Oleh: Ayu Tri H.

Aku menyusuri jalan kota
ketika sang mentari beranjak dari peraduannya,
disusul sang dewi malam
menguasai gelapnya cakrawala.

Gemerlapnya lampu kota
menyibak gelapnya malam
berhiaskan pamflet-pamflet
dan obralan janji para calon petinggi.

Aku melaju dengan motor bututku,
trotoar dikotori dengan kucing-kucing liar,
gelandangan dan aib-aib negariku.

Dan kolong jembatan
peraduan bagi yang tak punya uang.
Semua mata terbelalak dan berteriak
menginginkan perombakan dan pembuktian,
bukan janji manis calon politis.

Ketika orang biasa menjadi penguasa
memasukkan tangan ke dalam saku celana
menutup rapat telinga dan membutakan mata,
orang-orang kecil membabi buta
membuang amlop yang disodorkan
berteriak dalam politik yang berubah haluan
menagih janji yang disuguhkan
tapi berlalu bagai angin yang hanya berputar
di meja-meja lembaga yang tak bertuan.

Inilah aku yang melaju dengan motor bututku,
dan berkata:
“aku adalah mahasiswa
yang menginginkan kemajuan bangsa.
Inilah aku rakyat biasa
yang merindukan pemimpin yang luar biasa.”