Oleh: Fera Safitri

Judul               : Student Hidjo

Pengarang      : Mas Marco Kartodikromo

Penerbit         : NARASI

Cetakan II       : 2015

Tebal              : 140 hlm., 14,5 x 21 cm

ISBN                : 979-168-239-9

“Pada dasarnya sesuatu yang asing hanya akan menempati dua garis nasib. Yaitu akan menjelma menjadi hal yang amat istimewa. Atau justru sebaliknya, dijauhi dan dianggap berbeda.”

PEMBACA tentu paham, bahwa manusia-manusia Indonesia sangat membanggakan berbagai macam produk asing. Mulai dari sepatu, gawai (itu pasti), bahasa dan tak terkecuali pula dengan orang asing. Ah, yang terakhir ini menarik!

Dalam novel ini, Mas Marco Kartodikromo menghidupkan tokoh Hidjo pada era kolonial Belanda. Era di mana hegemoni atas pribumi tidak hanya soal tanam paksa atau kerja rodi. Tapi era di mana hegemoni budaya – seperti yang dikatakan Gramsci – menjadi sabda kolonialisme ampuh yang mengakar dalam jiwa manusia Indonesia sampai sekarang. Hidjo sendiri adalah seorang pribumi Jawa kebanyakan, yang sering dipandang rendah di negerinya sendiri. Hingga pada suatu ketika ia pergi ke Belanda untuk melanjutkan sekolahnya.

Setibanya di sana ia merasa lain, merasa luar biasa. “Bukan luar biasa karena bagusnya pakaian orang-orang yang ada di situ. Tetapi luar biasa karena mulai saat itu Hidjo bisa memerintah orang-orang Belanda” (hlm. 41). Setelah menjadi kaum yang tersubordinasi, Hidjo memiliki kuasa lebih atas orang-orang kulit putih yang menindas dirinya. Hanya karena dia keluar dari teritorialnya menuju wilayah Belanda. Di Hindia, orang Jawa bukanlah siapa-siapa. Mereka hanya bangsa budak bagi pemerintah kolonial. Hidjo yang seorang Jawa, lantas berteriak kegirangan dalam hati. Dia yang direndahkan di negerinya, justru diperlakukan istimewa di tempat yang asing. Seketika pandangan Hidjo berubah menjadi pandangan kolonial. Ia memanfaatkan perlakuan istimewa yang diterimanya. “…Hidjo tertawa dalam hati melihat keadaan serupa itu. Karena ia ingat nasib bangsanya sama dihina oleh bangsa Belanda.” (hlm. 41).

Di tempat yang berbeda, Mas Marco menyuguhkan tokoh lain dengan keadaan yang serupa. Kali ini seorang Belanda yang datang ke Hindia. Namanya Willem Walter, seorang controleur (pegawai pemerintah Belanda). Ia juga seseorang yang keluar dari daerah tertorialnya menuju wilayah bangsa lain, Hindia Belanda. Mungkin ia bukanlah figur Belanda yang biasanya diceritakan sebagai orang Eropa yang kejam dan diskriminatif. Marco menggambarkannya sebagai seorang Belanda yang lain. Yang mencintai Hindia beserta budaya-budayanya. Bahkan dalam beberapa percakapan ia menggunakan bahasa Jawa. Walter terlihat sangat mencintai Jawa. “Sungguh semua orang yang ada di pendopo kabupaten amat senang, sewaktu mereka mengetahui controleur sudah berganti pakaian adat Jawa. Mereka menduga bahwa pakaian adat itu seakan-akan menunjukan bila controleur itu berhati Jawa” (hlm. 65).

Walter menjadi simbol orang asing yang memiliki ketertarikan dengan masyarakat inlander. Berbeda dengan mata Hidjo seusai tiba di Belanda, mata Walter bukan mata kolonial. Tapi perlakuan yang ia terima, masih saja perlakuan manusia-manusia budak yang telah diracuni sabda-sabda kolonialisme. Hingga kini pun, Walter-Walter lain di negeri ini selalu dipandang bak jenderal kolonial yang harus ditaati. Para bule di negeri ini selalu diistimewakan. Tak jarang manusia Indonesia yang paling cuek sekalipun bisa menjadi sosok yang ramah tamah ketika bertemu dengan mereka.

Kalau Walter-Walter kontemporer masih berkeliaran, Hidjo-Hidjo abad 21 malah punah. Tidak ada manusia Indonesia yang bermata kolonial ketika berhadapan dengan orang asing.

Beberapa hari lalu di televisi, bahkan beberapa artis yang memiliki popularitas dan memiliki kekayaanpun masih tetap bangga ketika mereka berfoto dengan para bule, penduduk asli negeri tersebut. Sedangkan, artis-artis ini tak peduli siapa bule yang mereka ajak foto. Entah itu pejalan kaki yang kebetulan lewat, atau pengamen pinggir jalan tak jadi persoalan.

Ketika sudah menjadi turis, maka seharusnya kita bersikap seperti Hidjo yang cerdas, mengubah matanya menjadi mata kolonialisme ketika sampai ke negeri asing. Toh kalau tidak ada kebutuhan mendesak, tak usahlah bersikap sok seperti orang asing di negeri sendiri. Pakaian dari orang asing, kendaraan dari orang asing, bahkan misuh pun pakai bahasa asing. Jika mas Marco mengetahui fenomena ini, mungkin ia akan mempertanyakan atau malah mencurigai, “jangan-jangan bangsa ini memang menyediakan dirinya untuk jadi slaafsch (budaknya) para kolonial saja?”


Vera SafitriFera Safitri. Sosiologi UNS 2015. Memaksa ingin dipanggil Vera (dengan huruf V) meski dalam Akta Kelahirannya tertulis Fera. Surel: [email protected]