GEORGE BARU saja pergi ketika seorang pelayan menyajikan secangkir kopi dan seporsi Selat di mejaku. Makanan yang kata George cukup terkenal di kota ini. Oh iya, sebenarnya aku tidak terlalu suka minum kopi, dan semua temanku tahu itu. Aku pun muak dengan orang-orang yang seringkali berpuisi dengan kopi. Karena aku tahu, jika tidak semua orang-orang itu benar-benar memahami makna dan esensi secangkir kopi. Banyak dari mereka yang hanya bergaya sok indie agar terlihat kekinian dan mengikuti tren yang berkembang. Sungguh memalukan!

 

Sejak remaja, aku lebih suka minum minuman yang beralkohol agar badanku tetap hangat, dan aku akan menempatkan Vermouth di nomor satu dalam list minuman favoritku, baru kemudian Gin. Namun, karena di tempat ini tak terdapat minuman seperti itu, maka aku terpaksa memasukkan kopi ini melalui kerongkonganku. Lagi pula disini suhunya cukup panas, jika aku terlalu banyak mengonsumsi alkohol maka aku akan cepat mabuk. Dan percayalah, mabuk di tempat umum itu sungguh memalukan untuk seorang Alisha Orva, seorang wanita Perancis yang beradab sepertiku!

 

George merupakan seorang teman yang kukenal sejak 2tahun lalu di Paris. Pertama kali aku bertemu dengannya adalah saat aku berlibur ke Louvre Museum pada saat liburan musim panas. Pada waktu itu ia berdiri sendirian di depan salah satu lukisan seorang Italia di era Renaissance. Matanya tajam melihat lukisan tersebut, namun bibirnya tersenyum kecil. Belakangan kuketahui jika ia ternyata seorang Arkeolog. Sebagai seorang pelukis, tentu aku merasa ingin tahu mengenai pendapatnya tentang lukisan tersebut. Kebetulan lukisan yang sedang ditatapnya merupakan lukisanku. Saat kutanya, ia lantas menjelaskan interpretasinya mengenai lukisan tersebut. Seperti yang sudah kuduga, ia pun memiliki selera seni yang bagus dan pengetahuan mengenai seni artistik yang menarik. Bahkan ketika ia tahu jika lukisan yang dijelaskannya tersebut merupakan lukisanku, ia tidak nampak begitu terkejut. Ia cukup elegan. Dan aku suka itu.

 

Sejak saat itu aku sering makan malam dengannya. Rasanya cukup menyenangkan punya teman yang dapat diajak mengobrol tentang suatu hal yang sama-sama kami mengerti. Ia pun juga terkadang menceritakan pengetahuannya mengenai arkeologi, dan aku tak bermasalah dengan itu. Sebagai seorang pelukis, tentu saja aku juga suka dengan arkeologi. George jelas suka membaca buku, begitu juga diriku. Jadi terkadang kami membicarakan suatu buku yang kami baca bahkan ketika kami sedang berada di bar. Setidaknya hal itulah yang kuanggap intelektual, bukan seperti para sarjana ataupun mahasiswa yang seringkali mencericau dengan bahasa yang tinggi di tempat umum namun rendah literasi! Sungguh menjijikkan!

 

Kembali ke meja makan di depanku, Aku baru saja menghabiskan makanan yang kupesan saat George kembali. Ia baru saja pergi untuk mencukur pada saat makananku siap dan sudah kembali pada saat makananku habis. Aku makan dengan cepat karena makanan disini cukup enak, meski sebenarnya lidahku belum seratus persen menerimanya. George cukup kurang ajar memang dengan mengajakku makan siang di tempat seperti ini. Meski masakannya cukup enak, namun tetap saja aku makan tidak sesuai dengan adab makan yang sudah melekat pada orang-orang eropa kebanyakan, terutama diriku. Aku bahkan tidak mendapatkan dessert disini! Dasar kurang ajar kau, George!

 

Dia kembali dengan wajah yang berseri. Wajahnya berbentuk persegi dengan dagunya yang terlihat kokoh dan tampak begitu maskulin setelah ia bercukur. Menurutku ia tampan, namun terkadang menyebalkan. Dia terlihat bahagia, dan aku cukup senang karenanya. Setidaknya tidak seperti beberapa hari yang lalu. Aku masih ingat perasaanya tiga hari yang lalu. Saat itu adalah saat pertama kalinya aku melihat George merasa sangat marah dan terpukul. Sebenarnya kedatangan kami ke negara ini sejak awal adalah untuk berlibur. Namun, karena ia merupakan seorang arkeolog, maka ia pun tentu tak akan melewatkan kesempatannya untuk memulai penelitian kecilnya mengenai apa saja yang berhubungan dengan benda-benda maupun bangunan peninggalan dari masa lalu. Dan ia memilih sebuah reruntuhan candi yang belum direkontruksi sebagai objek penelitian kecilnya, tidak terlalu jauh dengan hotel tempat kami menginap.

 

Waktu itu, dihari kedua kami tinggal di negara ini, George mengajakku untuk berjalan-jalan setelah sehari sebelumnya kami menghabiskan waktu di hotel. Kami tidak terikat oleh hubungan percintaan layaknya seorang pasangan. Namun, kami sepakat hanya memesan satu kamar saja untuk berdua. Entahlah, aku merasa hal itu akan lebih baik, meskipun sebenarnya kami pun tidak bermasalah dengan keuangan masing-masing jika harus memesan dua kamar. Aku tak begitu peduli dengan hal itu. Lagi pula aku ini manusia, bukan? Ya, tentu saja. Aku bukan malaikat yang tak memiliki dosa. Tapi aku ini adalah seorang manusia, yang memiliki nenek moyang di usir dari surga akibat melanggar aturan oleh Tuhan. Bukankah itu suatu perbuatan dosa? Sekali lagi, aku ini adalah seorang manusia. Dan aku tak bermasalah karenanya. Oh iya, apakah aku sudah terlihat agamis? Entahlah, aku tak peduli. Aku memang bukan manusia yang berada di garis keras dalam hal perdebatan agama. Karena sejak kecil aku berpikir jika agama dan kepercayaan lahir akibat perasaan lemahnya seorang manusia, lantas berserah diri pada sesuatu yang gaib yang memiliki kekuasaan lebih dari si manusia dengan jalur agama maupun suatu kepercayaan. Maka, sejatinya agama itu haruslah bersifat pribadi. Bukan dengan memaksakan pada suatu keseragaman dalam sesuatu yang beragam, bahkan di jual belikan oleh suatu kepentingan politik! Oh, maaf. Aku mengigau. Apakah aku terdengar menyedihkan? Yah, semoga saja tidak.

 

Sekali lagi aku minta maaf karena mengigau terlalu jauh. Sekarang mari kembali lagi ke hari kedua setelah kedatangan kami di negara ini. Pagi hari di hari kedua tersebut George mengajakku ke salah satu museum yang memamerkan berbagai lukisan. Ada banyak lukisan bagus di museum ini, dan hampir semua lukisan tersebut merupakan lukisan yang berumur sangat tua. Secara tidak langsung hal itu menandakan jika lukisan tersebut memiliki nilai artistik dan estetik yang tinggi sehingga mampu bertahan melintasi zaman. Tapi anehnya, sekaligus sampai membuatku bergidik, pengunjung yang mengunjungi museum ini hanya sedikit. Aku mulai berpikir, jangan-jangan selera masyarakat di negara ini mulai mengalami penurunan sampai pada tingkat menyedihkan? Bahkan pengunjung yang datang pun tidak seperti George, yang meskipun seorang arkeolog, namun ia mampu menikmati setiap lukisan yang ada atau setidaknya mampu menghargai suatu karya lukisan. Tapi tidak dengan orang-orang ini. Beberapa pengunjung yang datang bahkan tidak berfokus pada lukisannya, tapi pada kegiatan berfotonya! Saat kuadukan hal ini pada George, ia pun berkata jika ia pun merasa muak dengan hal tersebut. Ya, emang benar kata George dan aku setuju padanya. Aku pun juga muak. Sungguh memalukan!

 

Setelah selesai dengan lukisan, George mengajakku ke selatan, tepatnya pada sebuah reruntuhan candi yang berada di tengah hutan. Reruntuhan inilah yang dijadikan George sebagai objek penelitian kecilnya sekaligus dijadikan salah satu objek destinasi wisata kami selama berlibur. Kami memesan taksi dan menghabiskan 1jam lebih perjalanan. Itu pun kami masih harus berjalan kaki sekitar 15menit dari jalan raya untuk sampai pada lokasi candi tersebut. Tentu saja taksi takkan mau mengantar kami sampai ke dalam hutan, bukan?

 

Dalam perjalanan dari jalan raya untuk sampai candi tersebut, George tampak sangat bersemangat. Ia seperti sudah melupakan rasa muaknya di museum tadi.  Sebenarnya paham liberalisme dalam dirinya itu sangat dipegangnya dengan erat, jadi seharusnya ia bisa saja mengabaikan hal-hal yang remeh seperti itu. Namun, jika hal-hal tersebut, yang meskipun remeh, sampai menyangkut seni, sejarah, maupun arkeologi, tiba-tiba saja ia menjadi seseorang yang seolah memegang paham komunisme dengan sangat kuat, dimana sikapnya menjadi menggebu-gebu dan liar. George memang aneh. Sok-sokan idealis! Ia seolah berenang diantara dua karang, yakni diantara liberalisme dan komunisme! Entahlah, aku tak begitu peduli dengan bagian pemikiran George yang ini. Sungguh.

 

Sampai di lokasi tujuan, kami berpisah dalam mengamati reruntuhan bangunan, yang kata George, dulunya merupakan suatu candi. Hal tersebut dikarenakan kami memiliki cara yang berbeda dalam menikmati nilai artistik dalam suatu bangunan, berbeda dengan hal lukisan tentu saja. Sebenarnya kompleks reruntuhan candi itu tidak terlalu luas. Bahkan tergolong sempit. Aku lihat George mengeluarkan kaca pembesar dari sakunya, dan mulai mengamati setiap detail bebatuan yang berserakan dengan harapan menemukan relief. Sedangkan aku dengan kameraku memotret dari berbagai sudut bangunan saja. Aku sengaja menjaga jarak dengan George, karena aku takut mengganggu penelitian kecilnya. Biarkan ahli yang bekerja, bukan amatiran yang bergaya sepertiku! Sebenarnya aku tidak ingin menjadi amatiran, meski sejatinya aku memang amatir dalam hal ini. Namun setidaknya aku tahu diri!

 

Ketika matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat, kami memutuskan untuk kembali ke jalan raya untuk memesan taksi. Kami tak ingin di dalam hutan saat malam tiba. Kami tak mempersiapkan diri untuk situasi tersebut. Tentu saja untuk mencari taksi di tempat seperti ini akan sangat susah. Namun, tadi George memesan taksi tidak hanya untuk keberangkatan, tapi juga untuk perjalanan pulang dan menyuruh sopirnya untuk menunggu di suatu tempat. Jadi, kami hanya tinggal menghubunginya saja agar ia menjemput kami. Sepanjang perjalanan George menceritakan apa yang didapatnya tadi selama di reruntuhan candi tersebut. Ia berkata jika relief yang ada sudah tidak utuh karena banyak batu yang sudah hancur. Dan ada bagain yang lebih miris dari ceritanya. Namun kupikir akan lebih baik aku tak menceritakannya sekarang. Nanti juga kalian akan tahu. Bersabarlah, jangan seperti orang barbar.

 

George berencana mengajakku untuk pergi ke beberapa perpustakaan dan lembaga yang berhubungan dengan data-data mengenai sumber-sumber tentang candi tersebut esok harinya. Oh iya, aku selalu kagum pada cara dia mempersiapkan segala sesuatu. Bahkan sebelum berangkat ke negara ini pun dia sudah mempelajari dua macam bahasa yang nantinya akan berguna untuk liburan dan penelitian kecilnya ini. Ia sudah belajar bahasa nasional dari negara ini dan salah satu bahasa daerah. Otaknya memang seksi, dan aku turut senang sebagai seorang Perancis sepertinya. Aku berpikir, apakah ada orang seperti George di negara ini? Entahlah, aku ragu dengan itu. Jangankan kepakaran, tahu diri saja tidak!

 

Paginya kami berangkat untuk mencari beberapa dokumen yang dapat dijadikan sumber sekaligus data mengenai semua yang berkaitan dengan reruntuhan candi tersebut. Dua hari kami menghabiskan waktu untuk hal ini. Sungguh melelahkan. Namun, tahukah kamu, meski sudah menghabiskan waktu dua hari untuk ini, George mulai tampak berbeda. Ia tampak seperti marah dan sedih pada waktu yang bersamaan. Saat aku mau bertanya tentang apa masalahnya, ia lantas memintaku untuk jangan menanyakan hal itu. Ya, tentu aku tahu. Ia tidak sedang marah padaku. Tapi marah pada suatu hal yang menodai profesi kesayangannya. Tentu saja ini bersangkutan dengan penelitian kecilnya. Ia selalu seperti itu. Aku berpikir, apakah harus sampai segitunya seseorang mencintai suatu profesi? Tampak terlalu ambisius. Tapi disisi lain aku berpikir jika akan lebih baik memang harus seperti itu. Agar dalam bekerja kita jadi lebih terasa ringan dan bermakna. Dan tentu saja hal itu efektif untuk membangun negara menjadi negara maju. Aku tak heran jika banyak orang yang seperti George di negaraku, meski dengan cara yang berbeda tentunya. Jika di negara ini, adakah orang seperti George? Aku akan diam untuk ini. Aku sudah banyak bicara.

 

Paginya, George mengajakku ke suatu instansi pendidikan tinggi untuk bertemu dengan temannya yang seorang dosen yang bergelar profesor. Kami masuk ke suatu kompleks bangunan yang memiliki arsitektur yang mirip satu dengan lainnya. Aku menebak jika ini merupakan kompleks dari suatu fakultas. Tentu saja aku paham. Aku juga seorang mahasiswa di salah satu universitas di Marseille. Hanya saja sekarang aku sedang mengejar gelar master disana. Jadi, aku pun tidak asing dengan lingkungan kampus. Kalian jangan meremehkanku, bodoh!

 

Aku merasa aneh melihat lingkungan di kampus ini, terutama di fakultas yang sedang kukunjungi. Fakultas ini bergerak di bidang humaniora dan berfokus pada sastra. Kata George, kampus ini mengutamakan nilai-nilai budaya dalam proses pendidikannya. Entah aku yang kurang telitu atau apa, tapi sejak dari gerbang masuk sampai ke gedung tempat George menemui si profesor ini, tidak kutemui orang yang duduk membaca suatu buku. Apa jangan-jangan aku yang ceroboh, karena buru-buru menyimpulkan jika sastra akan selalu berbanding lurus dengan literasi, dan literasi tak akan lepas dari buku? Entahlah. Begitu juga dengan pakaian yang dikenakan oleh mahasiswa disini. Setidaknya aku sedikit tahu jika ada pakaian khas yang dimiliki negara ini. Namun, dari ratusan (atau malah ribuan?) mahasiswa yang kulihat, aku bahkan tak keberatan jika harus menghitung jumlah mahasiswa yang mengenakan pakaian khas itu. Intelektualitasku menanyakan, dimana letak nilai budayanya? Aku tahu jika mayoritas mahasiswa mengenakan pakaian bergaya kontemporer. Itu tidak masalah. Bodohnya, aku sempat membandingkan kondisi disini dengan yang ada di Perancis. Astaga, membayangkannya saja sudah membuatku mual! Sungguh miris! Benar-benar memalukan! Setidaknya orang Perancis menghargai budayanya, apalagi untuk seorang Alisha Orva, seorang wanita Perancis yang beradab!

 

George meninggalkanku duduk diluar bersama sebuah buku untuk dibaca selama ia bertemu temannya yang merupakan dosen dan bergelar profesor didalam ruangan. Buku karya Victor Hugo yang berjudul Les Misérables lah yang menemaniku setidaknya selama 4jam. Tentu kalian bertanya, kenapa aku tak pernah melukis atau setidaknya menceritakan kegiatan melukisku? Baiklah, biar kuberitahu, di dalam liburan kali ini aku berniat untuk tidak melukis sejenak. Kau tahu kenapa? Karena nanti setelah aku kembali ke Perancis, aku memiliki setidaknya 8 lukisan yang harus kuselesaikan. Untuk melukis sesuatu, aku akan menghabiskan banyak tenaga dan waktu. Aku ingin berlibur, benar-benar berlibur. Tentu saja aku tidak seperti amatiran atau bahkan pelukis murahan. Tolong jangan samakan diriku dengan pelukis amatiran, bodoh! Karena dalam hal ini aku tidak lagi amatiran! Dan aku juga seorang idealis! Dalam hal melukis tentu saja.

 

Setelah George keluar dari ruangan, wajahnya tampak murung, sedih dan marah sekaligus. Ia memintaku untuk mencarikan restoran untuk makan siang. Aku tahu ia sedang terpukul. Bahkan selama perjalanan di dalam taksi, ia sama sekali tak banyak bicara. Apalagi mengenai penelitian kecilnya. Ia hanya berbicara agar ia terlihat tidak mengabaikanku. Aku sedikit terganggu dengan hal ini. Namun, disaat bersamaan aku juga memahami perasaannya meski aku tak mengira ia akan menderita separah ini. Dia pasti mengajakku untuk segera makan siang karena dia ingin menceritakan apa yang didapatnya tadi selama bertemu seorang temannya yang merupakan dosen bergelar profesor. Apakah aku terlalu berlebihan dengan menyebut gelar teman dari George secara terus menerus? Masa bodoh!

 

Setelah makan siang, George lantas menceritakan segala hal yang ia dapat tadi. Ia mengatakan jika temannya tersebut, yang merupakan seorang dosen bergelar profesor, mengatakan tidak lagi tertarik dengan penelitian kecil yang dilakukan George. Saat aku mendengarnya, aku tak begitu terkejut akan hal itu sebab George belum memberi tahuku apa spesialis sang dosen yang bergelar profesor. Siapa tahu temannya yang merupakan seorang dosen dan bergelar profesor tersebut memiliki spesialis di bidang peternakan? Siapa tahu. Yang jelas George lupa jika ia belum memberi tahuku tentang hal tersebut. George lantas mengatakan jika sang dosen yang bergelar profesor tersebut memiliki spesialisasi dibidang Arkeolog. Pantas saja jika George marah!

 

George mengatakan jika temannya tersebut tidak lagi tertarik dengan penelitian kecil George karena temannya tersebut pernah juga berencana akan melakukan penelitian di reruntuhan candi tersebut. Namun, temannya George yang merupakan seorang dosen bergelar profesor akhirnya membatalkan rencananya untuk meneliti, sebab ia terkendala dalam pengumpulan data. Ia menuturkan jika tanah yang ada disekitaran reruntuhan candi tersebut bukan merupakan tanah yang asli. Maksudnya adalah di era kolonial, tanah sekitaran candi tersebut pernah di ambil untuk kepentingan masyarakat, kemudian di ganti dengan tanah lain. Selain itu, candi tersebut pernah dibakar oleh sekelompok masyarakat karena dianggap merupakan bangunan orang kafir. Dan relief, yang juga George sempat lihat, hancur berantakan selain karena oleh bencana alam, tapi juga sudah dirusak ukirannya dan beberapa telah dicat oleh masyarakat setempat yang iseng dan tak tahu diri. George sangat menyangkan sikap temannya yang merupakan dosen bergelar profesor tersebut besifat pemalas dan pesimistis. Sebagai seorang arkeolog berpengalaman, tentu George tahu jika masih ada kesempatan untuk mengungkap sekaligus merekontruksi dan memperbaiki reruntuhan tesebut. Atau jangan-jangan, George lah yang bersifat terlalu ambisius dan tak tahu diri? Bisa saja. Dia memang seperti itu.

 

Dalam hal ini, aku benar-benar memahami perasaan George. Kami tahu jika negara ini kurang menghargai sejarahnya dan sedang berjalan kea arah industrialisasi. Namun, George, ketika didalam pesawat pada perjalanan kami dari Perancis ke negera ini, pernah bilang jika tidak ada yang benar-benar buruk di dunia ini. Semua penilaian manusia hanya didasarkan pada perspektif si manusia atau dengan kata lain tergantung darimana kita memandang. Tapi tetap saja aku terkejut jika George dapat menderita separah itu. Aku tahu ia kuat, tapi aku tidak tahu jika ia lemah dalam hal ini. Kasihan sekali.

 

Tepat setelah George menceritakan apa yang didapatnya, ia lantas mengatakan padaku jika ia ingin bergegas pulang setelah kami menyelesaikan liburan ke beberapa destinasi wisata yang sudah kami list sebelum berangkat ke negara ini. Ia tampak sangat marah. Entahlah ia marah dengan siapa. Yang jelas bukan dengan temannya yang merupakan dosen bergelar profesor tersebut, bukan denganku, juga bukan dengan masyarakat di negara ini. Untuk pihak yang terakhir tersebut ku ketahui beberapa waktu kemudian saat George bilang jika masyarakat negara ini ramah-ramah. Ku pikir ia kecewa dengan keadaan dari budaya yang berkembang saat ini di negara ini. George pernah bilang jika negara ini memiliki sejarah yang kompleks dan menarik, namun orang-orang di generasi selanjutnya tak mampu membuat eksistensi daripada sejarah negaranya sendiri tersebut untuk dapat tetap lestari dan dikenal oleh masyarakat luas, bahkan dunia. Kupikir itulah sebab George jadi kecewa dan marah. Gara-gara dia, aku juga turut muak melihat kondisi ini. Bagaimana bisa suatu negara yang masih berkembang, lantas memutuskan untuk berjalan kearah industrialisasi, namun sudah belagu dengan mengesampingkan sejarahnya sendiri, kurang begitu radikal dalam melestarikan kebudayaanya sendiri, rendah literasi hingga bahkan seolah negeri ini mengesampingkan keilmuan sastra dan humaniora? Sungguh menyedihkan. Benar-benar menyedihkan.

 

Makan siangku selesai, George juga sudah selesai bercukur. Ia berkata jika sedang tak nafsu untuk makan siang. Sore ini adalah hari keberangkatan kami ke Perancis. Atau lebih tepatnya aku menyebutnya dengan kata, pulang. Ya, kami akan pulang setelah berlibur selama seminggu. Liburan kali ini cukup berarti bagi diriku, sebab aku jadi tahu bahwa di belahan bumi lainnya dari negaraku, masih ada yang belum memahami pentingnya sejarah dari negaranya. Juga masih saja belum radikal dalam melestarikan kebudayaanya sendiri dan bangga dengan kebudayaan kontemporer abal-abalnya. Tak perlu marah, aku juga memiliki kekurangan. Aku ini manusia. Dan manusia bukan makhluk sempurna, bukan? Tentu saja. Aku lemah dalam menjaga perasaanku. Ku pikir aku mencintai George. Meskipun aku tahu, jika George sudah memiliki istri. Entahlah, manusia itu aneh. Begitu juga diriku. Jangan-jangan selama ini akulah yang salah dalam melihat dunia? Biarlah, aku tak terlalu memikirkannya. Yang jelas, aku adalah seorang Alisha Orva, seorang wanita Perancis yang beradab![]

 

 

Damar Aji Pangestu

Penulis

Orang yang kadang tahu diri, kadang enggak. Meski banyak enggaknya sih. Surel: [email protected]