Foto: Regina Dewitri/LPM Kentingan

ALARM KRISIS IKLIM TERUS BERBUNYI MENGHANTUI

Society of Renewable Energy (SRE) UNS membuka tahun 2021 dengan mengadakan acara bertajuk “Climate Talk”. Acara tersebut merupakan rangkaian seminar daring dan talk show yang berlangsung selama empat hari mulai Rabu (27/01) sampai Sabtu (30/01). Sesi pertama yang mengangkat tema “Youth Activism in Climate Movement” menghadirkan dua pembicara yaitu seorang Extinction Rebellion Denmark, Tiem van der Deure; dan Aktivis Pemuda Dayak sekaligus Climate Reality Leaders, Laetania Belai Djandam. Melalui streaming di kanal YouTube SRE UNS, sesi pertama dibuka dengan ucapan bela sungkawa dari Daniel Ardra (Ketua SRE UNS) terhadap kejadian yang menimpa saudara kita di Sulawesi Barat dan Kalimantan Selatan.

Daniel menambahkan bahwa bencana-bencana yang terjadi saat ini serta munculnya pandemi Covid-19 menjadi sebuah alarm untuk kita agar lebih peduli terhadap kondisi lingkungan. Menurutnya, pandemi Covid-19 ini juga memiliki hubungan antara aktivitas manusia dan lingkungan alam yang mendestabilisasi secara cepat. “Bumi kita sedang mengalami kesakitan dan meminta penduduknya untuk bangun dan sadar. Ini adalah waktu dimana kita membutuhkan perubahan dengan cara mengubah gaya hidup kita, beralih ke energi terbarukan, serta meminta pemerintah dan pengusaha untuk lebih peduli dengan lingkungan,” tegasnya.

Ivana Rachel Joy selaku moderatormembuka sesi talk show dengan mengingatkan kembali Perjanjian Paris pada April 2016 lalu. Persetujuan tersebut berkaitan dengan target pemerintah untuk pengurangan karbon dan penekanan ambang batas untuk peningkatan suhu global di bawah 1,5 derajat. Joy juga menyebutkan bahwa salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan dari Perjanjian Paris ini ialah dengan melaksanakan pengurangan risiko emisi gas rumah kaca, khususnya di Indonesia sebagai salah satu negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia yang menghasilkan sekitar 496,4 juta ton pada tahun 2020.

Laetania Belai Djandam kemudian menanggapi dengan membahas tentang strategi penanganan iklim Indonesia yang dapat dikatakan cukup ambisius, namun minim tindakan yang dilakukan. Di sisi lain, Tiem juga memaparkan sekilas bagaimana kondisi penanganan krisis iklim di negaranya. “Di Denmark, kami memiliki Undang-Undang yang mengikat pemerintah untuk mengurangi emisi CO2 sebesar 70% pada tahun 2030, dengan garis dasar tahun 1990. Dan salah satu hal yang sangat penting dari gerakan iklim ini adalah kami menuntut adanya pajak karbon, akan tetapi pemerintah sangat menolaknya. Jadi pemerintahan mengatakan bahwa mereka memiliki ambisi yang sangat tinggi terhadap kepedulian lingkungan, akan tetapi ketika merambah pada penggunaan tools, mereka tidak mau menyetujuinya” ucap Tiem.

Selanjutnya Tiem menjelaskan keadaan pergerakan iklim di negaranya, Denmark. Tiem mengakui bahwa di Eropa sudah banyak orang yang mulai menyadari bahwa perubahan iklim itu nyata terjadi saat ini, terutama di Denmark, dan mereka percaya bahwa ini adalah sebuah permasalahan besar.

Diskusi pun berlanjut membahas seputar hubungan krisis iklim dengan pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini. Belai yang memiliki latar belakang pendidikan kesehatan masyarakat memberikan pandangannya mengenai hal tersebut. “Ada sebuah hubungan yang sangat nyata antara kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan. Kesehatan kita bergantung pada keutuhan lingkungan. Jadi, semakin banyak tekanan yang kita berikan pada alam, maka semakin besar pula pengaruh yang akan kita dapatkan,” ucap Belai.

Sebelum sesi talk show ditutup, Belai menjelaskan bahwa kita harus peduli terhadap lingkungan. “Saya akan sangat mendorong kalian untuk menemukan titik temu antara apa yang kalian pelajari atau apa yang kalian sukai tentang lingkungan. Saya pikir ini sangat penting untuk mengetahui bagaimana kalian dapat memberi pengaruh kepada lingkungan melalui apa yang kalian pelajari atau apa yang kalian sukai,” ucap Belai. Ia juga menyampaikan bahwa tidak hanya generasi muda saja yang secara ekslusif melakukan pergerakan ikim ini, tetapi juga membutuhkan kolaborasi antar generasi agar mendapatkan dampak yang lebih besar.

Senada dengan Belai, Tiem menambahkan bahwa kita harus bekerja sama untuk melakukan gerakan iklim ini. “Untuk kaum muda, jangan kecualikan generasi boomers. Katakanlah pada mereka bahwa sebenarnya kita juga membutuhkan mereka. Beri tahu mereka untuk tidak hanya mengatakan ‘Oh, bagus sekali anak-anak muda yang melakukan begitu banyak hal’, tetapi mereka juga harus menarik kesimpulan dan bergabung dengan gerakan kita,” pungkas Tiem. Ia pun menambahkan bahwa kita harus mengatakan kepada mereka perihal fakta bahwa kondisi alam akan semakin buruk dan terus menurun. Masa depan tidak akan terlihat baik jika kondisi terus menerus seperti ini.

Penulis: Difa Isnaeni
Editor: Aulia Anjani

Difa Isnaeni
Mahasiswi Diploma Penyiaran 2019
[email protected]