Pada minggu pagi di akhir 2018, tahi kucing tiba-tiba ada di kamar mandi indekosku. Tepatnya di depan pintu kamar mandi indekos. Ada lima dan terdiri dari dua bentuk dan satu warna. Bulat dan lonjong seperti cacing besar alasaka di serial Spongebob Squarepants dan berwarna mirip biji jambu air. Aku sempat mengira itu biji jambu air.

 

Sekira jam sepuluh malam sebelum tidur, aku tidak melihat satu kucing pun modar-mandir di indekos ku. Apalagi sembari memegangi perut—atau entahlah bagaimana tingkah kucing kalau perutnya mulas. Dan fakta itu cukup mendukung perkiraanku.

 

Sehabis bangun tidur dan kencing dan sikat gigi, perasaanku juga wajar-wajar saja ketika melewati pintu kamar mandi. Dengan perasaan wajar-wajar saja itu aku duduk di ruang tengah buat nonton televisi. Sampai satu teman indekosku yang mau berak menjerit.”Anjir!”

 

Ia menunujuk cacing besar Alaska itu dan langsung menuding kalau mereka adalah tahi kucing. Telapak kakiku tiba-tiba menghangat dan tanpa komando apapun tiba-tiba menjinjit dan mengacir ke keran di bawah tangga.

 

Sampai sore, tidak ada yang menggunakan kamar mandi itu dan memilih kamar mandi di lantai dua. Dengan itu, Anda tahu, diam-diam, masing-masing dari kami saling mengharapkan satu orang mau membereskannya.

 

Hingga sore tidak ada yang membereskannya.

 

Demi membuat hari mingguku terlihat produktif, sorenya, aku bulatkan tekad buat membereskan bulat-bulat itu. Kupikir ini akan mudah. Tinggal siram dan selesai. Meski ada floor drain, kupikir, tahi yang kering kalau terkena air bakal pecah dan lantas menyelinap lewat sela-selanya.

 

Sialnya enggak. Mereka hanya menggelinding dan bersemayam di atas floor drain. Aku mengarahkan selang air dan menyemprotnya dengan semburan penuh. Berharap mereka pecah. Sialnya enggak.

 

Apa boleh bikin, bermodal sandal jepit, aku menggencet-gencet mereka. Tidak ada bau, sebenarnya. Tapi tiba-tiba ada yang mendesak dari lambung. Hanya saja, kalau kukeluarkan, tahi kucing dan muntahan diri sendiri tidak terlihat seperti pemandangan bagus untuk menutup tahun. Aku memikirkan permen Kis merah dan itu berhasil menahan laju seruak dari perut.

 

Kalau Anda pernah membaca cerita Bagaimana Murjangkung Mendirikan Kota dan Mati Sakit Perut bikinan AS Laksana, Anda pasti tahu betapa dahsyatnya pikiran kita. Ia bisa membuat kita merasa berada di dalam taman bunga meski sebenarnya di dalam kakus. “Hantu ada,” tulis AS Laksana, “karena kita memikirkannya. Begitu pun taman bunga.”

 

Kalau tadi aku membayangkan mengemut cacing besar sialan itu, segera aku memikirkan mengemut permen. Hidungku seolah menghirup aroma legitnya.

 

Aku kira begitu pula dengan perasaan tertekan. Ia dimulai dari pikiran kita. Setiap nilai buruk dari dosen akibat tugas yang terlambat dikumpulkan atau nilai ujian tak melampaui ketuntasan, misalnya. Pikiran akan masa depan suram datang menggelayuti tempurung kepala. Terbayang betapa ruwetnya mendapatkan pekerjaan dan menabung duit buat membangun rumah.

 

Yang awal sebenarnya bisa ditangani dengan menggarapnya dari jauh hari. Lagi pula, menggarap tugas mendekati tenggat waktu tergolong kebiasaan ekstrem. Ia membikin jantung berdetak melebihi biasanya. Ia seperti olahraga terjun payung atau berkendara di tong setan. Dan itu, kukira, tidak termasuk kebiasaan yang menyehatkan untuk organ pemompa darah kita.

 

Tapi yang belakangan agak susah dikendalikan. Soal ujian seringkali berbeda dengan apa yang dipelajari malam harinya. Mencoba mencontek, selain butuh kecermatan lebih, juga menerbitkan perasaan bersalah akan dosa.

 

Khusus buat kasus belakangan, aku punya teman SMA yang bisa Anda jadikan suri tauladan.

 

Dulu kami selalu mendapat nilai menyedihkan. Tapi kami punya komitmen: Lebih baik nilai jeblok ketimbang tidak jujur. Dan begitulah yang terjadi. Kami tidak pernah mencontek. Dan sebenarnya, kami juga tidak pernah belajar. Yang di luar sangkaanku, sampai kuliah ia rupanya masih konsisten dengan komitmen kami meski teman-temannya gemar mencontek.

 

“Kemarin soal ujianku sulit banget, bro,” katanya. “Dan kutulis saja di lembar jawab, ‘maaf pak, saya tidak tahu.’”

 

Aku percaya. Kalau Tuhan sedang iseng mencari nabi lagi, temanku itu bisa jadi kandidat kuat. Ia punya kualitas Al-Amin yang mumpuni walau kerpibadiannya yang lain bisa membikinmu meninjunya dalam waktu dua menit setelah berkenalan. Tapi waktu ia cerita itu, sepertinya aku menatapnya dengan binar bak bocah yang melihat super hero jagoannya di televisi.

 

Ketika bocah aku mengagumi Spiderman. Ia lincah dan bisa bergelantungan di gedung-gedung. Sedangkan aku, buat memanjat pohon saja kepayahan minta ampun dan teman-temanku bergelantungan seenak kera.

 

Sampai suatu kali ada laba-laba di pohon manga depan rumahku. Kalu tak salah, Peter Parker  jadi punya kekuatan super karena dicokot laba-laba. Tanpa pikir panjang, aku menyingsingkan baju hingga dadaku terbuka dan menaruhnya di sana. Aku memikirkan diriku menjadi Spiderman. Dan seingatku, aku menjadi lebih gesit buat memanjat pohon ketimbang sebelumnya.[]

 

 

Irfan S. Fauzi
Takmir Liqo Akar Sungai, komunitas sastra Kampus IV UNS Surakarta. Surel: [email protected]