Oleh: Satya Adhi

Wajah mereka tertutup. Tapi orang-orang bisa melihatnya.

 

BAGI Khonza Nuur Khazanah, wajah adalah segalanya. Hidung, bibir, pipi, telinga, adalah “kawasan terlarang” yang tak boleh sembarang orang memandang. Maka sejak dua tahun silam, perempuan 19 tahun ini memutuskan untuk menutup wajahnya.

 

Khonza memutuskan untuk ber-niqab.

 

Kami menemui perempuan asal Jakarta ini, Oktober lalu di salah satu kafe masakan Italia, Amerika, dan Meksiko yang terletak di kawasan Pasar Kliwon, Solo. Pakaiannya – kerudung, gamis, rok, dan niqab – berwarna serba hitam. Bros warna perak hinggap di pelipis sebelah kiri. Punggung telapak tangan ia hiasi dengan lukisan henna. Jika anda berbicara langsung dengan Khonza, tatapan pasti langsung terpaku ke matanya yang berhias celak. Karena hanya dua pupil itu yang terlihat dari wajah Khonza.

 

Khonza berkisah, awalnya ia sempat ragu untuk ber-niqab. Tapi terlanjur tergoda oleh para perempuan ber-niqab yang tak pernah digoda di jalan. “Kayaknya adem ngelihatnya. Di jalan [perempuan ber-niqab] enggak pernah digodain,” ujar Khonza.

 

Keraguan yang sempat muncul justru menjelma nyata. “Banyak orang-orang yang menuduh, memfitnah gitu. Sering ditanyain ‘Mbak teroris ya?’” aku Khonza. Ia tak emosi. Paling-paling curhat ke umi. Sang umi ini juga ber-niqab.

 

Sekarang, mahasiswi jurusan Farmasi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta ini mengaku sudah istiqomah dalam ber-niqab. Ia merasa aneh bila harus melepas kain niqab-nya. Bahkan di rumah sendiri, saat ada teman perempuan yang berkunjung, ia merasa ada yang hilang dari wajah ketika kain niqab tersingkap. “Rasanya beda,” lanjut Khonza.

 

Niqab telah menjadi “wajah” baru Khonza.

 

Khonza sendiri kami temukan dari akun Instagram @cadarniqab. Sebuah akun yang menghimpun para perempuan bercadar alias niqab yang memiliki instagram dan aktif mengunggah foto diri mereka.

 

Pada deskripsi akun dituliskan, “Foto perempuan bercadar untuk menginspirasi muslimah. AKHWAT ONLY..DM or Tag foto kamu.” Hingga 2 November 2016, tercatat @cadarniqab memiliki 50 unggahan, 516 pengikut, dan mengikuti 107 akun. Foto-foto bercadar di akun ini variatif. Rata-rata swafoto. Ada yang bergamis hitam, ada yang merah muda, putih, dan lain-lain. Yang bergaya memakai topi atau kacamata hitam pun ada.

 

Khonza justru tak tahu ihwal akun @cadarniqab. Yang pasti, Khonza memiliki akun Instagram, salah satu media sosial yang ia ikuti selain Facebook, Whatsapp, dan Path. Di akun Instagramnya, @khonzaa42, tercatat ia sudah mengunggah 96 gambar, memiliki 323 pengikut, dan mengikuti 665 akun. Foto-foto Khonza di Instagram beragam. Mulai dari foto makanan, kata-kata mutiara, sampai swafoto bergaya. Kalau anda mau kepo-kepo, barangkali harus sedikit bersabar. Soalnya, akun Instagram milik Khonza ia privasikan.

 

Kalau kurang sabar, anda bisa menemukan Khonza-Khonza lain di dunia maya. Itu bukan perkara sulit. Silakan ketik di kolom pencarian Instagram: #cadar. Cling! Dalam sekejap, muncullah perempuan-perempuan yang berfoto dengan “wajah” baru mereka.

 

Menuju Populer

 

Hal tak jauh berbeda disampaikan Lu’lu’luay Lathifah. “Iya, iya. Malah jadi lebih malunya itu kalo dilepas. Merasa gimana gitu,” kata Lu’lu’ saat ditanya ihwal kain niqab yang dia pakai. Ia masih 17 tahun. Berbeda dengan Khonza, ia baru mulai ber-niqab Januari lalu. Persamaannya: Niqab juga menjadi “wajah” baru bagi Lu’lu’.

 

Lu’lu’ kini tinggal di Taman Kanak-kanak Islam Terpadu (TKIT) Al-Furqon, di kawasan Jurug. Sebenarnya Lu’lu’ berasal dari Semarang. Kemudian ia hijrah ke Solo dan tinggal di TKIT Al-Furqon – juga sejak Januari lalu.

 

Pertemuan Lu’lu’ dengan niqab berawal dari sebaran pesan di Whatsapp. Temannya menyebarkan pesan ajakan untuk mendaftar ke Manhatz Tahfiz Ar-Robabani di Karanganyar. Lantas, mendaftarlah Lu’lu’ ke Manhatz tersebut. “Terus ana coba nge-chat ustaznya buat daftar,” katanya.

 

“Bi, ana daftar lho kesini [Manhatz Tahfiz Ar-Robabani],” ujar Lu’lu’ saat memberi tahu abi alias sang ayah.

 

Abi-nya terkejut. “Kamu beneran mau ke sana dari Semarang?” ungkap Lu’lu’ menirukan ucapan sang abi.

 

Masa awal ber-niqab dirasakan Lu’lu’ sebagai masa-masa yang cukup berat. “Pernah sih, awal-awal saya enggak berani ke rumah pake niqab. Jadi sampe Semarang dilepas,” akunya. Sama seperti Khonza, Lu’lu’ juga sering mendapat cap buruk dari orang-orang sekitar. “Dulu sempet dibilang, ‘Ih, ninja, lu!’ sama saudara sepupu saya.”

 

Namun tiga bulan belakangan, Lu’lu’ sudah istiqomah. Di salah satu foto Instagram, ia bahkan sempat menjadi model produk tas rajut buatannya. Tak percaya? Sila cek ke akun @luay_lathifah. Tenang, yang ini tidak diprivasikan kok.

 

Sementara itu, menurut penelitian dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Diponegoro, Lintang Ratri pada 2011, media menjadi salah satu pihak yang bertanggung jawab terhadap stigma negatif yang menempel pada perempuan ber-niqab. “Cadar masih menjadi barang asing yang menakutkan. Hal ini didukung stigma-stigma yang dikeluarkan media, di antaranya ‘istri teroris,’ ‘islam garis keras,’ ‘islam fanatik,’” tulis Lintang.

 

Berbeda dengan jilbab yang sukses masuk ke budaya lokal, menurut Lintang, “cadar belum mampu menembus media massa, tempat produksi budaya-budaya populer.”

 

Belum populernya cadar atau niqab dibandingkan dengan hijab, bisa dilihat dari jumlah kiriman di Instagram. Kiriman yang ditandai dengan #cadar baru terhimpun 139.922 kiriman, sementara #niqab sebanyak 252.182 kiriman. Bandingkan dengan #hijab. Hingga tulisan ini diterbitkan, #hijab berhasil menghimpun 17.317.710 kiriman di Instagram.

 

Lantas, apa makna para perempuan ber-niqab yang dengan luwes mengekspresikan keislaman mereka dengan mengunggah foto diri di ruang maya? Silakan simpulkan sendiri.

 

 

 

PEMIMPIN Redaksi majalah La Civilta Cattolica, Antonio Spadaro, pernah menuliskan tanggapannya soal teknologi informasi yang mewabah hingga ke ranah agama. Saat itu, Maret 2016, Paus Fransiskus baru saja membuka akun Instagram dan mulai menyebarkan foto-foto diri ke ruang maya. Spadaro lantas mengatakan, “photo-sharing adalah peristiwa yang sangat personal, karena merupakan tindakan membagikan sebuah bagian dari hidup yang sedang dihidupi.” Ia juga mengatakan bahwa kamera pada ponsel adalah penemuan revolusioner yang mengubah gaya hidup manusia – termasuk dalam ekspresi keagamaan.

 

Coba saja tengok di novel The End of Manners karya Fransesco Marciano yang terbit pertama kali pada 2007. Syahdan di awal tahun 2000-an, Maria Galante dan rekannya, Imo Glass, tengah menjalankan misi penting bagi karir jurnalisme mereka: Menulis kisah para perempuan yang berusaha membakar diri mereka sendiri akibat dipaksa menikah. Maria sang fotografer bersama Imo yang seorang reporter, harus menjalani liku kehidupan pasca perang di Kabul, Afghanistan.

 

Mengapa para perempuan itu berani melawan budaya patriarki yang mengurung mereka? Pertanyaan ini terjawab saat Maria dan Imo tiba di bandara Kabul. Mereka berdua disambut tiga poster besar. “Yang pertama adalah potret Presiden Hamid Karzai yang mengenakan kopiah astrakhan dan berukuran sangat besar…. Poster kedua adalah potret yang lebih besar lagi, pahlawan besar Afghan Komandan Jenderal Massoud, Singa dari Panjshir, pemimpin pemberontak melawan Taliban,” tulis Marciano.

 

Poster ketiga menjadi yang paling besar. Marciano mengisahkan, “yang ketiga, poster yang benar-benar raksasa, adalah iklan untuk Roshan, perusahaan ponsel, menyambut para penumpang yang datang ke negeri Afghanistan yang baru.” Yang lucu, waktu itu Kabul belum dialiri listrik secara masif, namun ponsel sudah diperjualbelikan. “Revolusioner!” Kalau kata Spadaro.

 

Tokoh-tokoh dalam novel itu memang fiksi. Tapi bila anda membacanya sampai habis, anda akan menemukan kesamaan antara perempuan-perempuan Kabul yang dikisahkan Marciano, dengan perempuan-perempuan seperti Khonza dan Lu’lu’. Mereka sama-sama menutup wajah mereka.

 

Bedanya, Khonza dan Lu’lu’ memiliki “wajah” baru, sementara perempuan Kabul justru menjadi Perempuan-Perempuan Tak Berwajah (Ini judul terjemahan Indonesia untuk The End of Manners). Khonza dan Lu’lu’ menutup wajah karena sukarela, lalu mengunggah “wajah” baru mereka ke ruang maya. Sementara para perempuan di Kabul dengan terpaksa menutupkan kain ke wajah mereka, lalu ketakutan saat menghadapi kamera.

 

Simak saja bagaimana takutnya para perempuan Kabul saat wajah mereka terancam “dipandang” orang banyak.

 

“Aku mengeluarkan salah satu kameraku dan mengangkatnya sebentar sehingga mereka dapat membiasakan diri dengan kehadiran benda itu. Setiap wanita memandang ke arahku dan menatap benda di tanganku. Aku bersikap seakan-akan aku tidak menyadari perhatian mereka dan mulai mengutak-atik lensa,” tulis Marciano saat mengisahkan kegagalan Maria Galante memotret wajah para perempuan Kabul.

 

“Tetapi pada waktu itulah seorang wanita berkulit pucat dan berwajah seperti seorang pesakitan, lebih tua daripada yang lain, meneriakkan sesuatu. Dia menunjuk pada kamera dan dalam sekejap aku merasakan angin kebencian yang sama di seluruh ruangan itu….”

 

Maria Galante gagal mengabadikan wajah perempuan Kabul ke dalam lensa kamera. Sementara Khonza dan Lu’lu’ dengan sukarela mengabadikan “wajah” mereka dengan bantuan kamera.

 

Takwa Plus Gaul

 

Musik masih menggema di kafe yang kami singgahi sore itu. Selain kami dan Khonza, ada sekira empat sampai enam pengunjung lain yang nongkrong di sana. Khonza sendiri masih menuturkan kisahnya sambil sesekali menyeruput minuman yang ia pesan. Sepotong bolu redvelvet tak lupa menjadi “teman” obrolan. Untuk mengisi perut, kain niqab harus diatur terlebih dahulu, baru sendok berisi potongan bolu ia masukan ke sela-sela bibir. Dan yang paling penting, wajahnya harus tetap tertutup.

 

Khonza ternyata mulai membuat akun di media sosial sejak SMA. Waktu itu ikut-ikut teman saja. Sejak ber-niqab, praktis foto-foto lama yang menampilkan wajah telanjangnya harus dihapus. Sejak itu pula Khonza terbilang gemar berfoto dengan wajah tertutup niqab. “Wajah” barunya. Terkait pergaulan di media sosial pun Khonza terbilang luwes. “Kalau ada teman laki-laki yang saya kenal, ya saya follback.”

 

Dia melanjutkan, “sebenarnya ustaz saya pernah bilang, ‘jangan upload-upload foto lagi. Nanti kalau digunakan untuk hal-hal yang tidak baik bagaimana?’ Tapi kalau enggak di-upload [ke media sosial] mau ditaruh di mana lagi?” tambah gadis yang menggemari baju gamis berwarna hitam ini.

 

“Jadi, apakah dengan meng-upload foto ke media sosial, ada keinginan untuk menjadi takwa sekaligus…?” Pertanyaan yang kami ajukan belum selesai. Tapi Khonza keburu menyela.

 

“Sekaligus hits? Iya,” jawabnya lugas.

 

Omongan tersebut bukan pepesan kosong. Khonza masih menghabiskan bolu pesanannya, sementara kami pamit terlebih dahulu. Beberapa menit kemudian, Khonza mengunggah dua foto baru di akun Instagram. Satu foto menampilkan bolu yang tersisa di atas meja kafe yang kami singgahi, sedangkan foto kedua menampilkan foto Khonza yang diambil dari samping, mengenakan kerudung dan niqab warna hitam. Bros warna perak masih hinggap di pelipisnya.

 

Cling! Kini semua pengunjung ruang semu – termasuk anda – bisa memandang “wajah” baru Khonza. Tentunya kalau permintaan following anda sudah diterima.[] (Penyumbang bahan: Fera Safitri)


Satya AdhiSatya Adhi. Mahasiswa yang gemar berjalan kaki (sendiri). Surel: [email protected]

 

 

 


sampulEditorial                      : Mazhab Masa Depan

Laporan Khusus       : Hijab dalam Pergolakan Makna

Laporan Khusus       : “Wajah” Baru di Ruang Semu

Laporan Khusus       : Maniak Selawat Bernama Syekhermania

Infografis                    : Perkembangan Islam Pop di Indonesia

Catatan Kentingan   : Islam dalam Kepungan Budaya Pop