Oleh: Afifah K.

Kau menyukai rintik hujan yang lekas reda, sebab buatmu selalu merindui petrichor-nya. Kau menyukai gumpalan awan putih, ingin sesekali berusaha memeluk hangatnya. Kau menyukai embun pagi diatas dedaunan hijau, sebab ia cukup memberi alasan untuk tidak menyudahi kenangan yang tertingal. Kau bahkan menyukai arunika, sebab ia sempurna menelisik lorong semesta yang tertidur dari mimpi semalam. Namun sayang, kau sama sekali tak menyukai hujan, awan, embun pagi, maupun arunika. Kau hanya menyukai senja.

Katamu senja itu cinta pertama, enggan buatmu jengah dari langkah manapun. Selalu mempesona mata kala berjumpa. Senja itu cinta terakhir, tak mau memangkas rasa yang terlanjur tertambat berulangkali, tanpa jeda. Tapi, aku menyukai hujan dengan memoar ceritanya. Hari ini, aku mencaci senja pujaanmu. Bahkan demi merenungi seseorang yang membuatmu tak ingin berpaling. Sedangkan aku hanya menelan pahit dan melipat perasaan yang kurapihkan sendiri. Aku memang keras kepala, begitu mengharap kau lekas sembuh dari ingatannya. Padahal jelas kau menerima luka serupa ketika dia tak memilihmu.

***

Aku menemukanmu di tengah tatapan senja, sejenak dersik saling sahut. Entah membicarakanmu yang berdiri takzim disana atau hanya membungkus kekaguman pada hening dan kerlip lampu kota dibawah sana. Senja nampak puas mencumbui jingga, menghampar pada semesta. Aku kadang menebak-nebak perkara rahasia-Nya. Barangkali kita jodoh pada temu tanpa sengaja yang berulang. Sejak dulu aku tak menyukai senja. Bagiku senja tak begitu istimewa, tetap sama meski di lain tempat. Di mataku senja ialah epilog duka yang mungkin memang telah ditaruh takdir-Nya atas segala sesuatu secara rahasia.

“Kau mengikutiku, ya?” sangkamu tiba-tiba ketika berbalik badan melihatku berjalan searah di belakangmu.

“Siapa? Kenapa kau menuduhku begitu?” jawabku basa-basi.

“Mengaku saja, di sini tak ada orang lain selain kau”.

Jantungku kian berdegup kencang, sedikit kikuk menjawab apa.

“Kau itu dingin, yaa. Seperti enggan mencari kesibukan apapun selain menunggui senja di berbagai tempat sendirian.”

“Senja itu indah. Membuatmu betah berlama-lama dan tertahan”

“Lalu….” Belum selesai pertanyaanku kau sudahpergi tanpa pamit, meninggalkan sebait senyum tipis yang hambar. Sedangkan aku hanya mengamati punggungmu yang semakin lama menghilang jauh dari pandanganku.

Pernah suatu hari aku menemukanmu di stasiun kereta api seorang diri. Kau tuntun sepedamu, menyandarkannya pada salahsatu tiang. Langkahmu begitu cepat masuk ke dalam stasiun. Entah menunggu siapa. Yang jelas aku terpaku memperhatikanmu.

Derit kereta perlahan menepi menyambut para penabung rindu, yang malas terpisah jarak lagi. Kau terdiam melihat sepasang muda-mudi saling menghambur pelukan. Hanya saja matamu bukan mengarah kepada mereka, kau menangkap sepotong senja mengintip di antara gerbong kereta. Langkahmu kian cepat mendekat pada sisi lain demi senja sempurna pada sore tanpa hujan. Kau tak peduli dengan lalu lalang penumpang kereta. Mereka tampak sibuk menurunkan barang dari dalam gerbong. Sampai samar-samar terdengar tangis pecah di antara keriuhan. Seorang ibu terharu menangis sejadinya menyambut sang anak pulang dari kota rantauan. Mereka pun berlalu. Hingga lekas orang-orang pergi dari stasiun kereta begitu pun dengan sepasang muda-mudi tadi. Sedangkan kau tetap berdiri di sana, memejamkan mata sembari melipat kedua tangan di dada.

Nungguin siapa, Mbak?” tanya salah seorang petugas kebersihan di stasiun yang mengagetkanku.

“Eeemm tidak menunggu siapa-siapa, kok, Pak” jawabku sekenanya.

“Saya sering melihat dia di sini setiap akhir pekan. Dulu saya sempat bertanya tentang apa yang dilakukannya tempo hari,” pungkasnya seakan mengetahui maksud keberadaanku di sini.

“Lalu…” Belum genap aku melanjutkan pertanyaanku, tiba-tiba kau datang dengan langkah gontai tanpa mencoba sedikit pun melirikku yang sejak tadi memperhatikanmu.

“Bagaimana kalau besok saja kita bertemu? Ini sudah magrib,” saran bapak petugas kebersihan di stasiun kereta api itu.

“Kebetulan besok saya tidak bisa, Pak. Mungkin lusa saya akan kemari,” janjiku.

***

Aku terbiasa menuliskan setiap cerita yang terjadi hari ini. Pada lembaran-lembaran tulisan ini, kadang membuatku gemas ingin terus membacanya berulang. Begini, kuceritakan sedikit. Sambil kau menikmati kekagumanmu pada kerlip kemilau gemintang di langit yang pekat. Kemudian mengawang-ngawang wajah seseorang; sebatas kenangan yang tiada habis dilupa. Waktu itu hujan tiba tepat ketika senja hendak menyapa petang. Langit semula semu kemerahan menjadi kelabu diiringi rintik; kian deras. Aku bergegas mencari tempat untuk berteduh, berlarian kecil sampai sebuah payung melindungiku dari hujan. Aku tak percaya jika itu kau sendiri yang melakukannya. Hanya saja kau seperti menyembunyikan sedih di wajahmu, tak ada semburat jingga kala senja yang kau tunggui.

“Tumben?” tanyaku mencoba acuh.

“Kenapa? Aku tidak ingin perempuan yang keras kepala di sebelahku ini kehujanan,” jawabmu santai.

“Sebegitu perhatiannya,” tambahku.

“Sekali ini saja. Besok jangan harap,” ketusnya perlahan.

Sungguh, mungkin itu pertemuan pertama dan terakhir yang selalu kuingat sampai kapan pun. Ketika kau mulai membuka percakapan denganku. Di antara guyuran hujan kita saling terdiam sesaat menatap kosong ke arah jendela.

“Mengapa kau mengajakku ke tempat ini? Sebuah kafe yang kupikir lebih cocok untuk mereka sepasang kekasih? Sedangkan kita bukan mereka,” tanyaku memulai percakapan.

“Aku sering kemari kapanpun sesukaku. Orang pemilik kafe ini menyediakan kursi dan meja untuk pengunjung yang datang sendirian. Tentunya untuk menyesapi senja paling sempurna yang dapat kau lihat dari sini tanpa hujan,” jelas lelaki bernama Rey itu.

“Kenapa kau suka senja?” tanyaku lagi.

“Sudah pernah kubilang, bukan? Senja itu indah. Ada cerita menarik yang tak ingin kulupa. Tapi kadang seperti kau meneguk secangkir kopi ada sedikit cerita pahit di dalamnya beserta ampas kenangan yang tergenang,” pungkasmu.

Kulihat matamu sedikit berkaca-kaca. Kau kadang ingin membenci senja tetapi kau tetap mencintainya. Sayang, cintamu pupus hingga tertatih dengan separuh hati yang kau bawa seorang diri. Bukan salahmu jika ia memilih sosok lain yang mungkin lebih membuatnya bahagia. Senjamu adalah penantian tiada sia-sia tentang seseorang di ujung jalan. Dialah wanita terkasih yang ingin lekas kau genapi dengan cara sederhana. Namun semua mimpi itu tenggelam ditikam luka. Nyatanya ia tak menaruh perasaan serupa. Padahal secara diam-diam sekian tahun kau terus saja memupuk perasaan itu sampai berakar. Dan kini sulit untuk dimusnahkan. Sebab itulah yang membuatmu dingin terhadap siapapun. Maka senja serbuk candu, penawar keresahan jiwamu yang tertelan luka. Kau korbankan dirimu membujang sesukamu sampai benar-benar ada sosok lain yang mampu memberi kesadaran. Teman-teman dekatmu terkadang mengenalkan pada beberapa wanita lain tapi tiada kau tertarik sedikitpun. Bahkan detik ini, ketika kita saling melempar tawa bersama. Bertukar cerita masa lalu yang telah terlewatkan.

Dulu aku mencaci senjamu, selalu menjadi pujaan hatimu. Aku, membakar diri menyudahi perasaan cemburu yang entah mengapa demikian. Sebegitu ingin diperhatikanmu. Antara cinta dan benci harus pada tempat yang sewajarnya. Hari ini kau membencinya tapi esok kau mencintainya. Begitu sebaliknya. Senja pernah membuatku murung, melipat tangis dan sedih bersamaan. Catatan kelam semburat jingga kemerahan adalah tangis darah yang menghunjam batin. Ibuku tercinta tiada, dibunuh oleh ayahku sendiri. Pekerjaan ayah melayang membuatnya membabi buta; kalap. Tak tanggung-tanggung ibu menjadi sasaran. Aku tak membenci ayah. Hanya saja buatku tertahan untuk beberapa detik, hingga semua tinggal nama. Andai aku cepat pulang ibu pasti akan selamat. Akulah peredam emosi ayah. Tetapi semua kejadian tak bisa terulang kembali. Aku menunduk pasrah dibawah langit. Waktu berjalan cepat, langkah-kangkah kaki kitapun sudah tak bisa terhitung berapa. Senja yang kucaci menjadi senja yang kunanti hanya karena menungguimu.

Tiga tahun berlalu kita tak lagi berjumpa. Menurut seseorang, kau berkelana di tempat yang lebih jauh. Mungkin kau lelah terus aku ikuti. “Bagaimana? Sudahkah menemukan sosok lain yang tepat?” Aku merindumu dengan ribu perasaan serupa, utuh padamu. Meski mungkin tiada kau hirau. Selayaknya cerita klasik, hujan sore itu telah menyisakan kenangan manis bersamamu. Ketika kita saling tersipu malu dalam celoteh tanpa suara. Aku melihat perpaduan manis antara gerimis, hujan, dan senja. Mencipta sendu di antara detak sunyi yang kutahu penyembuhnya ialah temu.