Oleh: Udji Kayang Aditya Supriyanto

Apakah telah sedemikian lemah imannya sehingga kecantikan jasadi telah sedemikian mudah menyihir dirinya. Ia beristighfar dalam hatinya. Berkali-kali ia meminta ampun pada Dzat yang menguasai hatinya” (Habiburrahman El-Shirazy, Ketika Cinta Bertasbih, 2007).

KEPUTUSAN mengadaptasi novel Ketika Cinta Bertasbih (2007) dalam format film adalah kesalahan besar. Alih-alih menjaga kemurnian novelnya itu, Habiburrahman El-Shirazy (atau yang akrab disapa Kang Abik) malah turut terlibat dalam pembuatan film Indonesia terlaris di tahun 2009 tersebut. Para pembaca paham betul, novel mazhab FLP (Forum Lingkar Pena) senantiasa mengedepankan karakter tokoh di samping cerita yang disajikan. Penguatan karakter tokoh tersebut dimaksudkan untuk memberi teladan bagi pembaca ihwal akhlaqul karimah, dalam moralitas Islam tentunya.

Namun, akhlaqul karimah alias akhlak baik tidak bisa dicari dalam kitab suci, melainkan pada praktik hidup sehari-hari. Oleh karena itu, setiap agama umumnya memiliki nabi. Dalam Islam, Muhammad adalah nabinya, dan para sahabat menyebut Muhammad sebagai manusia yang akhlaknya adalah Al-Quran. Kitab suci memang tak cukup, sekalipun ia punya daya magis dalam dirinya. Toh kitab suci sekadar teks. Kitab suci, sebagai teks, masih perlu ditafsir. Kemudian, mesti ada sosok yang jadi personifikasi teks dan tafsir itu, dan dalam konteks Al-Quran tentu saja Muhammad. Artinya, menjadi Muslim yang baik sebetulnya cukup sederhana: teladanilah Nabi Muhammad.

Upaya memfilmkan novel Ketika Cinta Bertasbih tak ubahnya mencari nabi untuk merepresentasikan karakter tokoh-tokohnya, seperti Abdullah Khairul Azzam, Anna Althafunnisa, M. Furqon Andi Hasan, Eliana Parmesthi Alam, Ayatul Husna dan lain-lain. Untuk mencari representasi akhlaqul karimah ala karakter novel Kang Abik itu, digelar audisi dengan beberapa syarat: (1) laki-laki berusia 18-30 tahun dan perempuan 16-25 tahun, (2) WNI dan bisa berbahasa Indonesia dengan baik, (3) penguasaan isi novel Ketika Cinta Bertasbih, (4) berpenampilan menarik dan proposional, (5) bisa membaca Al-Quran dengan baik, dan (6) tidak terikat kontrak dengan pihak lain.

Audisi pemeran film Ketika Cinta Bertasbih tentu perlu ditangani secara khusus, sebab itu film religius. Bisa saja Pamela Safitri atau Nikita Mirzani memerankan tokoh Anna Althafunnisa cukup dengan dijilbabi. Bisa, kalau hanya mempertimbangkan keakatoran dalam memerankan seseorang, tapi tak sesederhana itu. Film religius punya konsekuensi jangka panjang. Para pemeran film tersebut mesti punya komitmen menjaga akhlak baik yang sempat ia tampilkan dalam film. Tentu saja semua orang tahu bahwa dalam film ia sekadar berakting, yang tak pernah lebih dan tak mungkin kurang.

Dari enam syarat audisi pemeran film Ketika Cinta Bertasbih, hanya poin nomor 5 yang bernada religius: bisa membaca Al-Quran dengan baik. Pertanyaannya, apakah kemampuan membaca Al-Quran tersebut menjadi standar kesalihan, atau sekadar untuk memudahkan adegan mengaji, biar tak perlu lipsync? Kita tidak tahu. Kita hanya tahu bahwa audisi tersebut berhasil melahirkan bintang-bintang baru seperti Kholidi Asadil Alam (pemeran Abdullah Khairul Azzam), Meyda Sefira (Ayatul Husna), Andi Arsyil Rahman (M. Furqon Andi Hasan), dan tentunya Oki Setiana Dewi (Anna Althafunnisa).

Dua nama kini sekadar kita kenang, sebab Kholidi Asadil Alam dan Meyda Sefira jarang muncul di televisi. Lain hal dengan Andi Arsyil Rahman yang fasih memerankan suami Rumana dalam sinetron abadi tanpa ujung, Tukang Bubur Naik Haji. Oki Setiana Dewi lebih tenar lagi, ia ajek mengisi acara pengajian di televisi. Di luar layar kaca pun, Oki tetap eksis. Ia menulis beberapa buku, yakni: Melukis Pelangi (2012), Cahaya di Atas Cahaya (2012), Sejuta Pelangi (2012), Dekapan Kematian (2013), dan Hijab I’m in Love (2013).

Meneladani Oki

Dari Oki, para muslimah muda Indonesia belajar berjilbab. Dari Oki pula, mereka belajar bersikap, membentuk dirinya sebagai pribadi yang salihah. Oki bak wujud ideal muslimah Indonesia masa kini, dan kita tidak boleh mengabaikan pengaruh film Ketika Cinta Bertasbih pada dirinya. Karakter Anna Althafunnisa yang diperankan Oki sukses mencitrakan sosok muslimah sejati. Bagaimana cara Anna berbicara, berperilaku, dan berinteraksi dengan lawan jenis dalam film tersebut memberi keteladanan. Ketika Cinta Bertasbih menyajikan Oki dalam wujud akhlak baik seorang Anna, tapi kini, Oki hadir pada kita mengedepankan “wajah”.

Pertama, kita perlu mengingat dalam format apa mulanya publik mengenal Oki? Sebagai pemeran Anna Althafunnisa tentu saja. Tapi, di mana Anna tampil? Apa yang pertama ditangkap dari seorang Anna? Dalam film, dan wajahlah yang pertama kali Oki hadirkan dalam sosok Anna. Sejauh film Ketika Cinta Bertasbih belum dibikin, Anna memang cuma punya karakter, sifat, dan hal abstrak lain, tapi belum punya wajah. Itu sebab mengapa upaya memfilmkan Ketika Cinta Bertasbih adalah kesalahan. Kini, saat orang membaca novel tersebut, ia tak bisa melenyapkan bayangan Oki dari tokoh Anna, karena Anna sudah diwajahkan oleh Oki. Tapi mau bagaimana lagi, tidak ada orang yang dapat membunuh wajah (Thomas Hidya Tjaya, dalam F. Budi Hardiman, dkk., 2011: hlm. 101).

Telanjur tenar sebagai “wajah”, sebagaimana artis kebanyakan, buku-buku yang ditulis Oki pun lantas memajang wajahnya di sampul depan. Dari lima buku karya Oki yang disebut sebelumnya, tiada satu pun yang tanpa wajah Oki. Majalah-majalah Islami juga tanpa segan memajang wajah Oki di sampulnya, terutama majalah islami khusus muslimah. Tapi, kita jangan langsung menyalahkan Oki hanya karena wajahnya ramai dipajang. Belum tentu Oki yang salah. Ingat, Oki itu ustazah, mustahil dengan kemauan sendiri ia pajang wajahnya di banyak tempat. Kata Felix Y. Siauw, itu ‘ujub!

Kita berprasangka baik saja. Sebagaimana kita enteng menyebut Nikita Mirzani sebagai korban prostitusi artis, maka kita harus memaklumi Oki Setiana Dewi sebagai korban komersialisasi wajah. Toh, dengan itu, apa yang mengagumkan dari perempuan bukan lagi payudara dan lekuk tubuh telanjang. Cukup melihat wajah Oki, kita sudah senang. Ada hikmahnya bukan? Selain itu, muslimah muda peneladan Oki kini semakin percaya diri memajang wajahnya di Instagram, terutama ukhti-ukhti mahasiswi tingkat akhir yang kebelet nikah. Dengan memajang wajahnya, ukhti-ukhti tersebut akan mudah dihampiri lelaki yang bakal mengkhitbahnya. Wajah adalah “identitas persis seorang pengada” (Emmanuel Levinas, 1998: 33). Lha nggih. []


Udji KayangUdji Kayang Aditya Supriyanto. Pengagum ukhti cantik, kurus, berkacamata dan suka membaca buku (selain Tere Liye).