Program studi (Prodi) Hubungan Internasional (HI) UNS bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMATERS) UNS mengadakan kuliah umum pada hari Jumat (4/3) di aula FISIP UNS. Kuliah umum yang berjudul “Praktek Diplomasi & Kerjasama Di Kawasan Bergolak” ini turut pula dihadiri para mahasiswa HI Universitas Slamet Riyadi (UNISRI). Kuliah umum ini merupakan bagian dari agenda bulanan yang diadakan oleh prodi HI UNS.

Berdasarkan keterangan kepala prodi HI UNS, Prof. Dr. H. Andrik Purwasito, DEA, agenda bulanan ini bertujuan untuk menjalin kerjasama dengan institusi akademik di luar negeri. Andrik juga memaparkan bahwa tahun lalu, HI UNS berhasil membuat 5 Memorandum of Understanding (MoU) dengan 3 negara.  Selain itu, agenda bulanan ini juga bertujuan untuk menambah pengetahuan mahasiswa HI tentang permasalahan dunia internasional. “Setiap bulan, HI UNS mengadakan sebuah agenda rutin berupa kuliah umum yang mengundang pakar-pakar bertaraf internasional dengan tujuan untuk menambah informasi tentang masalah hubungan internasional.” terang Andrik, saat ditemui LPM Kentingan beberapa saat usai acara tersebut.

Hal ini terbukti dengan dengan diundangnya duta besar Indonesia untuk Suriah, Drs. Djoko Harjanto, MA sebagai narasumber dalam kuliah umum kali ini. Sebagai duta besar, Djoko bercerita mengenai daerah Suriah yang saat ini sedang mengalami konflik dan pengalaman selama berada di sana. Djoko yang juga pernah ditempatkan di daerah konflik lainnya, Bosnia-Herzegovina, menceritakan bagaimana seorang diplomat ataupun duta besar harus bertindak di situasi yang berbahaya. Beliau juga membeberkan tentang bagaimana tugas-tugasnya sebagai duta besar di Suriah maupun saat menjadi diplomat.

Fahda Kurnia Dimas Putra, mahasiswa HI UNS mengaku banyak mendapatkan wawasan baru mengenai konflik Suriah dan daerah-dearah bergejolak. “Ya, aku mendapatkan banyak informasi baru mengenai konflik faktual dan aktual di daerah konflik tersebut.” terangnya.

Daerah Suriah merupakan daerah yang sedang mengalami konflik sejak dimulainya Revolusi Musim Semi Arab pada 2010. Yaitu tuntutan masyarakat Arab untuk demkoratisasi negara-negara Arab. Konflik ini disebabkan oleh keinginan masyarakat Suriah untuk menggulingkan kepemimpinan Bashar al-Assad yang sudah berkuasa selama lebih dari 15 tahun. Bashar al-Assad yang diprediksi dapat digulingkan 3 bulan setelah Revolusi Musim Semi Arab, ternyata mampu bertahan hingga saat ini.

Panji Satrio