Senin itu, 28 Desember 2015, langit temaram. Di lengkung langit sebelah barat, semburat oranye masih pamer pesona. Namun orang-orang tak terpana. Mereka lebih asyik mengegas dan mengerem tunggangannya, sambil berharap lekas berjumpa dengan keluarga.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar,” seorang lelaki memanggil mesra Tuhannya melalui pengeras suara masjid. Telinga yang mendengar seruan itu menanggapi dengan berbeda-beda. Saya segera berwudhu dan salat tiga rekaat. Pedagang cilok, bakso bakar, batagor, es buah, dan es cincau di sekitar gedung Teater Kecil Institut Seni Indonesia (ISI) Solo masih bertahan menunggu pembeli. Sedangkan bagi para perias, penata lampu, penata panggung, dan sutradara pementasan teater tari kontemporer di dalam Teater Kecil, adzan itu merupakan alarm untuk lekas menyelesaikan pekerjaannya sebelum para pemain naik panggung.

Menjelang pertunjukkan, penonton yang hadir semakin bertambah meskipun tidak banyak. Beberapa pelaku seni di Solo tampak hadir pula. Ternyata, jumlah kursi yang kosong lebih banyak daripada kursi yang diduduki. Kemungkinan karena pemilihan jadwal pentas yang aneh. Di panggung hanya terdapat kain hitam besar sebagai latar, akar tunggang pohon yang besar digantung bersama beberapa akar kecil, dan bagian depan panggung itu seperti akar-akar yang muncul di permukaan tanah. Tepat pukul 18.30 WIB, pentas dimulai. Lampu padam dan penonton pun diam.

Senandung-senandung suara alam, yang sarat makna kedamaian, dilantunkan. Proyektor menembakkan gambar hutan hijau yang lebat sebagai latar panggung. Tujuh pemain muncul dari kiri dan kanan secara bergantian. Mereka berjalan kaku, menari, meliuk-liuk, sambil terus bersenandung. Kostum yang digunakan menunjukan bahwa mereka bagian dari pohon. Gabungan suara, pemandangan mata, dan sejuknya AC di dalam gedung mencipta nuansa. Selama beberapa menit, penonton benar-benar merasakan keteduhan dan kedamaian hutan.

Hingga tiba-tiba tujuh pemain itu berkumpul di tengah. Senandung mereka berhenti dan digantikan suara orang tercekik. Imajinasi kita memberitahu jika saat itu batang pohon-pohon besar telah diikat dengan tambang dan siap ditebang. Suara gergaji mesin yang coba dinyalakan, terdengar mati-mati, seakan enggan diajak bekerja. Namun akhirnya gergaji mesin itu menyala juga. Kebisingan pun memenuhi gedung. Di panggung, tiga pemain berkostum jas hujan yang mengkilap muncul berputar-putar seperti piringan gergaji mesin itu. Ketiganya mengitari tujuh pemain yang sudah ada di panggung. Penari-penari roboh ketika terdengar suara-suara pohon tumbang. Hutan gundul dan kayu gelondongan tampak di latar panggung.

Didik Panji, sebagai penulis naskah, sutradara, sekaligus pemain, mengajak penonton untuk mengingat betapa waktu dan kekejaman manusia terhadap hutan, terutama pepohonan, berlangsung sangat cepat. Manusia bergerak di luar akalnya. Hutan, pohon-pohon dianggap tak berguna jika tidak memberikan manfaat secara langsung di depan matanya. Maka atas dalih memanfaatkan alam, pohon-pohon di hutan mulai dimutilasi. Kayu-kayunya diambil untuk diolah menjadi bahan bangunan, meja, kursi, papan tulis, kertas, dan banyak barang lainnya.

Kasus pembakaran hutan dan kabut asap pun tak luput disajikan. Panggung menjadi merah menyala. Hewan-hewan keluar, kebingungan. Latar panggung menampilkan gambar lahan pasca-kebakaran hutan, bergantian dengan pemberitaan televisi mengenai kabut asap. Perlahan-lahan gambar menjadi buram, berkelip-kelip seperti televisi rusak. Rambut gondrong Didik Panji diikat menyatu dengan akar yang menggantung di atas panggung. Ia tampil mewakili pohon-pohon yang sekarat. Suaranya merintih, meregang nyawa seperti suara hantu dalam film Ju-On. Tampak jelas, dia tersiksa.

Melalui pementasan berdurasi 30 menit itu, Didik Panji seakan kembali menyuarakan pernyataan A. Greg, yang sudah lama tidak kita dengar bahwa “the world has a cancer, and the cancer is man.” Sebagai contoh, pada 1976, daerah Riau memiliki 6,6 juta hektar hutan. Luas itu sekitar dua per tiga luas Riau, dengan rincian 2,3 juta hektar produksi, 1 juta hektar hutan lindung, 0,5 juta hektar hutan suaka alam, dan 2,8 juta hektar hutan cadangan.

“Tetapi berselang enam tahun kemudian, apa yang terjadi cukup mencemaskan,” kata UU. Hamidy dalam bukunya Rimba Kepungan Sialang (1987). Pada 1983, hutan lindung, hutan suaka alam, dan hutan cadangan sudah dicaplok oleh 61 pengusaha kayu yang bergerak di hutan-hutan Riau. Di tahun itu pula, Indonesia yang sempat disebut Denys Lombard sebagai daerah cadangan kayu yang utama di dunia justru telah mengimpor kayu gelondongan.

Pentas berakhir ketika latar menampilkan gambar bulldozer dan kayu-kayu diangkut oleh truk. Pemain keluar berjalan berurutan sambil jatuh bangun berulang kali. Sayup-sayup adzan Isya berkumandang. Penonton meninggalkan gedung membawa ingatan tentang penderitaan pohon-pohon dan perusakan alam. Barang kali seperti Saras Dewi, seorang penyair, penyanyi, dan pengajar filsafat lingkungan hidup di Universitas Indonesia yang memiliki pengalaman menyedihkan di sekolah. Pohon Ketapang tempatnya berteduh, menghabiskan banyak waktu di bawahnya, menyantap makan siang, membaca buku-buku, dan mengerjakan tugas-tugas sekolah, ditebang saat kenaikan sekolah.

“Tidak ada satu hari pun terlewat tanpa saya menyesali ditebangnya pohon itu,” kata Saras Dewi, dalam bukunya Ekofenomenologi: Mengurai Disekuilibrium Relasi Manusia dengan Alam (2015). Namun di luar sana, demi uang dan kekayaan, sadisme permutilasian pohon-pohon masih terus berlangsung entah sampai kapan.

Hanputro Widyono

Mahasiswa Sastra Indonesia UNS