natalis, karena kesenian tersebut bersifat guyub dan mengedepankan solidaritas” (“Gelar Seni Kolosal 50 Reog untuk Indonesia.” suaramerdeka.com, 11 Maret 2013).

Tema Lustrum tahun ini memang Internasionalisasi Berbasis Budaya Nasional. Tapi, sebuah pernyataan dari Willem Van Der Mollen – profesor dari Leiden yang turut hadir di sidang senat – patut direnungkan.

Ia diberi kesempatan memberikan orasi ilmiah usai Ravik memberi pidato di sidang senat. “Saya mendukung internasionalisasi yang dilakukan UNS. Toh sekarang internasionalisasi sudah nampak,” ujarnya. “Yang memberikan pidato adalah orang asing, yakni saya sendiri. Dan orasi ilmiah yang disampaikan, dituliskan dalam bahasa Inggris.”

Dan seluruh hadirin tertawa mendengarnya. []

(Foto: Fajar Andi / lpmkentingan.com)